Hutan diyakini Indonesia menjadi solusi untuk menghentikan perubahan iklim.(MI)
MENTERI Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan Indonesia siap untuk menjadi pemimpin solusi iklim berbasis hutan di tingkat global. Menhut dalam keterangannya nan diterima di Jakarta, Jumat (26/6), menegaskan komitmen Indonesia untuk memimpin transisi dunia dari ambisi suasana menuju penerapan nyata melalui penguatan tata kelola kehutanan, pengembangan pasar karbon berintegritas tinggi, serta penemuan pembiayaan konservasi.
“Indonesia tidak hanya mau menjadi bagian dari transisi dunia menuju ekonomi rendah karbon, tetapi juga turut memimpin transformasi tersebut melalui solusi suasana berbasis alam nan kredibel, berintegritas, dan memberikan faedah nyata bagi masyarakat,” kata Raja Antoni.
Ia mengatakan, Indonesia telah menunjukkan kemajuan nyata dalam pengelolaan rimba dan tindakan iklim. Salah satu capaian krusial adalah keberhasilan menurunkan luas kebakaran rimba dan lahan (karhutla) dari 2,61 juta hektare pada tahun 2015 menjadi sekitar 359 ribu hektare pada tahun 2025 melalui penguatan pencegahan, pemantauan terpadu, pengelolaan gambut, operasi lapangan, dan penegakan norma nan konsisten.
Selain itu, program Perhutanan Sosial telah memberikan akses kelola lebih dari 8,3 juta hektare kepada masyarakat dengan faedah bagi sekitar 1,4 juta kepala keluarga, sementara pengakuan rimba budaya terus dipercepat sebagai bagian dari penguatan peran masyarakat dalam menjaga hutan.
Untuk mendukung Indonesia FOLU Net Sink 2030, Indonesia terus memperkuat tata kelola pasar karbon melalui Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 serta Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 6 dan Nomor 7 Tahun 2026 nan memberikan kepastian izin bagi aktivitas karbon di sektor kehutanan.
“Pada tanggal 6 Juli mendatang, Kementerian Kehutanan bakal menerbitkan persetujuan dan memfasilitasi publikasi angsuran karbon kehutanan dengan volume melampaui 30 juta ton CO2e,” kata Raja Antoni.
“Ini merupakan salah satu tonggak paling signifikan dalam pengembangan pasar karbon rimba Indonesia dan menunjukkan komitmen kami untuk menerjemahkan ambisi kebijakan menjadi kesempatan pasar nan nyata,” imbuhnya.
Selain itu, Menhut juga memperkenalkan beragam langkah inovatif Indonesia dalam pembiayaan konservasi, termasuk pembentukan Satuan Tugas Pembiayaan Inovatif Taman Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026.
Gugus tugas tersebut sedang mengembangkan beragam instrumen pembiayaan inovatif seperti pembiayaan karbon, angsuran biodiversitas, investasi restorasi ekosistem, wisata alam berkelanjutan, dan blended finance untuk mendukung pengelolaan 57 taman nasional Indonesia.
Di sisi lain, dia menilai Indonesia dan Inggris mempunyai kesempatan besar untuk memperkuat kemitraan dalam bagian finansial berkelanjutan, prasarana pasar, tata kelola, dan penemuan pembiayaan iklim.
“Kemitraan tersebut diharapkan dapat mempercepat perlindungan alam, mobilisasi investasi hijau, serta pembuatan kesempatan ekonomi berkepanjangan bagi masyarakat,” ujarnya. (Ant/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·