Ali Saukah Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, Anggota Dewan Pendidikan Nasional(Dok spesial )
WACANA tentang Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) semakin sering dibicarakan dalam bumi pendidikan Indonesia. Namun, sebagaimana lazim terjadi setiap kali muncul istilah baru dalam kebijakan pendidikan, tidak sedikit pembimbing nan merasa cemas. Ada nan cemas pendekatan ini bakal 'menghapus' metode mengajar nan selama ini mereka gunakan. Ada pula nan membayangkan bahwa Pembelajaran Mendalam identik dengan satu model pembelajaran tertentu, nan kudu diterapkan secara seragam di semua mata pelajaran.
Kekhawatiran seperti itu sebenarnya muncul lantaran Pembelajaran Mendalam tetap sering dipahami secara keliru. Pendekatan Pembelajaran Mendalam seolah diposisikan sebagai metode mengajar baru nan kudu menggantikan semua metode lama. Padahal sesungguhnya Pembelajaran Mendalam bukanlah metode tunggal, melainkan kerangka kerja alias pendekatan besar nan memberi arah bagi proses pembelajaran.
Oleh lantaran itu, keberadaan Pembelajaran Mendalam tidak semestinya mematikan keberagaman metode dan teknik mengajar. Justru sebaliknya, beragam pendekatan pedagogis dapat tetap hidup, berkembang, dan melangkah selaras di bawah payung tujuan pendidikan nan sama.
Kebermaknaan Belajar
Inti Pembelajaran Mendalam bukan terletak pada keseragaman langkah mengajar, melainkan pada kebermaknaan belajar. Murid tidak sekadar menerima info untuk dihafalkan, tetapi memahami, menghayati, merefleksikan, dan bisa menggunakan pengetahuan dalam kehidupan nyata. Pembelajaran menjadi proses pembentukan manusia seutuhnya, bukan sekadar proses penyampaian materi pelajaran.
Oleh lantaran itu, nan terpenting bukanlah apakah pembimbing menggunakan obrolan kelompok, ceramah, proyek, eksperimen, presentasi, simulasi, alias metode lainnya. nan lebih krusial adalah, apakah pembelajaran itu membikin siswa berpikir, terlibat, bertumbuh, dan mengalami perubahan langkah pandang maupun perilaku. Dalam konteks inilah krusial dipahami bahwa setiap mata pelajaran memang mempunyai karakter dan penekanan nan berbeda. Pendidikan tidak dapat dijalankan dengan logika penyeragaman.
Mata pelajaran bahasa, misalnya, mempunyai karakter nan berbeda dibandingkan dengan mata pelajaran nan lebih menonjolkan ketepatan prosedural alias keahlian teknis tertentu. Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, tujuan belajar bukan sekadar memahami secara definitif alias implisit patokan tata bahasa alias menghafal kosakata.
Hal nan jauh lebih krusial adalah keahlian memahami dan mengungkap makna dalam berkomunikasi, menyampaikan gagasan, menangkap konteks budaya, serta membangun kepekaan sosial melalui bahasa.
Oleh lantaran itu, pembimbing Bahasa Inggris dapat menggunakan beragam pendekatan nan sangat beragam. Pada saat tertentu pembimbing mungkin perlu menjelaskan struktur bahasa secara langsung agar siswa memperoleh fondasi nan jelas.
Pada kesempatan lain, pembimbing dapat melibatkan siswa dalam exposure berkomunikasi melalui diskusi, bermain peran, presentasi, membaca kritis, wawancara, storytelling, debat, penulisan reflektif, alias proyek kolaboratif, agar siswa menguasai struktur bahasa secara implisit. Semua metode itu tetap relevan selama diarahkan pada pembelajaran nan bermakna.
Murid nan belajar Bahasa Inggris melalui simulasi wawancara kerja, misalnya, tidak hanya belajar struktur kalimat alias pengucapan. Mereka juga belajar percaya diri, menghargai musuh bicara, berpikir spontan, dan menggunakan bahasa dalam konteks kehidupan nyata.
Demikian pula ketika siswa mendiskusikan cerpen, film, alias rumor sosial dalam pembelajaran bahasa, sesungguhnya mereka sedang belajar memahami perspektif orang lain, membangun empati, dan mengembangkan keahlian berpikir kritis.
