Tenda-Tenda Harapan di Tengah Luka Kebakaran Kemayoran

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Foto udara usai kebakaran permukiman di Jalan Kemayoran Gempol, Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta, Selasa (2/6/2026). Foto: Adietiya Haswi/HO via REUTERS

Deretan rumah nan gosong terbakar di Kemayoran, Jakarta Pusat, sekarang hanya menyisakan puing dan abu. Tempat nan dulu menjadi ruang berkumpul family berubah menjadi lahan kosong nan dipenuhi sisa-sisa bangunan.

Bagi para korban, pilihan nan tersisa adalah bertahan. Dengan pasrah, mereka sekarang menempati tenda-tenda pengungsian nan berdiri di sekitar letak kebakaran.

Di tengah situasi tersebut, support perlahan mulai berdatangan. Salah satunya dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) nan memberikan support kepada 26 korban kebakaran di SDN Kebon Kosong 09, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Meski kehilangan tempat tinggal dan banyak peralatan berharga, para penyintas tampak berupaya tegar. Tidak terlihat raut putus asa di wajah mereka. Salah satunya adalah Darni (57), pembimbing PAUD nan juga menjabat sebagai Ketua RW 04 Kelurahan Kebon Kosong.

Darni (57), Guru PAUD sekaligus Ketua RW 04 Kelurahan Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat nan menjadi korban kebakaran pada Rabu (3/6/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Di Lapangan Jusuf Hamka, tempat para korban mengungsi, berdiri 10 tenda nan sekarang menjadi rumah sementara bagi puluhan keluarga.

“Masing-masing tenda rata-rata ada 50 KK, ada 15 KK, ada 35 KK, ya berbeda-beda sesuai kapabilitas tenda nan disediakan,” tutur Darni saat berbincang dengan kumparan.

Menurut Darni, kebakaran tersebut berakibat pada sekitar 250 gedung di wilayahnya. Dari musibah itu, sebanyak 300 family alias 527 jiwa kehilangan tempat tinggal.

Namun di tengah kehilangan nan begitu besar, Darni memandang satu perihal nan menguatkan; ketabahan para warga.

“Kayaknya tidak ada juga nan berkepanjangan apa ya sedih gitu lantaran apa pun itu ujian kudu kita terima kan gitu,” ujar Darni.

Mendikdasmen, Abdul Mu'ti saat bercengkerama dengan para siswa di SDN Kebon Kosong 09, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Baginya, kesedihan berkepanjangan bukanlah pilihan. Kehidupan kudu tetap berjalan, meski dimulai dari titik nan nyaris nol.

Darni sendiri berterima kasih lantaran aktivitas belajar di PAUD tempatnya mengajar tidak ikut terhenti. Meski sebagian bahan ajar dan koleksi kitab miliknya lenyap dilahap api, dia tetap dapat melanjutkan aktivitas pendidikan bagi anak-anak.

“Saya kebetulan senang membaca di rak-rak kitab gitu, jadi itu nan tidak terbawa. Tapi file-file yang berupa lembaran itu saya ada file khusus, itu saya selamatkan,” ungkap Darni.

Harapan penduduk juga perlahan tumbuh seiring datangnya beragam bantuan. Setiap hari mereka menerima support pangan dari Kementerian Sosial. Makanan siap saji juga mengalir dari beragam pihak, termasuk perusahaan swasta dan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka.

Sementara itu, Kemendikdasmen memberikan santunan sebesar Rp 10 juta kepada Darni dan tenaga pendidik lain nan terdampak kebakaran.

Sejumlah pengungsi menjalani aktivitas di tenda darurat nan disediakan di Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Menariknya, kondisi serba terbatas tidak membikin semangat berbagi para penyintas ikut padam. Saat support makanan datang dalam jumlah besar, mereka justru memilih membagikannya kepada para petugas nan siang dan malam membantu di lokasi.

“Kadang-kadang mereka tiba-tiba memberikan support berupa Nasi Padang 100 bungkus, itu kan enggak mungkin kami keep ya, jadi langsung kami bagikan. Dan itu biasanya kami bagikan untuk petugas nan membantu seperti PPSU, terus ada Bina Marga, pokoknya nan stay di wilayah,” ungkap Darni.

Selain kebutuhan fisik, perhatian juga diberikan pada kondisi psikologis para korban. Darni menilai secara umum mental penduduk tetap stabil. Meski demikian, pendampingan tetap diperlukan, terutama bagi anak-anak dan pembimbing nan mengalami langsung peristiwa kebakaran.

Untuk itu, Kemendikdasmen menggandeng Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) guna memberikan jasa pendampingan psikologis kepada para penyintas.

“Kami sekarang ini sedang asesmen awal untuk terutama para penyintas nan mengalami kebakaran, anak-anak SD nan mengalami kebakaran. Kami sedang melakukan asesmen dan nantinya setelah dari hasil asesmen itu bakal dilakukan beragam intervensi,” ujar Ketua Umum HIMPSI, Andik Matulessy.

Sejumlah pengungsi menjalani aktivitas di tenda darurat nan disediakan di Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

“Bisa itu jika mereka mengalami trauma, ya trauma healing, tetapi sebagian besar biasanya ada support psikososial bagi mereka, terutama sekali pada anak-anak itu,” sambungnya.

Menurut Andik, corak pendampingan bakal disesuaikan dengan kondisi masing-masing korban. Semakin berat akibat nan dialami, semakin panjang pula proses pemulihannya.

“Kalau memang dalam kondisi nan berat dan tidak bisa, tidak bisa misalnya rumahnya tidak bisa langsung kemudian dibangun lagi, maka juga memerlukan pendampingan nan lebih lama,” sebut Andik.

Pendampingan tidak hanya diberikan kepada siswa. Para pembimbing juga bakal dibekali keahlian dasar untuk mengenali dan menangani persoalan psikologis nan mungkin muncul setelah bencana.

“Biasanya kami memberikan PFA ya, Psychological First Aid, support psikologis awal, terutama sekali kami melatih agar guru-guru dan tendik itu bisa mengintervensi jika anak-anak mengalami persoalan-persoalan,” ungkap Andik.

“Tetapi jika sudah sampai pada persoalan nan lebih kompleks, maka kudu dirujuk pada psikolog,” pungkasnya.

Di antara puing-puing nan tersisa, penduduk Kebon Kosong perlahan menata kembali angan mereka. Rumah boleh lenyap dilalap api, tetapi semangat untuk bangkit tampaknya belum ikut terbakar.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan