Limbah Jadi Cuan, Budidaya Maggot Dorong Ekonomi Sirkular di Kawasan DAS Ciliwung

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Limbah Jadi Cuan, Budidaya Maggot Dorong Ekonomi Sirkular di Kawasan DAS Ciliwung Ilustrasi(Dok Istimewa)

SAMPAH organik nan selama ini identik dengan limbah sekarang mulai dipandang sebagai sumber ekonomi baru. Melalui pemanfaatan teknologi budidaya maggot (black soldier fly/BSF), limbah rumah tangga dapat diolah menjadi pelet pakan ternak dan ikan nan mempunyai nilai jual, sekaligus membantu mengurangi beban sampah nan berhujung di tempat pembuangan akhir (TPA).

Model pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular tersebut mulai diterapkan di area Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung melalui training pengolahan sampah organik dan pembuatan pelet berbasis maggot nan melibatkan organisasi Masyarakat Peduli Ciliwung (Mat PeCi), pengelola bank sampah, serta penduduk sekitar.

Selain memperkuat upaya pelestarian lingkungan, program ini membuka kesempatan upaya baru bagi masyarakat dengan memanfaatkan limbah nan sebelumnya tidak bernilai.

Inisiatif ini merupakan hasil kerjasama Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Teknik Industri Universitas Pancasila (UP) melalui aktivitas Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) pada 23–24 Juni 2026. Kegiatan ini mendapat support dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) sebagai bagian dari upaya mendorong pemanfaatan penemuan dan teknologi tepat guna di tengah masyarakat.

Selama pelatihan, peserta memperoleh pembekalan mulai dari teknik pemilahan sampah organik, budidaya BSF, hingga proses pengolahan maggot menjadi pelet pakan ternak dan ikan lele. Pendekatan tersebut diharapkan bisa menciptakan sistem pengelolaan sampah nan lebih produktif dan memberikan faedah ekonomi bagi masyarakat.

Ketua Tim PKM UP Dwi Ariyani mengatakan pengelolaan sampah organik tidak hanya menjadi solusi atas persoalan lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

"Melalui aktivitas ini kami mau memberikan teknologi tepat guna nan mudah diterapkan masyarakat. Sampah organik nan selama ini dianggap sebagai limbah dapat diubah jadi sumber daya berbobot ekonomi melalui budidaya maggot dan pengolahan menjadi pelet pakan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan, tetapi juga memperoleh faedah ekonomi," ujarnya, Jumat (26/6/2026).

Ia menambahkan selain berkontribusi terhadap pengurangan sampah dan emisi lingkungan, pemanfaatan maggot sebagai pengolah limbah organik juga bisa mendorong lahirnya upaya baru berbasis ekonomi sirkular. 

"Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh lingkungan lebih bersih, tetapi juga sumber penghasilan baru berkepanjangan dan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek konsumsi dan produksi bertanggung jawab, kota berkelanjutan, serta tindakan terhadap perubahan iklim," tutup Dwi.

Pada sesi sosialisasi, Dino Rimantho menjelaskan siklus hidup BSF (Hermetia illucens) dan kemampuannya mengurai limbah organik secara sigap serta efisien. Teknologi ini bisa menjadi solusi pengelolaan sampah berkepanjangan sekaligus mendukung konsep ekonomi sirkular.

Sebagai corak support terhadap keberlanjutan program, penyelenggara juga menyerahkan beragam akomodasi pendukung kepada masyarakat, mulai dari instalasi budidaya maggot, mesin pencacah sampah organik, hingga mesin kreator pelet. Bantuan ini diharapkan memungkinkan masyarakat memproduksi pakan secara berdikari dan mengembangkan upaya berbasis pengolahan limbah organik.

Selain penyediaan sarana, pendampingan lanjutan bakal dilakukan untuk memastikan proses budidaya maggot dan produksi pelet melangkah optimal sehingga faedah ekonomi nan dihasilkan dapat terus berkembang.
Perwakilan Mat PeCi Usman Firdaus mengapresiasi training itu lantaran memberikan solusi nyata terhadap persoalan sampah organik nan selama ini dihadapi komunitas.

"Kami berterima kasih kepada UP dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui DPPM nan mendukung aktivitas ini. Pelatihan ini memberikan wawasan baru tentang gimana sampah organik dapat dimanfaatkan jadi produk berfaedah dan mempunyai nilai ekonomi. Harapannya, pengetahuan nan diperoleh bisa diterapkan berkepanjangan dan menjadi contoh bagi masyarakat lainnya," katanya.

Ke depan, UP berbareng Mat PeCi berkomitmen melanjutkan kerja sama melalui program pendampingan, monitoring, dan peningkatan kapabilitas masyarakat. "Program ini diharapkan jadi model pemberdayaan berbasis teknologi tepat guna nan mudah direplikasi di beragam daerah." (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia