
Mengapa korban kekerasan tak selalu bisa pergi? (Foto: Freepik)
KASUS dugaan penganiayaan nan dialami YTR oleh TH kembali memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Banyak nan bertanya, kenapa seseorang bisa tetap memperkuat dalam hubungan nan diwarnai kekerasan, padahal pelaku mengaku mencintai korbannya?
Padahal, hubungan toksik nan terjalin semestinya segera diakhiri. Dengan begitu, hal-hal nan tidak diinginkan takkan terjadi.

1. Alasan Korban Kekerasan Tak Selalu Bisa Pergi
Psikolog forensik, Reza Indragiri Amriel, dalam aktivitas Morning Zone nan tayang di Youtube Okezone menjelaskan bahwa kejadian tersebut bukanlah perihal nan langka. Menurutnya, kekerasan dalam hubungan, baik dalam rumah tangga maupun pacaran, sebenarnya cukup sering terjadi dengan tingkat keparahan nan berbeda-beda.
"Yang sedang kita bicarakan saat ini adalah kejadian nan plural terjadi, namun dengan spektrum nan berat," ujar Reza di aktivitas Morning Zone.
Reza menjelaskan bahwa ikatan emosional nan kuat kerap membikin korban susah melepaskan diri dari hubungan nan sudah tidak sehat. Reza mengibaratkannya dengan ungkapan lama, love is blind alias cinta itu buta.
Menurutnya, ketika seseorang telah meletakkan hati dan membangun kelekatan emosional nan mendalam, beragam bentrok hingga tindakan kekerasan sering kali tidak langsung membikin korban meninggalkan hubungan tersebut.
“Kenapa bisa terjadi relasi semacam ini? Ada lagu lama, Love is Blind gitu ya. Bahwa cinta itu buta, cinta itu membutakan. Dan pada saat nan sama, saya nan berupaya ya, korban ini adalah sosok nan kehilangan aspek protektif nan paling fundamental. Apa itu aspek protektifnya? Yaitu keluarga, tempat dia bisa pulang, tempat dia bisa kembali menemukan pertolongan dan sejenisnya,” ujar Reza.
“Nah, ketika kemudian hati telah tertambat pada seseorang, namun kemudian relasi itu problematik, relasi itu penuh dengan konflik, apalagi kemudian relasi itu diwarnai dengan kekerasan, berpulang,” lanjutnya.
8 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·