Ada rasa capek nan asing setelah menutup rapat virtual padahal sepanjang sesi kita hanya duduk tak bersuara di depan layar. Tidak ada peralatan nan diangkat, tidak ada langkah nan ditempuh, tapi tubuh terasa seperti lenyap kerja seharian penuh. Kalau kita pernah mengalaminya, kita tidak sendirian.
Sejak bumi kerja dan sekolah beranjak ke layar, ada satu keluhan nan terus muncul di mana-mana: capek. Bukan capek bentuk lantaran angkat-angkat barang, tapi capek nan asing capek meski hanya duduk di depan laptop selama satu-dua jam. Fenomena ini punya nama: zoom fatigue, kelelahan nan muncul akibat terlalu sering berkomunikasi lewat platform video seperti Zoom, Google Meet, alias Teams.
Ironisnya, teknologi nan katanya "mendekatkan nan jauh" ini justru diam-diam membikin kualitas komunikasi kita menurun. Rapat jadi lebih pendek fokusnya, obrolan jadi kaku, dan basa-basi hangat sebelum meeting dimulai nan dulu jadi ramuan krusial dalam relasi kerja perlahan lenyap digantikan simbol "waiting for host to start the meeting".
Salah satu perihal nan jarang disadari orang adalah sungguh melelahkannya memandang wajah sendiri terus-menerus selama panggilan video. Di bumi nyata, kita tidak pernah berkaca sepanjang hari sembari ngobrol dengan orang lain.
Tapi di Zoom, kotak mini berisi wajah kita sendiri selalu ada di sana, dan otak kita otomatis mengevaluasi diri sendiri terus-menerus apakah rambut rapi, apakah ekspresi terlihat aneh, apakah pencahayaan bagus.
Jeremy Bailenson, kepala pendiri Virtual Human Interaction Lab di Stanford University, membahas persoalan ini dalam tulisan ilmiahnya di jurnal Technology, Mind, and Behavior.
Menurutnya, otak manusia dipaksa bekerja jauh lebih keras saat video call dibanding percakapan tatap muka biasa, lantaran tubuh masuk ke semacam kondisi siaga berlebihan nan terus-menerus menguras daya mental pengaruh dari tatapan mata jarak dekat nan berkepanjangan, plus keharusan melebih-lebihkan gestur mini seperti anggukan alias lambaian tangan agar terlihat jelas di kamera.
Riset ini kemudian dikembangkan lebih jauh oleh tim nan sama berbareng Geraldine Fauville dan koleganya, nan pada tahun nan sama menerbitkan Zoom Exhaustion & Fatigue Scale di jurnal Computers in Human Behavior Reports instrumen ukur nan memetakan kelelahan akibat video call ke dalam lima dimensi: kelelahan umum, sosial, emosional, visual, dan motivasional. Semua itu terdengar sepele satu per satu, tapi jika dikalikan delapan jam kerja per hari, tidak heran jika tubuh terasa remuk meski hanya duduk diam.
Empati nan Perlahan Menguap di Balik Layar
Di luar soal teknis dan kognitif, ada persoalan nan lebih dalam komunikasi virtual pelan-pelan mengikis empati. Stefan Stieger, David Lewetz, dan David Willinger dari Karl Landsteiner University of Health Sciences, Austria, meneliti perihal ini lewat studi experience-sampling nan dipublikasikan di jurnal Scientific Reports, terhadap lebih dari 400 partisipan di negara-negara berkata Jerman selama masa lockdown pandemi.
Temuan mereka menarik: komunikasi digital, termasuk video call, rupanya jauh kurang berkontribusi terhadap kesehatan mental dibanding percakapan tatap muka langsung apalagi meski video call menyediakan lebih banyak isyarat visual dan audio dibanding chat teks biasa.
Mereka menjelaskan bahwa dalam komunikasi nan minim isyarat sosial, musuh bicara condong dipersepsikan kurang empatik dan kurang hangat, sehingga kehadiran sosial nan utuh tetap jadi komponen krusial untuk membangun hubungan interpersonal nan sehat.
Kalau dipikir-pikir, ini masuk akal. Coba bandingkan rasanya menenangkan kawan nan sedang berduka lewat video call dengan memeluknya langsung. Atau membahas masalah pekerjaan nan sensitif lewat Zoom dibanding ngobrol santuy sembari ngopi.
Nada bunyi terpotong-potong lantaran hubungan lemot, ekspresi wajah terdistorsi kompresi video, jarak bicara jadi canggung lantaran delay semua "gangguan kecil" ini pelan-pelan mengurangi kedalaman hubungan emosional nan semestinya terbangun dalam sebuah percakapan.
Sinyal Tubuh nan Diabaikan, Kelelahan nan Terlupakan
Di Indonesia sendiri, zoom fatigue bukan sekadar keluhan anekdotal, tapi sudah diteliti secara serius. Jonathan Salim berbareng koleganya dari Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan dan Universitas Airlangga menerbitkan pengesahan skala ZEF-I (Zoom Exhaustion and Fatigue versi Bahasa Indonesia) di jurnal Fatigue: Biomedicine, Health & Behavior, mengadaptasi instrumen dari Stanford unik untuk konteks mahasiswa Indonesia.
Dari 300 responden nan diteliti, indikasi penglihatan kabur menjadi keluhan nan paling sering muncul di antara mereka nan mengalami kelelahan akibat video call, jauh lebih sering dibanding keluhan lain seperti kebutuhan waktu untuk menyendiri. Temuan ini menegaskan bahwa kejadian zoom fatigue bukan hanya tren impor dari negara lain, tapi betul-betul dirasakan dan bisa diukur secara ilmiah pada populasi Indonesia.
Yang menarik, kelelahan ini sering tidak disadari lantaran tidak terlihat seperti capek "biasa". Tidak ada keringat, tidak ada otot pegal lantaran angkat barang.
Tapi ruang mobilitas nan terbatas duduk kaku di depan kamera selama berjam-jam tanpa bisa mondar-mandir seperti saat rapat di ruang meeting sungguhan ditambah beban mental memproses sinyal nonverbal nan datang bertubi-tubi, membikin tubuh dan pikiran sama-sama terkuras meski aktivitas fisiknya minim.
Refleksi Bukan Soal Anti-Teknologi, Tapi Soal Kesadaran
Menulis ini bukan berfaedah kita kudu membenci Zoom alias kembali sepenuhnya ke era rapat tatap muka. Realitanya, teknologi video conference sudah jadi kebutuhan nan tidak bisa dihindari entah untuk kerja jarak jauh, kuliah daring, alias sekadar menyapa family di kota lain. Tapi mengabaikan zoom fatigue sama saja membiarkan kualitas komunikasi kita menurun pelan-pelan tanpa kita sadari.
Barangkali nan perlu diubah bukan platformnya, melainkan caranya kita menggunakannya. Sesekali matikan kamera saat rapat tidak butuh visual. Beri jarak antar rapat, meski hanya lima menit untuk menjauh dari layar.
Dan nan paling penting, sadari bahwa layar sekecil apa pun tidak bisa sepenuhnya menggantikan kehangatan percakapan langsung. Karena pada akhirnya, komunikasi nan baik bukan soal seberapa canggih alatnya, tapi seberapa datang kita saat menggunakannya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·