“Aku bisa handle sendiri.”
“I don’t need anyone, I have myself.”
Familiar? Mungkin Anda pernah bilang sendiri alias lihat ratusan kali di FYP. Di TikTok, konten tentang “I don’t need anyone” ditonton jutaan kali. Di X, “unbothered” menjadi identitas nan dirayakan. Bagi sebagian Gen Z, romantisasi kemandirian kadang muncul bukan semata lantaran kebanggaan, tetapi juga dari pengalaman emosional nan belum sepenuhnya dipahami.
Kamu bangga bisa survive sendirian. Tapi pernahkah Anda bertanya: siapa nan mengajarimu bahwa meminta tolong itu berbahaya?
Bukan Mandiri, Ini Hyper-Independence
Tidak ada nan salah dengan bisa mengurus diri sendiri. Tapi ada jenis lain dari kemandirian nan perlu kita kenali, ialah hyper-independence. Dalam literatur ilmu jiwa klinis, hyper-independence sering digunakan untuk menggambarkan pola perilaku ketika seseorang kesulitan berjuntai pada orang lain, termasuk kecenderungan menolak support apalagi ketika mereka membutuhkannya, lantaran bagi mereka meminta tolong terasa tidak aman, memalukan, dan tidak perlu. Seseorang mungkin bisa terlalu berdikari lantaran dia belajar bahwa dia tidak dapat mempercayai orang lain, sehingga hanya dapat mengandalkan diri sendiri dan menciptakan batas nan kaku dari orang lain. Di sisi lain, kemandirian nan sehat artinya seseorang bisa mengurus dirinya sendiri dan tahu kapan kudu meminta bantuan.
Dalam kerangka attachment theory yang dikembangkan oleh John Bowlby, pola ini sering dipahami sebagai compulsive self-reliance, bahwa kemandirian nan muncul lahir dari pembelajaran nan berjalan sejak mini bahwa berjuntai kepada orang lain itu tidak aman. Dalam sebagian kasus, ketika anak terus-menerus mencari respons emosional dan tidak mendapatkannya, dapat meningkatkan kemungkinan berkembangnya pola avoidant attachment, artinya dia belajar menekan kebutuhannya sendiri apalagi dari dirinya sendiri.
Emotional Neglect
Psikolog Jonice Webb, PhD. dalam bukunya Running On Empty: Overcome Your Childhood Emotional Neglect (2013), medefinisikan Childhood Emotional Neglect (CEN) sebagai kegagalan orang tua dalam merespons, hadir, dan memperhatikan kebutuhan emosional anak. CEN susah dikenali lantaran bukan soal kejadian traumatis nan dramatis, tetapi tentang apa nan tidak terjadi. Webb menyebut bahwa anak nan emosinya diabaikan, secara tidak langsung diajarkan bahwa perasannya itu tidak penting, sehingga mereka belajar menyembunyikan perasaannya itu apalagi dari diri mereka sendiri.
Tidak ada nan menanyakan perasaanmu. Tidak ada nan duduk menemanimu saat sedih. Atau mungkin setiap kali Anda menangis, itu dianggap terlalu berlebihan. Setiap kali butuh dukungan, Anda diajarkan untuk mengurus dirimu sendiri. Kamu belajar bahwa perasaanmu bukan urusan siapa pun, apalagi bukan sesuatu nan perlu divalidasi oleh dirimu sendiri.
Menurut Webb, salah satu akibat umum dari CEN adalah anak nan tumbuh menjadi orang nan sangat pandai mengurus dirinya sendiri. Tetapi dia tidak tahu langkah meminta bantuan, tidak tahu langkah menerima kasih sayang, dan seringkali tidak mengenali kebutuhan emosionalnya sendiri.
Ketika seorang anak berulang kali mencari hubungan emosionalnya dan tidak menemukannya, otak mulai menyimpulkan bahwa berjuntai kepada orang lain merupakan suatu perihal nan berisiko. Bukan berfaedah anak berakhir memerlukan kasih sayang alias kedekatan, melainkan mereka hanya belajar menyembunyikan kebutuhan itu, apalagi dari diri mereka sendiri.
Gen Z dan Budaya nan Meromantisasi “Gak Butuh Siapa pun”
Bagi sebagian Gen Z, terutama nan tumbuh dalam family nan kurang ruang untuk emosi, ada dua tekanan nan saling memperkuat. Pertama, pola asuh dari generasi sebelumnya nan sering merespons emosi dengan kalimat seperti "jangan cengeng," "masalah mini kok dibesar-besarkan," alias "selesaikan sendiri." Emosi dianggap sebagai suatu perihal nan berlebihan.
Kedua, media sosial nan ikut membentuk standar baru tentang gimana seseorang semestinya terlihat. Emotional detachment terlihat elegan. Menjadi low maintenance friend, tidak berjuntai pada siapa pun, tampak tidak memerlukan siapa pun, dan selalu terlihat unbothered sering kali dianggap keren dan dewasa. Padahal, tidak semua corak kemandirian lahir dari rasa aman. Sebagian lahir dari pengalaman emosional nan membikin seseorang percaya bahwa berjuntai kepada orang lain hanya bakal berhujung dengan kekecewaan.
Menurut laporan World Mental Health Today nan dirilis WHO pada September 2025, lebih dari 1 miliar orang di bumi hidup dengan gangguan mental dan sebagian besar tidak mendapat pertolongan nan memadai. Pada sebagian Gen Z, kesenjangan ini muncul mungkin bukan hanya lantaran keterbatasan akses, tetapi juga lantaran kepercayaan nan sudah tertanam sejak lama bahwa mereka semestinya bisa untuk menyelesaikannya sendiri.
Hyper-independence kemudian terasa seperti kekuatan. Kamu nan tidak pernah merepotkan orang lain. Kamu nan selalu punya solusi. Kamu nan baik-baik saja, apalagi ketika sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Sering kali tandanya muncul secara halus, misalnya merasa bersalah ketika meminta bantuan, bingung ketika ditanya "kamu butuh apa?", alias merasa lebih nyaman menolong orang lain daripada menerima pertolongan.
Seperti dalam The Body Keeps the Score, Bessel van der Kolk, menulis bahwa “The challenge of recovery is to reestablish ownership of your body and your mind, of your self.” Dan pemulihan itu dimulai dari perihal sederhana, ialah menyadari bahwa sekarang mungkin sudah cukup kondusif untuk memulai.
Menyadari bahwa kemandirianmu berakar dari pengalaman nan menyakitkan, berfaedah akhirnya Anda mempunyai kesempatan untuk memilih, bukan sekadar bereaksi dari luka lama. Meminta tolong bukanlah suatu kelemahan. Bagi sebagian orang, itu merupakan perihal nan dulu terasa tidak cukup kondusif untuk dilakukan.
Langkah kecilnya bisa dimulai dengan sesuatu nan sederhana, seperti jika ada nan bertanya “kamu baik-baik saja?”, coba jawab dengan jujur, meski hanya sedikit. Atau saat Anda memerlukan sesuatu, coba beri tahu apa nan Anda butuhkan walaupun tidak perlu semuanya, cukup satu hal. Hal sederhana ini bakal membikin tubuh dan pikiran belajar bahwa meminta tolong tidak selalu berhujung dengan kekecewaan.
Karena sebagian anak tumbuh berdikari lantaran mereka merasa tidak punya pilihan lain. Mungkin sekarang perlahan Anda bisa mulai belajar bahwa keadaan sudah lebih kondusif daripada sebelumnya.
___________________________________________________________________
Oleh Dzikra Almayda Patra, Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog.
12 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·