Kelompok Hak Imigran AS Waspadai Operasi ICE Jelang Piala Dunia 2026

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Kelompok Hak Imigran AS Waspadai Operasi ICE Jelang Piala Dunia 2026 Protes penduduk AS terhadap operasi ICE(X)

KELOMPOK pembela kewenangan imigran di 11 kota tuan rumah Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat mulai meningkatkan beragam langkah perlindungan bagi masyarakat dan suporter menjelang turnamen nan bakal dimulai pada 11 Juni.

Langkah tersebut diambil menyusul kekhawatiran terhadap aktivitas penegakan norma imigrasi oleh US Immigration and Customs Enforcement (ICE) selama berlangsungnya turnamen sepak bola terbesar di bumi itu.

Di Los Angeles, serikat pekerja nan mewakili lebih dari 2.000 pekerja perhotelan di Stadion SoFi menakut-nakuti mogok kerja andaikan pemasok ICE beraksi di sekitar letak pertandingan nan diperkirakan bakal dihadiri sekitar 70.000 penonton setiap laga.

Sementara itu di Dallas, golongan kewenangan sipil El Movimiento DFW membagikan ratusan paket peluit nan berisi info mengenai langkah memperoleh konsultasi cuma-cuma dengan pengacara imigrasi di gereja, tempat usaha, dan kompleks apartemen sebagai langkah antisipasi andaikan pemasok ICE melakukan penahanan.

Lebih dari 120 organisasi masyarakat sipil juga mengeluarkan peringatan perjalanan bagi sekitar 10 juta calon visitor mengenai potensi "pelanggaran kewenangan nan serius" dalam situasi politik saat ini, termasuk "penolakan masuk secara sewenang-wenang dan akibat penangkapan, penahanan, dan/atau deportasi".

Piala Dunia 2026 sendiri digelar di tengah kebijakan penindakan imigrasi besar-besaran nan dijalankan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Pemerintah AS belum menutup kemungkinan adanya penangkapan di sekitar letak pertandingan, meskipun Menteri Luar Negeri Marco Rubio sebelumnya menyebut ICE tidak bakal beraksi di dalam stadion.

"Departemen Keamanan Dalam Negeri bekerja sepanjang waktu berbareng mitra federal, negara bagian, lokal, dan internasional untuk memastikan lingkungan nan kondusif dan terjamin bagi pemain, penggemar, dan organisasi nan menjadi tuan rumah aktivitas ini," kata Pelaksana Tugas Asisten Sekretaris Departemen Keamanan Dalam Negeri, Lauren Bis dikutip dari AFP.

"Keselamatan dan keamanan rakyat Amerika serta jutaan visitor nan menghadiri aktivitas ini tetap menjadi prioritas tertinggi kami," lanjutnya.

Sebagai respons, beragam organisasi memperkuat jaringan respons sigap dan support hukum. Direktur Komunikasi Workers Defense Action Fund, Christine Bolanos, mengatakan organisasi imigran Latino mempunyai kedekatan nan kuat dengan sepak bola.

"Kami tahu bahwa sepak bola adalah sesuatu nan dimainkan alias ditonton oleh banyak orang di organisasi imigran Latino sejak mereka kecil," ujarnya.

"Pertandingan ini semestinya menyatukan orang-orang, dan kami mau para fans mengetahui risikonya serta siap menghadapi kemungkinan pertemuan dengan petugas," tambahnya.

Setelah mendapat tekanan dari beragam pihak, kepolisian di Atlanta, Seattle, dan Los Angeles akhirnya mengumumkan tidak bakal bekerja sama dengan ICE dalam urusan penegakan norma imigrasi.

"Ketika ada peningkatan abdi negara keamanan hingga sepuluh kali lipat, ada akibat nyata bahwa masyarakat lokal, baik imigran maupun bukan imigran, bakal ikut terjaring dalam operasi penegakan hukum," kata pemimpin koalisi nasional Dignity 26, Jennifer Li.

Li menghubungkan para pengacara imigrasi berilmu dengan golongan respons sigap di beragam kota tuan rumah, serta bekerja sama dengan tim norma Airport Lawyers untuk mengaktifkan kembali situs guna menghubungkan pengacara sukarela dengan penduduk negara asing nan terdampak larangan perjalanan.

Di Miami, organisasi imigran didorong untuk melaporkan aktivitas ICE melalui jasa hotline nan dioperasikan Florida Rapid Response Alliance for Immigrant Safety and Empowerment.

"Bagi kami, dua perihal itu adalah penyelamat," kata Yareliz Mendez Zamora dari American Friends Service.

"Ini memang masa nan menakutkan, tetapi juga masa nan bagus ketika kami bisa bekerja sama dan saling melindungi," lanjutnya.

Sementara di Seattle, sejumlah organisasi memanfaatkan sorotan internasional Piala Dunia untuk mendorong perlindungan nan lebih luas bagi organisasi imigran.

CJ Garcia dari Working Washington mengaku cemas pemerintah federal dapat memanfaatkan arena tersebut untuk menjadikan Seattle sebagai contoh lantaran mempunyai sejarah mendukung organisasi imigran.

"Panggung dunia ini adalah kesempatan untuk menyampaikan angan kami sebagai masyarakat," ujarnya.

Working Washington berbareng puluhan organisasi nirlaba, pemimpin agama, dan serikat pekerja turut berasosiasi dalam kampanye nasional "No ICE in the Cup" dengan menggelar aktivitas nonton berbareng bebas ICE dan turnamen sepak bola usia muda.

Di Philadelphia, West Philadelphia Corridor Collaborative meluncurkan kampanye pengumpulan tanda tangan dari pelaku upaya intermezo malam, restoran, dan bar nan bersedia menjadi ruang kondusif bagi organisasi imigran.

Presiden organisasi tersebut, Jabari Jones, menyatakan pihaknya juga membangun jaringan respons sigap nan melibatkan pengacara imigrasi untuk membantu pelaku upaya nan menjadi sasaran penggerebekan.

"Jika Anda tidak melihat, setidaknya, penerimaan pajak nan sebanding dengan investasi nan dikeluarkan, maka Anda telah menciptakan defisit nan kudu ditanggung para pembayar pajak," kata Jones.

"Yang dibutuhkan hanyalah beberapa kejadian besar mengenai penahanan orang untuk mengirim pesan kepada visitor bahwa wilayah Anda tidak mendukung pariwisata," pungkasnya. (Ndf/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia