Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah terus berupaya melakukan langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan pasokan daya nasional. Terutama di tengah dinamika geopolitik area Timur Tengah.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan impor daya RI, khususnya minyak mentah (crude) memang sebagian tetap berjuntai pada area Timur Tengah. Namun, porsinya relatif mini dan sekarang mulai dialihkan ke negara lain.
"Crudenya sekitar 20-25 persen. Dan kita sudah bisa mendapatkan penggantinya dari beberapa negara seperti Angola, Afrika, Nigeria, Amerika, dan beberapa negara lain. Jadi kita insya allah sudah clear," ujar Bahlil dikutip Kamis (9/4/2026).
Di samping itu, dia menegaskan bahwa Indonesia tidak mengimpor bahan bakar minyak (BBM) jadi dari Timur Tengah, melainkan hanya dalam corak minyak mentah nan kemudian diolah di kilang dalam negeri.
"Kita kan nggak pernah impor BBM jadi dari Timur Tengah, dari Middle East. nan ada itu tinggal crudenya saja," kata Bahlil.
Mengutip info Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2024, produksi minyak mentah Indonesia terus mengalami tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir
Pada 2024, produksi minyak tercatat sebesar 212,33 juta barel alias setara sekitar 581 ribu barel per hari. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya nan tetap berada di atas level tersebut.
Sementara itu, ekspor minyak mentah Indonesia relatif kecil. Sepanjang 2024, ekspor tercatat hanya mencapai 27,2 juta barel. Adapun, impor minyak mentah mencapai 127,79 juta barel jauh lebih besar dibandingkan ekspor.
Data menunjukkan adanya tren peningkatan impor dalam lima tahun terakhir. Pada 2020, impor minyak mentah tercatat sebesar 79,68 juta barel. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 104,40 juta barel pada 2021, naik lagi menjadi 114,52 juta barel pada 2022, dan mencapai 132,38 juta barel pada 2023.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·