Lukisan 'Law of the Jungle' karya kolaboratif Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY berbareng 20 seniman lainnya(MI/Rifaldi Putra)
SEBUAH lukisan berukuran super besar (280 x 700 cm) di ruang Galeri Emiria Soenassa, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Lukisan itu merupakan karya seni kolektif nan dilukis Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berbareng 20 seniman dari SBY Art Community.
Lukisan nan menjadi salah satu karya dalam pameran seni SBY Art Community itu, menampilkan beragam hewan predator seperti singa, harimau, serigala, dan burung pemangsa tampil mendominasi, berhadapan dengan hewan-hewan nan lebih rentan seperti kijang dan sapi. Pertarungan antar makhluk tersebut menjadi metafora tentang relasi kuasa.
”Lukisan besar nan kita beri nama 'Law of the Jungle' ini merupakan pendapat alias buahpikiran dari Bapak SBY, gimana rasa prihatin dengan kondisi lingkungan, kondisi global, sehingga timbullah buahpikiran ini dan menjadi tugas kami sebagai seniman untuk menyampaikan pesan ini kepada bumi maupun pecinta seni,” ujar Wakil Ketua Pameran SBY Art Community 2026, Akbar Linggaprana, dalam konvensi pers di Jakarta, Selasa (18/8).
Pesan tentang kondisi bumi nan tidak baik saja pun diperkuat melalui quote Thucydides, "The strong do what they can, the weak suffer what they must", serta tulisan Might is Right yang menggambarkan kritik terhadap kekuatan nan melangkah tanpa landasan moral. Sejumlah simbol di bagian bawah lukisan mempertegas rapuhnya tatanan dunia. Hukum internasional nan terbakar, merpati perdamaian nan terluka, perlengkapan militer, serta simbol Perserikatan Bangsa-Bangsa nan tampak terkoyak menggambarkan lemahnya upaya menjaga perdamaian dan kemanusiaan ketika berhadapan dengan kepentingan dan kekuatan.
Namun, di sisi lain dari gambaran kehancuran tersebut, terlihat sosok manusia di tengah reruntuhan, serta lanskap nan terbelah antara suasana gelap dan cemerlang, menunjukkan kondisi bumi nan berada di antara bentrok dan harapan. Cakrawala nan mulai terang dan pegunungan hijau menghadirkan secercah angan bahwa bumi tetap mempunyai kesempatan untuk keluar dari lingkaran konflik.
“Lukisan itu dikerjakan bersama-sama secara bergantian dan terakhir finishing touch bakal dilakukan oleh Bapak SBY. Nanti juga (dalam pameran) mungkin bisa dilihat rekamannya gimana pak SBY menyelesaikan lukisan itu pada tahap terakhir,” sebut Akbar.
Christopher Lehmpfuhl
Pameran bertajuk Art for Peace and a Better Future: Collaboration itu menampilkan total 152 karya dari 27 pelukis. Salah satu kontributor utama adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) nan mempersembahkan 52 lukisan terbarunya, baik nan bertema tematik perdamaian maupun lanskap alam.
Tahun ini merupakan kedua kali SBY Art Community menggelar pameran seni, pembeda utama pameran tahun ini adalah adanya unsur kerjasama internasional. SBY Art Community menggandeng Christopher Lehmpfuhl dari Kornfeld Galerie, Berlin. Selain itu, pameran ini juga melibatkan anak-anak berkebutuhan unik nan berbakat di bagian seni.
“Christopher bakal menghadirkan 29 karya nan merupakan lukisan-lukisan hasil on-the-spot painting dengan mengekspresikan rekaman visual tradisi en plein air Jerman dengan keragaman lanskap Indonesia. Selama dua minggu, dia melukis berbareng para seniman SBY Art Community di Jakarta, Cisarua, Borobudur, dan Pacitan,” kata Akbar.
Karya-karya nan dipamerkan Christopher melahirkan objek landscape dari Jakarta, Borobudur, Cisarua hingga Pacitan, menarik dari lukisannya adalah gimana dia mengaplikasikan teknik finger painting alias melukis menggunakan jari dan tanpa support kuas. Implementasi teknik tersebut membikin lukisan mempunyai tingkat ketebalan goresan cat nan tidak konsisten, namun perihal itu justru memberikan keelokan tersendiri saat dipandang.
Perayaan Kemerdekaan
Adapun pameran ini datang dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 dan Hari Ulang Tahun DKI Jakartake-499. Hadir dengan tema Art for Peace and a Better Future: Collaboration, tema ini dipilih lantaran pesan perdamaian nan dinilai tetap sangat relevan mengingat kondisi keamanan dan budaya dunia nan belum stabil.
“Tema perdamaian dan cita cita bakal bumi nan lebih baik dipilih sebagai konsentrasi utama untuk merespons dinamika dunia dan kebutuhan bakal solidaritas. Kami berambisi pameran ini dapat menjadi inspirasi sosial, memperkuat semangat kebersamaan, dan menumbuhkan optimisme masa depan nan lebih baik. Hal ini sesuai dengan visi Presiden Rl ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono nan mau senantiasa menyuarakan perdamaian dan bumi nan lebih baik melalui seni terutama seni lukis" Ketua Koordinator Pameran SBY Art Community, Ediwan Prabowo.
Pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration terbuka untuk umum mulai tanggal 19 - 30 Agustus 2024. Karya-karya tersebut dipajang di dua lokasi, ialah Galeri Emiria Soenassa (untuk karya tematik perdamaian) dan Galeri Oesman Effendi (untuk karya lanskap dan teknik finger painting). Masyarakat dapat berjamu mulai pukul 10.00 hingga 21.00 WIB. (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·