Produksi Harian Minyak RI Turun ke Bawah 600.000 Barel, Kenapa?

Sedang Trending 44 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memaparkan produksi minyak rata-rata selama Januari-Juli 2026 tercatat mencapai 578.156 barel per hari (bph).

Capaian produksi minyak ini tetap lebih rendah alias baru sekitar 95% dari sasaran produksi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 nan ditetapkan sebesar 610.000 bph.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan, ada beberapa aspek nan menyebabkan tetap rendahnya produksi minyak hingga pertengahan tahun ini.

Pertama, kebocoran dan kebakaran pipa PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) Area KP 222 pada 2 Januari 2026 dan KP 294 pada 9 Januari, nan menyebabkan terganggunya pasokan gas untuk produksi minyak di Wilayah Kerja (WK) alias Blok Rokan, Riau, nan dioperasikan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).

Menurutnya, pekerjaan penanganan kebocoran pipa gas ini telah diselesaikan.

Kedua, juga terjadi di WK Rokan, ialah terjadinya gangguan hambatan sistem kelistrikan. Gangguan pada pembangkit listrik MCTN.

Dia mengakui, saat ini sistem kelistrikan di WK Rokan ini tetap belum pulih, terdapat satu unit (Unit 3) nan sampai saat ini tetap diupayakan untuk dapat dioperasikan kembali secara penuh.

"Yang kedua juga tetap di Rokan, ini mengenai dengan hambatan sistem kelistrikan nan hingga saat ini tetap kami upayakan agar pembangkit ini kelak bisa segera kita perbaiki dan dioperasikan kembali, sehingga bisa optimal kembali produksi di Blok Rokan," jelas Laode saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026).

Ketiga, adanya hambatan operasional pada WK Cepu dan terjadinya percepatan penurunan laju produksi alamiah (natural decline).

"Memang Blok Cepu ini pada tahun 2026 ini mempunyai kondisi natural decline nan agak ekstrem. Kami sudah melakukan serangkaian obrolan dengan operator lapangan, operator WK, dan sudah diambil langkah-langkah untuk melakukan upaya agar natural decline ini dapat direduksi, sehingga saat ini kondisi nan terjadi di lapangan adalah mempertahankan untuk datar. Jadi jangan turun lagi seperti itu nan kita lakukan dengan lapangan Cepu," paparnya.

Adapun, untuk produksi gas bumi hingga Juli 2026 tercatat rata-rata sebesar 6.544 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Angka ini juga tetap lebih rendah dari sasaran dalam APBN 2026 nan ditetapkan sebesar 6.837 MMSCFD.

Perlu diketahui, realisasi produksi minyak pada 2025 tercatat sebesar 606,1 ribu bph dan produksi gas sebesar 6.753 MMSCFD. Bila dibandingkan dengan realisasi 2025 tersebut, artinya produksi minyak dan gas bumi pada 2026 ini mengalami penurunan.

Berdasarkan catatan SKK Migas, produksi minyak Blok Rokan nan dioperasikan PHR hingga Juli 2026 tercatat sebesar 133.581 bph, alias baru mencapai 81,5% dari sasaran APBN nan ditetapkan sebesar 163.859 bph.

Begitu juga dengan produksi minyak dari Blok Cepu nan dioperasikan ExxonMobil Cepu Ltd, produksi minyak sampai Juli 2026 tercatat sebesar 124.266 bph, alias baru mencapai 83,7% dari sasaran APBN sebesar 148.500 bph.

(wia) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News