Singapura Tambah Cuti Pengasuhan, Makin Banyak Anak Makin Banyak Cuti

Sedang Trending 41 menit yang lalu
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong tersenyum saat konvensi pers berbareng Presiden Indonesia Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP

Pemerintah Singapura bakal menambah jatah libur pengasuhan bagi orang tua nan bekerja. Menariknya, jumlah cuti bakal disesuaikan dengan jumlah anak nan dimiliki. Ya Moms, artinya semakin banyak anak, semakin banyak pula waktu libur nan bisa digunakan untuk mengurus keluarga.

Kebijakan ini diumumkan Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong dalam pidato National Day Rally 2026 pada 23 Agustus 2026. Nantinya, libur pengasuhan bertindak bagi orang tua dengan anak penduduk negara Singapura nan berumur 12 tahun ke bawah.

Cuti Pengasuhan Anak di Singapura Ditambah

Jadi pendengar nan baik saat anak bercerita tentang khayalannya Foto: Shutterstock

Sebelumnya, orang tua nan mempunyai anak berumur 6 tahun ke bawah mendapat 6 hari libur pengasuhan alias childcare leave per tahun. Sementara orang tua dengan anak berumur 7-12 tahun mendapat 2 hari extended childcare leave per tahun.

Namun sekarang kedua jenis libur tersebut bakal digabung menjadi satu skema childcare leave. Jumlah harinya pun ditentukan berasas jumlah anak.

Berikut rinciannya:

1 anak: 8 hari libur per tahun

2 anak: 10 hari libur per tahun

3 anak alias lebih: 12 hari libur per tahun

Jatah tersebut diberikan kepada masing-masing orang tua nan memenuhi syarat.

“Orang tua dengan lebih banyak anak mempunyai tanggung jawab pengasuhan nan lebih besar. Anak nan sudah lebih besar pun tetap memerlukan kehadiran orang tua, meski kebutuhan mereka berbeda,” kata Pm Singapura, Lawrence Wong, dikutip saat pidato National Rally Day 2026.

Pentingnya Quality Time Orang Tua dan Anak

Ilustrasi anak memeluk ibu dan ayah. Foto: Tom Wang/Shutterstock

Menurut Psikolog, Madeline Jessica, M.Psi., Psikolog, penambahan libur pengasuhan ini juga memberi kesempatan bagi orang tua untuk mempunyai lebih banyak waktu berbareng anak.

“Waktu berbobot dapat membantu membangun rasa kondusif pada anak, sekaligus membikin orang tua lebih mengenali dan memahami emosi mereka,” ujar Madeline pada kumparanMOM, Senin (24/8).

Namun quality time tidak kudu dilakukan 24 jam dalam sehari.

“Bagi orang tua nan bekerja, rasa bersalah bisa muncul lantaran merasa belum punya cukup waktu berbareng anak. Padahal, nan krusial bukan hanya quantity of time, tetapi kualitas hubungan nan terbangun selama waktu tersebut,” tambahnya.

Quality time bisa dilakukan lewat aktivitas sederhana. Misalnya, mengobrol sebelum tidur tanpa gadget, mendengarkan cerita anak tanpa langsung menghakimi, alias membaca kitab bersama.

Dengan begitu, waktu berbareng anak bukan hanya soal berapa lama orang tua berada di rumah, tetapi gimana hubungan dan hubungan nan terbangun selama waktu tersebut.

“Hal yg paling dibutuhkan anak adalah pengalaman berulang bahwa ketika berbareng orang tuanya, mereka merasa dilihat, didengarkan, diterima, dan dicintai. Mungkin kita tidak selalu bisa memberikan anak lebih banyak waktu. Namun, kita tetap bisa berupaya memberikan lebih banyak hubungan dalam waktu nan kita miliki,” tutupnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan