Ilustrasi(Dok Istimewa)
KEMENTERIAN Agama berbareng sejumlah lembaga filantropi dan mitra strategis menyalurkan support senilai Rp23,55 miliar kepada lebih dari 52 ribu penerima dalam rangka peringatan Lebaran Yatim dan Penyandang Disabilitas 1448 H. Program ini menjangkau 50.113 anak yatim dan 2.488 penyandang disabilitas nan tersebar di 34 provinsi.
Secara simbolis, support diserahkan kepada 395 anak yatim dan 55 penyandang disabilitas. Bantuan tersebut merupakan hasil kerjasama Kementerian Agama dengan beragam mitra, di antaranya BAZNAS, Badan Wakaf Indonesia (BWI), perbankan syariah, serta sejumlah Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS).
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengatakan, peringatan 10 Muharam semestinya menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian terhadap anak-anak nan memerlukan perhatian, bukan sekadar seremoni tahunan.
"Mari kita jadikan 10 Muharam ini sebagai hari pembebasan bagi golongan anak yatim dan golongan nan memerlukan perhatian. Kita bebaskan mereka dari beragam kesulitan hidup, kegalauan, dan penderitaan nan mereka alami," kata Menag, dikutip Jumat (26/6).
Menurut Nasaruddin, perhatian terhadap anak yatim dan penyandang disabilitas perlu diwujudkan melalui langkah nan berkelanjutan, seperti memperluas akses pendidikan, pengembangan kapabilitas diri, hingga membuka kesempatan nan lebih besar bagi mereka untuk berperan-serta di masyarakat.
Ia juga membujuk masyarakat menjadikan Lebaran Yatim sebagai tradisi sosial nan terus berkembang sehingga bisa memperkuat solidaritas sekaligus menghadirkan faedah bagi golongan rentan.
"Kalau kita menjadi orang nan lapang dada, maka seluruh dendam bakal terkubur, seluruh sakit hati bakal terobati, dan beragam persoalan dapat diselesaikan. Itulah makna lebaran nan sesungguhnya," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad menjelaskan bahwa penyelenggaraan Lebaran Yatim dan Penyandang Disabilitas tahun ini mengusung konsep nan lebih luas dibanding sekadar penyaluran santunan. Kegiatan dirancang sebagai ruang pemberdayaan agar anak-anak dapat menunjukkan potensi dan kreativitasnya.
"Kami mau menghadirkan ruang nan lebih luas bagi anak yatim dan penyandang disabilitas untuk mengekspresikan potensi terbaik mereka. Mereka bukan sekadar penerima manfaat, tetapi bagian krusial dari pembangunan sosial keagamaan," ujar Abu.
Konsep tersebut diwujudkan melalui lima area kegiatan, ialah Zona Tumbuh sebagai ruang edukasi, Zona Berdaya untuk pengembangan kapabilitas dan keterampilan, Barokah Market nan menampilkan produk pemberdayaan, Zona Ekspresi sebagai wadah seni dan kreativitas, serta Zona Cahaya nan menjadi letak pelelangan karya anak-anak binaan.
Abu mengatakan, penyelenggaraan program melibatkan 14 lembaga di tingkat pusat dan berjalan secara serentak di seluruh Indonesia melalui 34 Kantor Wilayah Kementerian Agama serta ratusan kabupaten dan kota.
Berdasarkan info panitia, total support nan sukses dihimpun dan disalurkan mencapai Rp23.554.782.009. Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan nilai pendistribusian support terbesar, ialah Rp7.575.980.800, sedangkan Rumah Zakat tercatat sebagai lembaga dengan kontribusi penyaluran support paling besar dalam program kerjasama tersebut.
Abu menegaskan bahwa keberhasilan program tersebut tidak lepas dari sinergi beragam pihak, mulai dari pemerintah, lembaga zakat, lembaga wakaf, bumi usaha, hingga masyarakat.
"Kekuatan utama program ini adalah kolaborasi. Ketika pemerintah, lembaga zakat, lembaga wakaf, bumi usaha, dan masyarakat bergerak bersama, faedah nan dirasakan anak-anak menjadi jauh lebih besar," tuturnya.
Ia menambahkan, kerjasama lintas sektor menjadi modal krusial untuk memperluas jangkauan support bagi anak yatim dan penyandang disabilitas di beragam daerah.
"Kolaborasi ini membuktikan bahwa kepedulian sosial dapat menjadi aktivitas berbareng nan berakibat luas. Semakin banyak pihak nan terlibat, semakin besar pula faedah nan dapat dirasakan oleh anak-anak yatim dan penyandang disabilitas di seluruh Indonesia," pungkasnya. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·