Tim kerjasama Universitas Islam Darul ‘Ulum (Unisda) Lamongan dan Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng Jombang.(Dok.Istimewa)
PERGURUAN tinggi turut mendorong penguatan ekonomi sirkular di tingkat desa melalui Program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) 2026.
Tim kerjasama Universitas Islam Darul ‘Ulum (Unisda) Lamongan dan Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng Jombang mengembangkan ekosistem ecopreneur di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, dengan mengintegrasikan pengelolaan sampah organik, pertanian ramah lingkungan, pangan sehat, dan digitalisasi usaha.
Program berjudul “Ecopreneur: Co-Creation Mahasiswa untuk Pengembangan Kewirausahaan Berbasis Ekonomi Sirkular dan Pangan Sehat di Desa Rejoagung” melibatkan 20 mahasiswa dari bagian Manajemen dan Agroteknologi. Mereka bekerja berbareng KSM Rejoagung Berseri dan KWT Rejoagung Mulyo sebagai mitra utama program.
Ketua Tim Pengusul Unisda, Siti Shoimah, Senin (17/8), menyatakan, program tersebut diarahkan untuk mengubah persoalan lingkungan menjadi kesempatan ekonomi melalui pendekatan ekonomi sirkular. "Program ini tidak hanya berorientasi pada pengelolaan sampah, tetapi gimana potensi lokal dapat diolah menjadi rantai nilai nan memberi faedah ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan,” terangnya.
Menurut Siti, salah satu konsentrasi program adalah pengelolaan sampah organik nan diperkirakan mencapai 60–70% dari total timbulan sampah di wilayah mitra. Sumber sampah organik juga mencakup aktivitas rumah tangga dan sumber lokal lainnya, termasuk sampah organik dari SPPG.
Melalui kerjasama mahasiswa, dosen, dan KSM Rejoagung Berseri, sampah organik diarahkan untuk diolah menjadi kompos dan Pupuk Organik Cair (POC). Proses tersebut didukung teknologi tepat guna, antara lain mesin pencacah, tong komposter, dan PUPO Kit.
"Hasil pengolahan selanjutnya dapat mendukung kebutuhan pertanian organik nan dikembangkan berbareng KWT Rejoagung Mulyo. Dengan model tersebut, program membangun hubungan hulu–hilir, dari pengelolaan limbah hingga pemanfaatannya untuk mendukung produksi pangan," jelasnya.
BELAJAR DAN BERDAYA
Siti menambahkan, program ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran mahasiswa melalui keterlibatan langsung dalam penyelesaian persoalan masyarakat. Aktivitas mahasiswa dirancang dalam rangkaian aktivitas nan mencakup sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, hingga evaluasi.
Kegiatan tersebut juga dirancang memperoleh rekognisi akademik 6 SKS, terdiri atas 4 SKS KKN dan 2 SKS mata kuliah Kewirausahaan. Untuk menjaga keberlanjutan program, tim menggunakan pendekatan Participatory Learning and Action (PLA) dan train-the-trainer. SOP, modul, serta pengetahuan teknis disiapkan agar dapat diteruskan oleh masyarakat setelah pendampingan mahasiswa berakhir.
"Tim juga mendorong terbentuknya forum komunikasi hulu–hilir nan mempertemukan KSM Rejoagung Berseri sebagai pengelola pupuk organik dengan KWT Rejoagung Mulyo sebagai developer produk pangan sehat," tuturnya.
Siti menyebut, melalui kerjasama perguruan tinggi dan masyarakat tersebut, PMM Kemdiktisaintek 2026 di Desa Rejoagung diarahkan untuk membangun model ecopreneur berbasis ekonomi sirkular nan menghubungkan lingkungan, pertanian, pangan, kewirausahaan, dan teknologi digital dalam satu ekosistem nan berkelanjutan.
KOLABORASI KEPAKARAN
Pendampingan program dilakukan secara lintas disiplin dengan mengoordinasikan penguatan kewirausahaan, manajemen usaha, dan strategi pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Pada aspek pertanian dan lingkungan, Dian Eka Kusumawati, mendampingi pengembangan budidaya hortikultura ramah lingkungan serta pengolahan sampah organik menjadi kompos dan POC.
Sementara itu, Chamdan Mashuri, mengawal aspek digitalisasi dan sistem informasi, termasuk pengembangan Eco-Commerce nan dapat diakses pada Eco-Commerce Rejoagung (https://eco-commerce.id), pengelolaan info produksi dan pemasaran, serta pemanfaatan Instagram, TikTok, dan WhatsApp Business.
Di lapangan, 20 mahasiswa menjadi penggerak utama pendampingan berbareng mitra, mulai dari pelatihan, penerapan teknologi, pengumpulan data, hingga pendampingan produksi dan pemasaran. Pendampingan KWT Rejoagung Mulyo diarahkan pada pengembangan sayuran organik dan pangan siap konsumsi, mulai dari budidaya, pemanfaatan pupuk organik, pengemasan, hingga pemasaran di Eco Commerce.
Program menargetkan pengembangan lima produk sayuran organik dengan bungkusan berlabel, peningkatan masa simpan melalui teknologi pendinginan, kenaikan nilai jual hingga 30%, serta pertumbuhan volume penjualan hingga 25%.
Penguatan upaya juga mencakup pencatatan keuangan, penyusunan SOP, pembagian tugas, branding, katalog produk, dan pemasaran digital. Dengan demikian, pemberdayaan tidak berakhir pada peningkatan kapabilitas produksi, tetapi diarahkan hingga aspek hilirisasi dan akses pasar.(E-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·