Rapat Komite Tapera di Gedung Jusuf Anwar, Kementerian Keuangan, Rabu (24/6).(Dok. BP Tapera)
BP Tapera mengusulkan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi dengan tenor hingga 40 tahun. Usulan ini menjadi salah satu terobosan untuk memperluas akses masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) terhadap rumah pertama, terutama bagi golongan dengan penghasilan sekitar Rp2,8 juta per bulan.
Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho, mengatakan, perpanjangan tenor menjadi 40 tahun dapat membikin keahlian bayar masyarakat lebih sesuai dengan persyaratan perbankan. Dengan masa angsuran nan lebih panjang, angsuran rumah subsidi diperkirakan bisa turun menjadi sekitar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per bulan.
“Semakin panjang masa cicilan, semakin ringan angsuran nan kudu dibayar setiap bulan. Dengan begitu, masyarakat nan selama ini belum memenuhi persyaratan keahlian bayar perbankan mempunyai kesempatan lebih besar untuk mendapatkan rumah subsidi,” ujar Heru dilansir dari keterangan resmi, Kamis (25/6).
Dalam usulan tersebut, suku kembang tetap rumah subsidi dipertahankan, ialah 5% untuk rumah tapak dan 6% untuk rumah susun selama masa pembiayaan. Dengan kembang tetap, penerima faedah tidak terdampak perubahan suku kembang pasar selama masa angsuran berlangsung.
Usulan tenor 40 tahun ini mendapat support dari Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman sekaligus Ketua Komite Tapera, Maruarar Sirait.
Ia menilai penemuan pembiayaan diperlukan untuk mengejar kebutuhan rumah layak huni bagi masyarakat.
“Ada sasaran besar nan kudu kita capai. Karena itu diperlukan terobosan dan inovasi. Perpanjangan masa tenor ini merupakan salah satu upaya agar masyarakat semakin mudah mempunyai rumah,” kata Maruarar.
Selain tenor KPR subsidi, rapat juga membahas pengembangan rumah susun sebagai solusi penyediaan kediaman di area perkotaan. Pemerintah disebut tengah menyiapkan izin pendukung agar program tersebut dapat berjalan.
Menteri Ketenagakerjaan. Yassierli, mendorong BP Tapera memperkuat kerja sama dengan golongan pekerja dan buruh. Menurutnya, pekerja merupakan salah satu segmen besar nan memerlukan akses pembiayaan rumah terjangkau.
Sementara itu, Anggota Komite Tapera Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan agar penyediaan rumah subsidi, khususnya rumah susun, tetap memperhatikan kualitas hunian. Ia berambisi masyarakat mulai memandang rumah susun sebagai kediaman nan nyaman, modern, dan layak ditempati.
Berdasarkan info nan diterima, penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sepanjang 2026. Hingga 23 Juni 2026, sebanyak 81.286 unit rumah telah terealisasi dan 21.735 unit telah janji kredit. Dengan demikian, total realisasi FLPP mencapai 103.003 unit. Angka tersebut menjadi bagian dari sasaran penyaluran 350.000 unit rumah FLPP hingga akhir tahun. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·