Sustainability tak Cukup Sekadar Klaim

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Sustainability tak Cukup Sekadar Klaim Pelaku upaya didorong membuktikan klaim sustainability melalui info transparan.(Dok. MI)

KLAIM keberlanjutan (sustainability) nan disampaikan perusahaan dinilai tidak lagi cukup untuk membangun kepercayaan pasar tanpa didukung transparansi data nan dapat dipertanggungjawabkan. Pelaku upaya sekarang didorong membuktikan komitmen lingkungan mereka melalui pelaporan nan terukur guna menghindari skeptisisme publik dan investor.

Chairman Indonesia Sustainability 360 Forum & CEO Olahkarsa Grup, Unggul Ananta, menegaskan bahwa label berkepanjangan pada produk kudu disertai bukti nyata. Menurutnya, tuntutan transparansi semakin besar seiring meningkatnya kesadaran pasar terhadap praktik upaya nan bertanggung jawab.

"Sekarang banyak perusahaan nan menyatakan produknya sustainable. Tetapi nan menjadi pertanyaan adalah apa nan membikin produk itu betul-betul berkelanjutan. Karena itu, kuncinya ada pada info dan transparansi," ujar Unggul di Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Unggul menjelaskan bahwa laporan keberlanjutan merupakan instrumen vital untuk menunjukkan sejauh mana perusahaan bisa mengurangi akibat lingkungan dan meningkatkan efisiensi sumber daya. Tanpa info nan bisa diverifikasi, perusahaan berisiko kehilangan kepercayaan dari pembeli di pasar global.

Senada dengan perihal tersebut, Executive Director of Indonesia Business Council for Sustainability Development (IBCSD), Indah Budiani, mencatat adanya tren positif dalam publikasi sustainability report di Indonesia. Namun, dia menekankan bahwa tantangan utama saat ini adalah menjaga kualitas info agar betul-betul mencerminkan keahlian perusahaan, bukan sekadar memenuhi jumlah laporan.

Di sisi lain, GRI Regional Program Manager, Lany Harijanti, menyebut bahwa standar pelaporan keberlanjutan di Indonesia bakal terus berkembang mengikuti dinamika izin global. Saat ini, revisi patokan mengenai laporan tersebut tengah berproses untuk diterapkan secara bertahap.

Lany menambahkan, penyempurnaan standar ini membantu perusahaan mengenali akibat lingkungan dan sosial nan memengaruhi keberlangsungan bisnis. Semakin baik perusahaan mengungkap akibat tersebut, semakin besar kepercayaan penanammodal terhadap ketahanan upaya jangka panjang.

Isu transparansi info dan penguatan praktik ekonomi hijau ini bakal menjadi pembahasan utama dalam Indonesia Sustainability 360 Forum 2026. Forum nan mempertemukan regulator, pelaku usaha, dan akademisi tersebut dijadwalkan berjalan pada 26-27 Agustus mendatang. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia