Essay Contest Beberkan Potret Keresahan Generasi Muda dan Tawarkan Solusi Adaptif

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Essay Contest Beberkan Potret Keresahan Generasi Muda dan Tawarkan Solusi Adaptif Ilustrasi(MI/DEDE SUSIANTI)

SEBANYAK 16 mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus alias nan disebut Beswan Djarum tampil dengan percaya diri, di hadapan tiga juri  Final Nasional Essay Contest di Grand Mercure, Badung, Bali,  pada Kamis (25/6) dan Jumat (26/6). 

Ketiga juri itu ialah Najwa Shihab, Jurnalis Senior dan Pendiri Narasi TV,  Prof. Ronny Rachman Noor, Guru Besar IPB University dan Gloria Tamba, Beswan Djarum 2005/2006 nan juga seorang pengacara.

Di hadapan ketiganya, mereka tidak hanya membeberkan realita,  persoalan-persoalan, tapi juga beradu pendapat solusinya. 

Potret keresahan generasi muda tergambar dari isu-isu terkini nan dituliskan dalam essay-essay mereka. 

Tema kesehatan mental, misalnya, cukup mendominasi. Disusul oleh literasi digital dan penyebaran disinformasi, kesenjangan akses pendidikan, pengelolaan lingkungan dan sampah, pemberdayaan masyarakat, hingga pemanfaatan teknologi. 

Hal ini menunjukkan kepekaan generasi muda dalam mengawasi problematika sosial dan bangsa terkini, serta upaya mencari celah untuk berkontribusi melalui solusi.

Najwa Shihab mengapresiasi kualitas pendapat para finalis.

"Saya menikmati karya tulis kalian, saya hafal siapa menulis apa, dan dari universitas mana, saya betul-betul membaca. Saya mengapresiasi, tulisan-tulisan ini menawarkan sesuatu perihal nan baru dari kacamata berbeda, dan mencoba mencari solusi dari masalah nan terjadi. Di sini ada 16 finalis nan terpilih dari 533," ungkapnya. 

"Dari membaca esai, terbukti ada orisinalitas, ada keberanian intelektual, dan ada keahlian untuk berpikir kritis. Semua perihal nan dibutuhkan hari-hari ini sebagai calon pemimpin," imbuhnya.

Sejalan dengan semangat tersebut, Profesor Ronny Rachman Noor,  menekankan bahwa proses penyampaian pendapat tidak kalah krusial  dibandingkan proses menulisnya. 

Menurutnya, presentasi menjadi ruang bagi para finalis untuk menguji, mempertajam, dan mengembangkan buahpikiran melalui obrolan nan konstruktif.

“Ini bukan ujian skripsi, tenang saja kelak presentasinya. Kegiatan ini jadi arena gimana menerapkan  ide-ide nan telah ditulis. Ini kesempatan baik bagi Anda semua. Anggap saja sesi presentasi ini sebagai kawan diskusi," katanya.

Sementara itu, Gloria Tamba, Beswan Djarum 2005/2006, menilai kejuaraan ini mengingatkannya pada  proses pembelajaran nan dia jalani selama menjadi Beswan Djarum. 

Menurutnya, beragam pelatihan, pendampingan, dan kesempatan untuk mengasah keahlian berpikir kritis serta menulis menjadi bekal nan terus dia gunakan hingga sekarang dalam profesinya sebagai advokat. 

"Apa nan saya terima sebagai Beswan Djarum sangat berfaedah bagi bumi kerja. Gelar Beswan Djarum membantu saya di bumi kerja. Selamat berlomba, kita bisa berbangga, bahwa kita adalah orang-orang terpilih nan menjadi Beswan Djarum."

Melalui Essay Contest Djarum Beasiswa Plus, Bakti Pendidikan Djarum Foundation menegaskan komitmennya untuk menumbuhkan generasi muda nan mempunyai daya saing dari sisi kognitif, peka terhadap isu-isu terkini, dan mempunyai karakter kepemimpinan. Sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045,generasi muda nan unggul dan berbudaya menjadi fondasi masa depan bangsa.

Ke-16 beswan nan menhadi finalis itu ialah Jocelyn Kristanti dari Universitas Padjadjaran dengan titel essay "Media Sosial Meresepkan: Bahaya Fenomena Self-Diagnosis Kesehatan Mental pada Generasi Z", Vania Nyr Aneira mahasiswa  Universitas Padjadjaran dengan titel essay "Berdarah dan Berbayar: Ketika Menstruasi Menjelma Menjadi Kemewahan nan Tak Terjangkau". 

Kemudian ada Caroline Niel Amaris Purnomo, mahasiswa Universitas Katolik Soegijapranata dengan titel essay " Di Balik Zona Nyaman Semu: Krisis Hubungan Autentik di Era AI Companion", Muhammad Akramul Faroghy Sadin, mahasiswa  Universitas Mataram dengan titel " Di Balik Setiap Lapisan Paket: Ancaman Masif Limbah Plastik Bubble Wrap di Era Belanja Daring",  Lola Nadya Putri, mahasiswa  Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta dengan titel essay  "Dilema Crab Mentality: Si Gendhuk Terlalu Bersinar untuk Desanya, Terlalu Redup untuk Dunia" dan Fernaldy Bima Adiputra mahasiswa  Universitas Bina Nusantara dengan titel "Menggugat Impunitas Finfluencer dan Urgensi Akuntabilitas Institusi Sekuritas. 

Mereka tampil di hari Kamis (25/6). Selain persentasi, ada juga sesia tanya jawab dari para juri dan tanya jawab dari para finalis lainnya. 

Sementara itu, 10 beswan lainnya  tampil pada hari Jumat (26/6). Mereka adalah Christopher William Piri, mahasiswa  Universitas Nasional Karangturi Semarang dengan titel essay "Akhiri Teror Jalanan: dari "Kreak" ke Olahraga Berkarakter, Adeline Hartono, mahasiswa  Universitas Diponegoro dengan titel  "Menghapus Doktrin Wangi Berarti Bersih demi Keamanan Konsumen". 

Kemudian ada Fitroh Ghoniyyu Yahya, mahasiswa Universitas Airlangga dengan titel "Tawadhu  sebagai Pisau Bermata Dua: Dekonstruksi Relasi Kuasa dan Reformasi Etika Pesantren",  ada Heka Faza Nur Azizah, seorang mahasiswi  Universitas Pasundan dengan titel  essay “TPU Farm: Ketika Kematian Menumbuhkan Kehidupan”. 

Peserta lainnya ada Syahla Ameera Savitri Siradju, mahasiswi dari IPB University.  Judul esainya " Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga. Kemudian ada  Gabriela Sunsugos Sianturi , seorang mahasiswi dari  Universitas Udayana dengan titel essaynya "Saat ‘Sehat’ Menipu: Bagaimana Sistem Bisa Melindungi Disabilitas Tak Tampak?".

Mahasiswa lain nan juga tampil hari itu, adalah  Wiwin Theresa Hitan, mahasiswi Universitas Tanjungpura dengan titel essaynya "Meruntuhkan Sekat, Membersamai Langkah Anak Berkebutuhan Khusus melalui Ruang Tumbuh Inclusion Link". Kemudian ada Rafiqoh Wahidah, mahasiswi Universitas Bengkulu dengan titel essaynya " di Balik Intu Toilet Masjid, Sanitasi belum Berpihak pada Perempuan". 

Dua peserta lainnya ialah Wijaksara Aptaluhung, mahasiswa ITB dengan titel essay-nya "Ketika Diam Diwariskan: Maskulinitas, Kesehatan Mental dan Siklus nan Membungkam Laki-laki " dan Farhan Aldan Khairian, mahasiswa Universitas Airlangga dengan titel " Layar nan Menelanjangi Duka: Saat Kematian Menjadi Tontotan di Era Digital " .

Abraham D Oktaviari, Program Manager Bakti Pendidikan Djarum Foundation mengatakan dengan Beswan Djarum, pihaknya mau melengkapi apa nan ada dibangku kuliah. 

Menurutnya, essay ini sangat dekat dengan soft skill. Di mana mereka kudu kritis. Terkait dengan analisis, creative  thinking, ide, dan kebaruannya. 

Ketiga perihal itu, lanjutnya, bakal sangat kuat ketika mereka terjun dengan bumi kerja. Mereka bakal dihadapkan dengan permasalahan- permasalahan. 

"Di kuliah scholarship, kita mau melengkapi dengan emosional. Tujuan besarnya beswan agar lulus, dapat pekerjaan nan layak, bisa memberikan sesuatu untuk dirinya." 

"Teman-teman beswan ini berani untuk memberikan gagasan.  Apa nan mereka bisa rasakan, alias isu- isu. Dari buahpikiran itu kita berambisi muncul jadi solusi, memberi kebaruan solusi. Dari solusi ini jadi obrolan nyata dan obrolan publik," tutupnya. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia