Infrastruktur Tua Terancam Kewalahan, NASA Butuh Rp16,4 Triliun demi Misi Artemis

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Infrastruktur Tua Terancam Kewalahan, NASA Butuh Rp16,4 Triliun demi Misi Artemis NASA(Space)

RENCANA besar NASA untuk mendaratkan kembali astronaut di Bulan menghadapi rintangan berat. Bukan dari masalah kesiapan roket, melainkan dari akomodasi peluncuran nan sudah menua. Laporan terbaru dari Kantor Inspektur Jenderal (OIG) NASA memperingatkan bahwa prasarana di Kennedy Space Center (KSC) di Florida dan Wallops Flight Facility di Virginia nyaris mencapai pemisah kapabilitas maksimal akibat melonjaknya agenda peluncuran, baik dari lembaga pemerintah maupun sektor swasta.

Jaringan pendukung seperti jalan raya, jaringan listrik, serta pipa gas dan bahan bakar nan dibangun sejak era Program Apollo pada tahun 1960-an sekarang dipaksa bekerja ekstra keras. Infrastruktur ini tidak hanya menyokong misi Artemis milik NASA, tetapi juga melayani perusahaan swasta seperti SpaceX, Blue Origin, dan United Launch Alliance (ULA).

Lonjakan Jadwal nan Masif

"Berdasarkan proyeksi peluncuran saat ini, Kennedy dan Wallops diperkirakan bakal beraksi mendekati kapabilitas penuh pada periode tahun 2028 hingga 2029," bunyi laporan resmi OIG nan dirilis pada Senin (22/6).

Sebagai gambaran, wilayah Space Coast di Florida mencatat lonjakan drastis dari 31 peluncuran tahun 2020 menjadi 109 peluncuran pada 2025. Pihak OIG memproyeksikan lampau lintas peluncuran ini bakal meningkat lagi sebesar 150% pada 2030.

Meskipun NASA telah mengambil langkah awal, para pejabat memperkirakan butuh biaya sedikitnya US$1 miliar (sekitar Rp16,4 triliun) untuk menyelesaikan seluruh peningkatan prasarana nan diperlukan. Sayangnya, alokasi biaya nan disetujui tahun lampau baru mencapai US$250 juta.

Beban Berat Refueling Starship

Tekanan terbesar datang dari misi Artemis 3 dan Artemis 4. Untuk mendaratkan astronaut di Bulan, pesawat luar angkasa Orion milik NASA kudu mengandalkan sistem pendarat milik swasta, salah satunya adalah Starship buatan SpaceX.

Untuk bisa terbang ke Bulan, satu armada Starship memerlukan setidaknya 15 kali penerbangan tambahan hanya untuk mengisi ulang bahan bakar (refueling) di orbit Bumi. Aktivitas ini tentu bakal memadati agenda peluncuran di KSC. Padahal, pasokan komoditas krusial seperti gas nitrogen (GN2) untuk roket Space Launch System (SLS) milik NASA diprediksi bakal mengalami gangguan (blackout) selama satu hingga dua bulan jika dipaksa beraksi berbarengan dengan peluncuran roket New Glenn milik Blue Origin.

Kendala Regulasi Anggaran

Selain masalah fisik, laporan OIG juga menyoroti lambatnya peremajaan lantaran pemotongan anggaran perawatan berkala. Masalah diperparah oleh patokan norma nan kaku. Saat ini, izin melarang NASA menerima biaya investasi langsung dari mitra komersial secara instan untuk memperbaiki prasarana berbareng tersebut.

"Meskipun sasaran NASA adalah memperbarui, mengganti, memperbaiki, alias meningkatkan, infrastrukturnya setiap 66 tahun sekali, tingkat pembaruan saat ini, berasas anggaran nan tersedia, adalah lebih dari 260 tahun," ungkap laporan OIG.

Guna mengantisipasi kegagalan misi masa depan, OIG merekomendasikan NASA untuk segera memprioritaskan perbaikan sistem utilitas, mengevaluasi kebijakan kemitraan komersial, dan menyusun strategi mitigasi kerusakan jalan akibat pengangkutan roket-roket super berat. (Space/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia