Rizky Fauzianto, Indonesia Country Lead GEAPP(MI/NIKE AMELIA SARI)
MASYARAKAT di area pesisir memegang peran krusial dalam menggerakkan ekonomi biru di Indonesia. Sayangnya, potensi besar dari sektor kelautan, budidaya perikanan, dan tangkapan laut belum berbanding lurus dengan stabilitas pendapatan mereka. Banyak dari mereka nan tetap terjebak dalam ketidakpastian ekonomi meskipun kontribusinya terhadap nilai ekonomi sangat besar.
Berdasarkan info Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan nilai ekspor perikanan pada 2025 menembus nomor US$6,27 miliar (setara lebih dari Rp115 triliun). Tak hanya itu, pesisir Nusantara juga menyimpan 3,1 miliar ton karbon mangrove, menjadikannya sebagai tembok hijau terbesar di dunia.
Namun, keterbatasan akomodasi rantai dingin (cold storage), kapabilitas pengolahan, prasarana logistik, dan akses pasar menyebabkan sebagian besar nilai ekonomi tersebut belum sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat di wilayah penghasilnya.
Melihat kondisi tersebut, Global Energy Alliance for People and Planet (GEAPP) bekerja sama dengan Konservasi Indonesia serta beragam mitra, termasuk International Pole and Line Foundation (IPNLF) dan GIZ, mendukung masyarakat pesisir di Maluku dalam mengidentifikasi kebutuhan lokal.
Selain itu, juga sekaligus mengembangkan solusi nan bisa memperkuat mata pencaharian, meningkatkan ketahanan masyarakat, serta melindungi ekosistem laut nan menjadi penopang kehidupan mereka.
Saat ditemui Kamis (26/6) di area Menteng, Jakarta Pusat, Rizky Fauzianto, Indonesia Country Lead GEAPP, mengungkapkan bahwa masyarakat pesisir Indonesia sejatinya mempunyai sumber daya, pengetahuan, dan potensi ekonomi nan dibutuhkan untuk berkembang.
"Tantangannya adalah memastikan investasi pada daya bersih, infrastruktur, akses pasar, dan pengelolaan ekosistem melangkah secara terpadu sehingga masyarakat dapat memperoleh nilai ekonomi nan lebih besar dari hasil nan mereka ciptakan," ungkapnya.
Di banyak desa nelayan, para nelayan kerap kembali dari melaut dengan hasil tangkapan nan melimpah. Namun, keterbatasan akses terhadap es, akomodasi penyimpanan dingin, dan transportasi nan andal memaksa mereka menjual hasil tangkapan secepat mungkin dengan nilai nan lebih rendah.
Di beberapa wilayah, kehilangan hasil pascapanen apalagi dapat mencapai 30–50%. Kondisi serupa juga dialami petani rumput laut. Dari total produksi rumput laut Indonesia nan mencapai 10,8 juta ton pada 2024, sebagian besar tetap diekspor dalam corak bahan baku kering, alih-alih diolah menjadi produk berbobot tambah di dalam negeri.
Ketersediaan Energi
Ketersediaan daya nan andal menjadi salah satu kunci untuk mengatasi beragam tantangan tersebut. Di banyak pulau terpencil dan area Indonesia Timur, masyarakat tetap berjuntai pada generator diesel, dengan pasokan bahan bakar nan kudu diangkut melalui jalur laut dalam jarak nan jauh. Kondisi ini membikin biaya listrik menjadi mahal sekaligus rentan terhadap gangguan pasokan.
Penerapan solusi daya bersih nan sesuai dengan kebutuhan lokal dapat mendukung operasional produksi es, akomodasi penyimpanan dingin, pengolahan hasil perikanan, sistem refrigerasi, konektivitas digital, jasa kesehatan, hingga pengembangan upaya kecil.
Dengan memungkinkan produk disimpan lebih lama dan dipasarkan secara lebih optimal, akses terhadap daya nan andal dapat membantu masyarakat menjangkau pasar dengan nilai tambah nan lebih tinggi sekaligus membangun perekonomian lokal nan lebih kuat dan berkelanjutan.
Inisiatif ini diwujudkan dalam sebuah pendekatan berjudul “Sun to Sea”, nan menghubungkan pemanfaatan daya untuk aktivitas produktif dengan penguatan mata pencaharian berkepanjangan serta pengelolaan ekosistem.
Peningkatan akses terhadap daya nan andal untuk mendukung rantai dingin (cold chain) dan beragam aktivitas produktif lainnya dapat mengurangi kehilangan hasil pascapanen, menekan tekanan terhadap sumber daya perikanan, serta menciptakan mata pencaharian masyarakat pesisir nan lebih berkepanjangan dalam jangka panjang.
Ekosistem pesisir nan sehat juga memegang peranan nan sama pentingnya. Hutan mangrove, seagrass meadows, dan terumbu karang berkontribusi terhadap produktivitas perikanan, melindungi garis pantai dari pengikisan dan cuaca ekstrem, sekaligus menjadi penopang utama mata pencaharian masyarakat setempat.
Inisiatif ini sejalan dengan beragam prioritas pembangunan nasional Indonesia, termasuk program Kampung Nelayan Merah Putih dan program 100GW Village Solarisation.
"Peluang terbesar nan kita miliki adalah menghubungkan beragam investasi tersebut di tingkat komunitas. Ketika energi, mata pencaharian, akses pasar, konservasi, dan ketahanan masyarakat dirancang untuk saling terhubung, masing-masing bakal saling mendukung satu sama lain dengan langkah nan tidak dapat dicapai melalui proyek-proyek nan melangkah sendiri-sendiri," kata Rizky.
Sebagai langkah awal, para mitra bakal mendampingi sejumlah organisasi percontohan (pilot communities) untuk menguji sekaligus menyempurnakan model pembangunan nan dipimpin oleh masyarakat lokal. Dukungan melalui catalytic grants dan pendanaan filantropi diharapkan dapat menghasilkan pembelajaran awal, mengurangi akibat implementasi, serta memperkuat kapabilitas masyarakat.
Setelah model tersebut terbukti efektif, pemerintah, lembaga pembiayaan pembangunan, pelaku usaha, dan penanammodal diharapkan dapat mendukung replikasi solusi nan layak diterapkan di beragam wilayah pesisir Indonesia. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·