Waka MPR: Butuh Pola Pendampingan Tepat untuk Karakter Anak Bangsa

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Rerie) menegaskan kebutuhan pola pendampingan nan tepat dan keteladanan saat ini.

Hal ini bermaksud untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi penerus bangsa di masa depan.

"Kondisi saat ini dihadapkan pada krisis pendampingan dan keteladanan bagi anak nan berpotensi menggerus pemahaman nilai-nilai kebangsaan mereka," kata Rerie, dalam keterangan tertulis, Kamis (4/6/2026).

Hal tersebut dia sampaikan dalam sambutan tertulisnya pada obrolan daring bertema 'Orang Tua sebagai Penjaga Nilai Pancasila: Tantangan Pendidikan Karakter di Era Digital dan AI' nan digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (3/6).

Krisis pendampingan dan keteladanan bagi anak tersebut, menurut Rerie, kudu segera diantisipasi dengan keterlibatan semua pihak, mulai dari lingkungan keluarga.

Rerie menyebut apalagi pada perkembangan peradaban saat ini, banyak ditemukan hal-hal baru hasil dari beragam penemuan di bagian teknologi.

"Sayangnya, penemuan tersebut, dengan arus info nan menyertainya, secara perlahan ikut mengikis fondasi moral kehidupan anak bangsa," kata Rerie.

Mengutip laporan Kementerian Komunikasi dan Digital RI (Komdigi), Rerie mengungkapkan sepanjang tahun lalu, tercatat sebanyak 1.923 konten hoaks nan sukses diidentifikasi di ruang digital Indonesia.

Pada saat nan sama, ujar Rerie, terdapat kejadian orang tua mengalami kelelahan pengasuhan dan secara tidak sadar mendelegasikan peran edukasi karakter anak kepada algoritma rekomendasi pada media sosial.

Akibatnya, jelas Rerie, karakter anak tidak lagi dibentuk oleh pendampingan orang tua untuk memperkenalkan nilai-nilai luhur bangsa nan terkandung dalam Pancasila seperti gotong royong dan kesantunan.

Rerie mendorong para pemangku kepentingan, masyarakat, serta orang tua, bersama-sama membangun ekosistem pengasuhan, pendampingan dan pendidikan nan tepat, sebagai bagian upaya menanamkan nilai-nilai luhur kebangsaan kepada generasi penerus.

Guru Besar Fakultas Psikologi UI Rose Mini Agoes Salim beranggapan dalam menghadapi kondisi tersebut peran family kudu ditingkatkan dalam menyikapi akibat perkembangan teknologi di bumi digital.

"Kehadiran PP Tunas, sejatinya untuk membantu orang tua agar sampai dengan usia 16 tahun, anak terhindar dari banjir info di bumi digital," ungkap Rose.

Pada usia nan tepat, jelas Rose, diharapkan anak sudah bijak dalam menyikapi beragam info di bumi digital.

Menurut Rose, dalam praktik di bumi digital, juga kudu diterapkan nilai-nilai Pancasila, seperti nilai ketuhanan dan moral sangat krusial dalam bermedia sosial.

Rose menambahkan demikian juga, menghargai pendapat orang lain dalam berkomunikasi di keseharian juga kudu dilandasi dengan pemahaman nilai-nilai persatuan dan kemanusiaan.

"Orang tua kudu bisa menjadi mentor dan teladan bagi-bagi anak-anaknya dalam berinteraksi di bumi digital," ujar Rose.

Ketua Yayasan Cahaya Guru Henny Supolo beranggapan keahlian berpikir kritis anak sangat krusial dalam upaya membangun karakter dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan seperti Pancasila.

Nilai-nilai Pancasila nan bakal ditanamkan, menurut Henny, kudu bisa dikaitkan dengan aktivitas keseharian kita.

"Kita kudu bisa membujuk anak-anak kita untuk belajar menilai situasi nan ada berasas nilai-nilai nan dipahaminya," ujar Henny.

Menurut Henny, pembimbing dan orang tua, kudu bisa mengaitkan nilai-nilai luhur nan bakal ditanamkan kepada anak dengan kondisi keseharian saat ini.

Henny menerangkan orang tua kudu mempunyai keahlian mendengar dengan baik dalam proses menanamkan nilai-nilai luhur kebangsaan kepada anak-anak mereka.

Aktivis Pendidikan Indra Charismiadji beranggapan anak-anak saat ini hanya menjadi objek untuk diukur kemampuannya, tanpa pernah diobati atas kekurangan nan terjadi.

Kondisi tersebut, jelas Indra, malah diatasi dengan bertukar-tukar kurikulum nan hasilnya memperlihatkan keahlian bahasa, matematika, dan sains anak-anak Indonesia nan secara rata-rata belum meningkat signifikan.

Menurut Indra, perihal itu terjadi lantaran selama ini sistem pendidikan nasional hanya dimaknai sebagai sekolah semata.

Padahal, Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara beranggapan bahwa pendidikan itu kudu berpusat pada keluarga, pergerakan pemuda, dan perguruan.

"Sangat disayangkan, dalam sistem pendidikan nasional hanya berfokus pada peran sekolah dan mengenyampingkan peran family dan pergerakan pemuda," kata Indra.

Pakar Pendidikan Karakter Doni Koesoema beranggapan bahwa orang tua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Terkait ancaman di ruang digital terhadap anak, jelas Doni, tidak bisa diatasi dengan aktivitas nan individual, tetapi kudu diatasi dengan aktivitas kultural.

Hadirnya PP Tunas dan kebijakan antikekerasan di lingkungan pendidikan, jelas Doni, tidak cukup untuk melindungi anak, jika tidak diterapkan dengan benar.

"Harapannya aktivitas kultural bisa mendorong upaya mewujudkan ekosistem digital nan ramah anak untuk melindungi generasi penerus bangsa," kata Doni.

Wartawan senior Usman Kansong beranggapan ada pekerjaan besar untuk membenahi sektor pendidikan, ada perbaikan secara struktural dan perbaikan secara kultural.

Usman menilai perbaikan tersebut bisa diupayakan dengan aktivitas secara kultural, namun sejauh ini aktivitas itu belum muncul secara signifikan.

"Pada proses pendidikan umum saat ini, kita dihadapkan pada pilihan mengedepankan sisi akademis alias karakter peserta didik," kata Usman.

Usman mengusulkan agar sekolah umum konsentrasi pada sisi akademis. Sementara itu, pendidikan karakter ditangani organisasi dan orang tua, seperti pendapat Ki Hadjar Dewantara nan memusatkan pendidikan pada keluarga, pergerakan pemuda, dan perguruan.

Selain itu, Usman menegaskan peran PP Tunas itu sejatinya mengatur platform digital agar peduli dengan keamanan anak-anak di ruang digital.

Sebagai informasi, obrolan ini dimoderatori oleh Staf Khusus Wakil Ketua MPR RI Eva Kusuma Sundari, menghadirkan Guru Besar Tetap Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (Fapsi UI) Rose Mini Agoes Salim; Ketua Yayasan Cahaya Guru Henny Supolo; dan Aktivis Pendidikan sekaligus Wakil Ketua Umum Vox Point Indonesia Indra Charismiadji sebagai narasumber.

Selain itu, datang pula Pakar Pendidikan Karakter dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Doni Koesoema sebagai penanggap.

(hnu/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News