Kisah Wagino, 25 Tahun Jualan Buku di DU Kini Pasrah Digusur

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Bandung -

Di tengah deru perangkat berat nan merobohkan gedung liar di sepanjang Jalan Dipatiukur dan Jalan Singaperbangsa, Kota Bandung, Rabu (24/6/2026), seorang laki-laki lanjut usia tetap terlihat tenang menata buku-buku di kiosnya.

Namanya Wagino. Selama 25 tahun terakhir, laki-laki berumur 64 tahun itu menggantungkan hidup dari lapak kitab sederhana nan berdiri di atas trotoar area Dipatiukur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat kios-kios lain mulai dikosongkan dan dibongkar, Wagino tetap melayani pembeli seperti biasa. Sesekali dia merapikan tumpukan kitab nan memenuhi lapaknya. Ia tahu pembongkaran hanya tinggal menunggu waktu.

"Iya, insyaallah setelah ini mungkin ya. Tapi saya belum ada pemberian surat (pembongkaran) saya tetap ah, jual beli saja. Dapat-dapat rezeki lumayan kan," kata Wagino.

Tak ada nada marah ataupun protes dalam suaranya. Setelah seperempat abad berdagang di letak itu, Wagino memilih menerima realita bahwa lapaknya kudu ditertibkan.

"Masalah digusur ya sudah, nyerah saja. Kalau digusur saya nyerah, enggak apa-apa. Saya enggak bakal melawan orang gedean," ujarnya sembari tersenyum tipis.

Wagino sadar, jika pemerintah menertibkan gedung lain nan berdiri di atas trotoar, maka lapaknya pun tidak mungkin mendapat perlakuan berbeda.

"Pasti, pasti (ditertibkan). Kalau enggak kan nan di sana pasti iri kan? Sama-sama PKL," katanya.

Lapak kitab milik Wagino bukan gerai sembarangan. Selama puluhan tahun, tempat itu menjadi salah satu tujuan mahasiswa nan mencari kitab kuliah dengan nilai terjangkau.

Mahasiswa dari beragam kampus besar di Bandung pernah menjadi pengguna setianya. "Mahasiswa UNPAD, ITB, nyaris semuanyalah. Kadang ada nan jalan-jalan dari luar ya," tuturnya.

Namun era telah berubah. Kehadiran internet dan telepon pandai perlahan menggerus minat masyarakat membeli kitab fisik. Ia merasakan pembeli nan datang tak lagi seramai dulu.

"Nggak seramai dulu lantaran ada HP, nggak seramai dulu," katanya.

Meski demikian, lapak sederhana itu telah menjadi saksi perjuangan hidup Wagino membesarkan keluarganya. Dari hasil berdagang kitab di pinggir jalan, dia sukses menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi.

"Karena saya kan punya anak pada kuliah, walaupun dari gini nih saya anak saya pada sarjana lho!" ucapnya dengan bangga.

Wagino mempunyai tujuh anak dan tiga cucu. Dua anaknya telah menyandang gelar sarjana, sementara anak bungsunya bekerja di bagian pelayaran.

"Saya anak tujuh, cucu tiga. nan sarjana dua. nan ketujuh (kerja) ke pelayaran," katanya.

Kini, menjelang akhir perjalanan lapaknya di Dipatiukur, Wagino rupanya sudah menyiapkan rencana baru. Ia tidak mau berakhir berdagang meski gerai nan selama ini menjadi sumber penghidupannya bakal hilang.

"Saya sudah ngerancang di rumah pakai online. Jualan online, ya saya pakai online ada lah beberapa toko ya nan sudah jalan (langganan beli buku)," ujarnya.

Di usianya nan tidak lagi muda, Wagino memilih beradaptasi daripada melawan keadaan.

"Karena sudah tua umur saya kan 64 jalan, jika digusur enggak mungkin ngelawan saya," katanya.

(bba/mso)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News