Budi Ernanto Wartawan Media Indonesia(MI/Seno)
PIALA Dunia 2026 menjadi momen berhistoris bagi Kanada. Untuk pertama kalinya, negara tersebut menjadi tuan rumah arena sepak bola terbesar di dunia. Namun, di kembali kemeriahan itu, terdapat pertanyaan nan jauh lebih penting, mampukah sepak bola betul-betul menjadi olahraga arus utama di Kanada, negara nan identitas olahraganya selama puluhan tahun dibentuk beruntung es?
Pertanyaan itu tidak berlebihan. Kanada sesungguhnya bukan negara nan asing terhadap sepak bola. Lebih dari 1 juta penduduknya terdaftar sebagai pemain amatir. Bahkan, di sejumlah provinsi, jumlah pemain sepak bola usia muda melampaui beruntung es. Namun, ketenaran di tingkat partisipasi belum sepenuhnya berbanding lurus dengan daya tarik di level profesional. Hoki es tetap menjadi simbol kebanggaan nasional, pusat perhatian media, sekaligus magnet utama sponsor dan investasi olahraga. Di sinilah tantangan terbesar sepak bola Kanada berada.
Memasyarakatkan sepak bola bukan lagi soal membujuk anak-anak bermain di lapangan. Tantangan sesungguhnya adalah mengubah budaya olahraga nan telah mengakar selama beberapa generasi.
Piala Dunia memang menawarkan kesempatan besar. Turnamen tersebut dapat memperkenalkan sepak bola kepada audiens nan lebih luas dan menciptakan momen emosional nan menyatukan masyarakat. Pengalaman banyak negara menunjukkan prestasi tim nasional bisa menjadi katalis perubahan. Kanada pernah merasakan perihal serupa ketika tim sepak bola putri mereka meraih lencana emas Olimpiade 2020. Antusiasme publik meningkat dan sepak bola menjadi bahan pembicaraan nasional.
Harapan serupa sekarang disematkan kepada tim nasional putra. Generasi pemain seperti Jonathan David dan Alphonso Davies memberikan optimisme bahwa Kanada tidak lagi sekadar peserta pelengkap di Piala Dunia. Jika mereka bisa tampil kompetitif di hadapan publik sendiri, sepak bola berpotensi memperoleh tempat nan lebih kuat dalam khayalan kolektif masyarakat Kanada.
Namun, prestasi semata tidak cukup. Euforia turnamen hanya berkarakter sementara andaikan tidak ditopang fondasi nan kuat. Salah satu persoalan utama adalah infrastruktur. Banyak kota di Kanada menghadapi keterbatasan lapangan sepak bola, terutama akomodasi dalam ruangan nan sangat krusial selama musim dingin. Tidak jarang beberapa tim kudu berbagi satu lapangan pada waktu nan sama. Kondisi tersebut menunjukkan minat masyarakat sudah tumbuh lebih sigap jika dibandingkan dengan keahlian sistem untuk mengakomodasinya. Selain itu, saat ini hanya BMO Field di Toronto dan BC Place di Vancouver nan memenuhi standar FIFA.
Masalah lain adalah ekosistem pembinaan. Pertumbuhan jumlah pemain memerlukan lebih banyak pelatih, wasit, relawan, dan pengelola kompetisi. Kanada mengalami kesenjangan pengetahuan sepak bola akibat absennya tim nasional putra dari Piala Dunia selama lebih dari tiga dasawarsa (1986-2022). Akibatnya, sumber daya manusia nan memahami olahraga itu secara mendalam tetap terbatas jika dibandingkan dengan negara-negara dengan tradisi sepak bola nan panjang.
Di sisi lain, Kanada mempunyai modal nan tidak dimiliki banyak negara. Sebagai negara dengan tingkat imigrasi nan tinggi, Kanada dihuni beragam organisasi nan membawa kecintaan terhadap sepak bola dari negara asal mereka. Bagi sebagian penduduk keturunan Italia, Inggris, Portugal, alias Amerika Latin, sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan juga bagian dari identitas budaya. Tantangannya adalah gimana mengubah kecintaan terhadap tim negara asal menjadi support nan lebih besar kepada tim nasional Kanada dan kejuaraan domestik.
Karena itu, keberhasilan sepak bola Kanada tidak boleh diukur hanya dari jumlah pertandingan Piala Dunia nan digelar alias capaian tim nasional di lapangan. Ukuran nan lebih krusial adalah warisan nan ditinggalkan setelah turnamen berakhir. Apakah lebih banyak lapangan dibangun? Apakah lebih banyak pembimbing dilatih? Apakah liga domestik menjadi lebih sehat? Apakah anak-anak mempunyai akses nan lebih mudah untuk bermain?
Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut positif, Piala Dunia 2026 bakal menjadi titik kembali sejarah olahraga Kanada. Namun, jika tidak, turnamen itu hanya bakal menjadi pesta sesaat nan segera tenggelam di bawah gemuruh arena beruntung es.
Sepak bola mungkin tidak bakal menggantikan beruntung es sebagai olahraga nomor satu Kanada dalam waktu dekat. Akan tetapi, Piala Dunia memberikan kesempatan langka untuk mempersempit jarak tersebut. Kini, nan dibutuhkan bukan hanya gol dan kemenangan, melainkan juga komitmen jangka panjang untuk membangun budaya sepak bola nan berkelanjutan. Dengan demikian, sepak bola tidak sekadar menjadi tamu nan datang setiap empat tahun sekali, tetapi juga betul-betul menjadi bagian dari kehidupan olahraga Kanada sehari-hari.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·