Hal nan sama terjadi pada mata pelajaran bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Pembelajaran bahasa tidak cukup berakhir pada keahlian menjawab soal pilihan dobel tentang norma kebahasaan. Bahasa pada hakikatnya adalah sarana membangun pikiran, kebudayaan, identitas, dan relasi antarmanusia.
Kekayaan Pedagogis Sekolah
Oleh lantaran itu, membaca karya sastra, menulis opini, berdiskusi, berpidato, membikin podcast, alias mementaskan drama dapat menjadi bagian krusial dari Pembelajaran Mendalam andaikan aktivitas itu membantu siswa memahami kehidupan secara lebih luas dan realistik. Dengan langkah pandang seperti ini, keberagaman metode mengajar justru menjadi kekayaan pedagogis sekolah.
Sayangnya, dalam praktik pendidikan sering muncul kecenderungan menyederhanakan perubahan menjadi sekadar pergantian istilah alias model pembelajaran. Ketika muncul paradigma baru, lampau timbul dugaan bahwa semua pembimbing kudu menggunakan metode nan sama. Akibatnya, pembimbing lebih sibuk menyesuaikan format administratif daripada memikirkan kualitas pengalaman belajar murid.
Padahal, sekolah nan baik bukan sekolah nan seluruh gurunya mengajar dengan pola identik. Sekolah nan baik adalah sekolah nan seluruh proses pembelajarannya bergerak menuju tujuan pendidikan nan sama, meskipun jalannya bisa berbeda-beda. Guru Seni tentu tidak kudu mengajar seperti pembimbing Bahasa Inggris. Guru Pendidikan Jasmani tidak kudu menggunakan pola nan sama dengan pembimbing IPA. Bahkan dalam satu mata pelajaran nan sama pun, metode pembelajaran dapat berbeda sesuai tujuan, materi, usia murid, dan konteks pembelajaran.
Yang diperlukan bukan penyeragaman metode, melainkan keselarasan visi pendidikan. Di sinilah Pembelajaran Mendalam menemukan relevansinya. Pembelajaran Mendalam memberi arah umum bahwa pembelajaran kudu bermakna, melibatkan siswa secara aktif, mengembangkan karakter dan kompetensi, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, serta menumbuhkan keahlian belajar sepanjang hayat. Dengan demikian, keberagaman metode tidak menjadi sumber kekacauan, tetapi justru menjadi kekuatan.
Bergerak Menuju Arah nan Sama
Guru juga tidak perlu merasa bahwa penerapan Pembelajaran Mendalam mengharuskan mereka memulai semuanya dari nol. Banyak pembimbing di Indonesia sebenarnya telah lama menjalankan praktik-praktik nan sejalan dengan prinsip Pembelajaran Mendalam, meskipun belum menggunakan istilah tersebut.
Guru nan mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, memberi ruang bertanya, mendorong refleksi, membangun kolaborasi, melatih pemecahan masalah, alias menumbuhkan kepedulian sosial, sesungguhnya telah menjalankan prinsip Pembelajaran Mendalam.
Oleh lantaran itu, penerapan pendekatan ini semestinya dimulai bukan dengan 'menghapus semua langkah lama', melainkan dengan mengenali praktik baik nan sudah ada, memperkuat kualitasnya, lampau menyelaraskannya dalam kerangka Pembelajaran Mendalam nan lebih utuh.
Pada akhirnya, pendidikan memang tidak cukup hanya menghasilkan siswa nan menguasai mata pelajaran dalam kurikulum. Pendidikan kudu menghasilkan lulusan nan beragama dan bertakwa kepada Tuhan nan Maha Esa, bisa berperan-serta sebagai penduduk lokal-nasional-global, berakal kritis, kreatif, kolaboratif, mandiri, sehat lahir bathin, dan mahir berkomunikasi. Tujuan sebesar itu tentu tidak mungkin dicapai hanya dengan satu metode mengajar.
Oleh lantaran itu, pembelajaran kudu selalu memberi ruang bagi keberagaman jalan, selama semuanya bergerak menuju arah nan sama: menghasilkan lulusan nan mempunyai delapan dimensi profil lulusan tersebut.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·