DIREKTUR Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti.(Dok. Antara)
DIREKTUR Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai Indonesia mempunyai kesempatan besar untuk menarik investasi relokasi industri di tengah tren diversifikasi rantai pasok global.
Esther menyampaikan, agar bisa bersaing dengan negara-negara seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia, pemerintah perlu memperkuat beragam aspek pendukung investasi nan menjadi pertimbangan utama penanammodal global.
Menurut dia, masuknya aliran modal ke Indonesia sangat berjuntai pada terciptanya suasana upaya nan kompetitif dan kondusif.
"Sejumlah aspek nan perlu diperkuat antara lain kepastian hukum, prospek pasar nan menjanjikan, kesiapan bahan baku, ekosistem industri nan mendukung, integrasi dengan rantai pasok global, serta kesiapan prasarana daya dan utilitas dasar," ujar Esther saat dihubungi di Jakarta, Rabu (24/6).
Kepastian Hukum dan Harmonisasi Regulasi jadi Kunci
Esther menekankan, kepastian norma menjadi salah satu aspek utama nan menentukan daya tarik Indonesia di mata penanammodal global. Selain itu, pengharmonisan izin antara pemerintah pusat dan wilayah juga dinilai krusial untuk meningkatkan kemudahan berusaha.
Regulasi nan selaras, menurut dia, dapat memberikan kepastian bagi penanammodal dalam mengambil keputusan investasi jangka panjang. Hal itu juga menjadi prasyarat krusial agar Indonesia tidak tertinggal dari negara area nan sama-sama membidik relokasi industri.
Ekonomi Hijau Buka Peluang Baru
Lebih lanjut, Esther menilai tren transisi menuju ekonomi hijau membuka kesempatan nan semakin besar bagi Indonesia. Sebagai salah satu produsen mineral kritis dunia, Indonesia mempunyai posisi strategis dalam mendukung pengembangan teknologi ramah lingkungan.
Indonesia, katanya, berpotensi menjadi pemasok utama bahan baku teknologi hijau, termasuk untuk baterai kendaraan listrik dan prasarana daya terbarukan melalui komoditas nikel dan tembaga.
Dalam mendukung kesempatan tersebut, pemerintah juga telah menggulirkan beragam kebijakan hilirisasi industri. Insentif nan diberikan mencakup pembebasan pajak, pengurangan pajak penghasilan, pembebasan bea masuk impor mesin dan bahan baku, hingga pemberian akomodasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).
Hilirisasi Perkuat Posisi Indonesia di Rantai Pasok Global
Esther menilai hilirisasi menjadi strategi krusial untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Melalui hilirisasi, Indonesia dapat menghasilkan produk berbobot tambah lebih tinggi, mendorong transfer teknologi, serta meningkatkan produktivitas industri.
Di sisi lain, hilirisasi juga berpotensi memperluas penyerapan tenaga kerja terampil, meningkatkan keterlibatan upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam rantai pasok industri, serta mendukung transisi menuju ekonomi hijau dan biru nan berkelanjutan.
Pengembangan SDM Perlu Diperkuat
Selain aspek izin dan infrastruktur, Esther turut menekankan pentingnya investasi di bagian pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Langkah itu diperlukan agar kebutuhan tenaga kerja industri dapat terpenuhi seiring meningkatnya kesempatan investasi relokasi industri.
Dengan penguatan suasana usaha, hilirisasi, kesiapan energi, serta kualitas tenaga kerja, Indonesia dinilai mempunyai modal besar untuk menjadi tujuan utama relokasi industri global. (Ant/H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·