Jakarta, CNN Indonesia --
Sekretaris Kabinet Letkol TNI Teddy Indra Wijaya buka bunyi sekaligus menjawab kritik dan masukan dari eks Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal yang menyoroti tingginya gelombang kunjungan luar negeri Presiden RI Prabowo Subianto.
Hal ini tak terlepas dari kunjungan Prabowo ke Prancis belum lama ini nan dinilai mendadak dan menuai sorotan publik, mengingat Prabowo baru saja ke Prancis pada April dan Januari lalu.
Teddy menegaskan kritik dan masukan itu krusial selama tidak mengaburkan fakta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena saya di-mention oleh Pak Dubes Dino, saya mau meluruskan beberapa hal. Sebelumnya, terima kasih atas masukan nan telah diberikan, sangat jeli dan terstruktur," ujar Teddy di akun media sosial IG milik Sekretariat Presiden, Senin (1/6).
"Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi wakil menteri luar negeri meski hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan," sambung Teddy.
Setidaknya ada empat poin respons kritik dan sejumlah hasil kongkret nan disebut Teddy didapat dari tindakan diplomasi Prabowo dalam 1,5 tahun terakhir.
Empat poin itu adalah soal biaya perjalan keluar negeri, jumlah rombongan presiden keluar negeri, penjadwalan, dan protokoler serta gelombang kunjungan keluar negeri.
"Jadi nan pertama masalah biaya jika keluar negeri. Ini sudah dijelaskan beberapa kali, jadi segala kelebihan biaya nan telah dianggarkan oleh negara. itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo," kata Teddy.
Selain itu, dia menegaskan jumlah orang dalam rombongan kunjungan luar negeri Prabowo sudah berkurang besar-besaran--hampir 50 persen--dari periode pemerintahan sebelumnya.
"Nah, jika dulu itu itu sekali keluar negeri bisa lebih dari dari 120 orang--zaman Pak Dino seperti itu. Nah, era Pak Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal," tegas Teddy.
Teddy juga menegaskan Prabowo menjadi presiden ketika kondisi bumi sedang bergerak hari per hari, dan dipenuhi bentrok global.
Oleh lantaran itu, sambungnya, Prabowo perlu membangun dan menjalin hubungan dengan para pemimpin dunia.
"Kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Tidak. Kita kudu panen hubungan nan baik. Lalu jika suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan. dan begitu pula sebaliknya," kata Teddy.
"Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antarpemimpin, baik secara langsung, diliput media ataupun tertutup," sambungnya.
[Gambas:Instagram]
Teddy menegaskan tudingan nan menyebut kunjungan luar negeri Prabowo hanya demi gagah-gagahan alias seremonial itu adalah tudingan nan 'salah besar'.
Dia pun menegaskan tindakan diplomasi nan dipimpin Prabowo selama 1,5 tahun terakhir telah membuahkan hasil kongkret.
Dari mulai kelanjutan kerja sama dalam BRICS nan membikin kondisi BBM dan stok pangan tetap kondusif di tengah bentrok dunia setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran, lampau tarif 0 persen dari Uni Eropa nan baru terwujud di era kepresidenan Prabowo pada 2025 lalu, dan jumlah investasi nan masuk.
"Total investasi nan masuk dalam 1,5 tahun ini adalah sekitar Rp2.430 triliun, itu info dari BKPM," katanya.
"Kemudian, contoh konkret lagi ini, bulan lampau Presiden Prabowo ke Jepang dan kKorea, kembali langsung ada investasi sekitar Rp575 triliun," sambung Teddy
Teddy juga menyinggung soal kekuatan tempur alias alutsista Indonesia saat ini, penyelenggaraan haji serta terwujudnya perkampungan haji RI di Tanah Suci, dan peran aktif untuk membantu Palestina.
"Itu adalah hasil kongret nyata 1,5 tahun terakhir. Dan, semua itu adalah hasil diplomasi nan dilakukan Presiden Prabowo lewat beragam langkah baik dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan," sambungnya.
Dino sebelumnya menilai pola perjalanan luar negeri Prabowo telah memunculkan perhatian publik. Sehingga dia menyampaikan sejumlah masukan, mulai dari pengurangan lawatan hingga pemanfaatan diplomasi virtual.
Dino menyampaikan pandangan itu dalam unggahan di Instagram nan ditujukan kepada Prabowo. Ia mengaku merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk menyampaikan pandangan mengenai politik luar negeri Indonesia.
"Bapak Presiden telah menganugerahkan Bintang Mahaputera kepada saya nan berfaedah Bapak mempercayai kredibilitas dan pandangan saya mengenai politik luar negeri. Karena itu, saya juga merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk menyampaikan pesan apa adanya," kata Dino dalam video tersebut, Sabtu (30/5).
Dino mengimbau Prabowo agar secara signifikan mengurangi gelombang kunjungan luar negeri dan tidak menganggap remeh bunyi publik mengenai perihal tersebut.
"Dalam kalkulasi kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara nan paling sering melakukan perjalanan keluar negeri. Semenjak menjabat menjadi presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri dan tidak heran jika ada nan beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar pemisah kewajaran," ujarnya.
[Gambas:Instagram]
Dino mengaku susah membayangkan Prabowo terus melakukan perjalanan luar negeri dengan intensitas setinggi sekarang selama 18 bulan ke depan.
Ia juga menyoroti besarnya biaya nan kudu dikeluarkan negara dalam setiap kunjungan kepala negara ke luar negeri. Menurutnya, biaya tersebut mencakup tim pendahulu, pesawat, hotel, logistik, konsumsi, protokol, pengamanan hingga duit harian delegasi.
"Satu perjalanan keluar negeri bisa keluar puluhan, apalagi ratusan miliar," katanya.
Dino menyarankan Prabowo lebih mengandalkan video call, telepon, alias pertemuan virtual untuk menjaga komunikasi dengan para pemimpin dunia.
Menurut dia, inti pembahasan dalam kunjungan bilateral umumnya hanya berjalan satu hingga dua jam, sedangkan sebagian besar agenda lainnya berkarakter seremonial.
(kid/gil)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·