Ilustrasi.(Magnific)
SELAMA yang dia ingat, Debbie Eichensehr selalu didera ketakutan bakal kehilangan ibunya. Sejak masa kanak-kanak hingga remaja, dia mencoba meredam kekhawatiran itu dengan ritual sebelum tidur. Ia bakal mencium pipi ibunya dan mengucapkan kalimat nan sama, "Selamat malam, saya sayang Ibu, sampai bertemu besok pagi."
Namun, ketika Shirley Brydalski nan berumur 83 tahun mulai terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit di ruang tamunya, perilaku sang ibu mulai berubah. Shirley mulai berbincang dan bertindak seolah-olah dia berada di tempat lain. Debbie awalnya merasa ngeri, mengira ibunya kehilangan kewarasan akibat kanker kandung kemih metastatik nan dideritanya.
Fenomena ELDVs: Bukan Sekadar Halusinasi
Yang dialami Shirley dikenal dalam bumi medis sebagai End-of-Life Dreams and Visions (ELDVs) alias mimpi dan visi menjelang ajal. Fenomena ini bukanlah fatamorgana akibat obat-obatan alias delirium (kebingungan mental), melainkan pengalaman nan sangat jernih, terstruktur, dan berarti bagi mereka nan mendekati akhir hayat.
Dr. Chris Kerr, Chief Medical Officer di Hospice Buffalo, mempelajari kejadian ini selama nyaris 30 tahun. Risetnya nan diterbitkan dalam Journal of Palliative Medicine pada 2014 menunjukkan kebenaran mengejutkan: 88% pasien hospice mengalami setidaknya satu visi alias mimpi menjelang ajal.
Karakteristik Utama ELDVs:
- Terasa sangat nyata (lebih nyata dari mimpi biasa).
- Sering melibatkan pertemuan dengan orang terkasih nan sudah meninggal.
- Bertema tentang perjalanan alias persiapan untuk pergi.
- Memberikan rasa damai, kenyamanan, dan resolusi atas trauma masa lalu.
Menyembuhkan Trauma melalui Visi
Bagi Shirley, visi tersebut membawanya kembali ke pertanian di Sagamore, Pennsylvania, tempat dia dibesarkan oleh neneknya hingga usia 10 tahun. Melalui visi ini, rahasia besar nan dipendam Shirley selama puluhan tahun terungkap kepada Debbie.
Shirley menceritakan bahwa dia ditinggalkan oleh ibunya nan alkoholik saat bayi dan menyaksikan nenek tercintanya tewas ditembak pada 1953. Meski tragis, dalam visi menjelang ajalnya, Shirley tidak merasakan seram tersebut. Ia justru merasakan kasih sayang neneknya, mencium aroma kembang di kebun, dan mendengar nyanyian dalam bahasa Lituania nan menenangkan.
"Nenek menyayangiku," ujar Shirley kepada Debbie dengan senyum tenang. Visi ini mengubah trauma masa lampau menjadi proses pengobatan emosional di detik-detik terakhir hidupnya.
Pentingnya Pendampingan bagi Keluarga
Dr. Kerr menekankan bahwa memahami ELDVs sangat krusial bagi personil family dan pengasuh. Sering kali, hatikecil pertama family adalah mencoba menyadarkan pasien alias menganggap mereka berhalusinasi. Namun, Dr. Kerr menyarankan untuk mendengarkan dan memvalidasi pengalaman tersebut.
"Ada kehidupan nan mendalam nan sedang terjadi, apalagi saat kematian sudah sangat dekat," kata Kerr. Memahami visi ini membantu family untuk terhubung lebih dalam dengan orang nan mereka cintai, memberikan kesempatan untuk rekonsiliasi dan perpisahan nan damai.
Pada akhirnya, bagi Debbie, visi ibunya tentang pertanian bukan lagi sumber ketakutan. Ia mulai memahami bahwa ibunya tidak sedang kehilangan akal, melainkan sedang bersiap untuk pulang ke tempat dia merasa paling dicintai. Kematian, dalam konteks ini, bukan sekadar akhir dari kegunaan biologis, melainkan penutupan hidup nan manusiawi dan penuh makna. (Washington Post/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·