Manusia dan monyet besar berbagi pola tawa ritmis nan sama.(Dok. WWF/Megan Smith)
SEBUAH studi baru nan diterbitkan dalam jurnal Communications Biology mengungkap kebenaran mengejutkan tentang asal-usul tawa. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa manusia dan kerabat primata terdekatnya, kera besar, berbagi langkah tertawa nan sangat mirip, sebuah warisan perkembangan nan diperkirakan telah ada sejak 15 juta tahun nan lalu.
Tim peneliti internasional menganalisis rekaman video dari 13 monyet besar, termasuk gorila, orangutan, simpanse, dan bonobo, saat mereka digelitik. Data ini kemudian dibandingkan dengan rekaman tawa dari empat anak mini berumur 6 bulan hingga 7 tahun nan juga digelitik alias sedang bermain.
Hasil kajian dari 140 urutan tawa menemukan bahwa saat digelitik, baik monyet maupun manusia menghasilkan tawa dengan pola ritmis nan konsisten, layaknya debar jam. Kemiripan ini menjadi bukti kuat adanya hubungan evolusioner dengan nenek moyang nan sama.
“Dalam satu hal, kita sangat mirip dengan monyet besar lainnya lantaran kita telah tertawa dengan langkah nan sama selama 15 juta tahun,” kata Chiara De Gregorio, penulis utama studi dan seorang primatolog dari University of Warwick, berasas laporan National Geographic.
Meskipun mempunyai ritme dasar nan sama, tawa manusia berevolusi menjadi lebih sigap dibandingkan jenis lain. Studi ini juga menemukan bahwa jenis nan secara evolusioner lebih dekat dengan manusia, seperti bonobo dan simpanse, dapat tertawa lebih sigap daripada gorila alias orangutan.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa manusia mengembangkan elastisitas vokal nan lebih besar selama evolusi. Kemampuan ini tidak hanya memungkinkan tawa nan lebih bervariasi, tetapi juga diduga kuat menjadi pendorong perkembangan keahlian berbincang dan berkata pada manusia.
Lebih lanjut, penelitian ini menemukan bahwa manusia adalah satu-satunya jenis nan bisa menyesuaikan jenis tawanya berasas konteks sosial. Tawa manusia saat digelitik terdengar berbeda dari tawa saat bermain biasa, sebuah keahlian penyesuaian sosial nan tidak ditemukan pada monyet muda. “Kita bisa tertawa dengan langkah nan sopan di depan ratu, tetapi kemudian ketika kita berbareng teman-teman kita di pub, kita bisa tertawa dengan langkah nan sama sekali berbeda,” jelas De Gregorio.
Studi ini membuka jalan bagi pertanyaan baru. Langkah berikutnya bagi para peneliti adalah menyelidiki apakah monyet besar dewasa dapat belajar mengendalikan tawa mereka seiring bertambahnya usia, sebuah keahlian nan sangat lekat dengan hubungan sosial manusia. (National Geographic/Independent/Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·