Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 50 helikopter berkekuatan listrik alias electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) buatan dalam negeri disiapkan untuk diuji dan dikembangkan hingga tahun depan.
Founder Whitesky Group, Denon Prawiraatmadja, mengatakan pengembangan 50 eVTOL Vela menjadi salah satu tonggak krusial perusahaan dalam membangun ekosistem Advanced Air Mobility (AAM) di Indonesia.
"Nah, salah satu significant milestone kita hari ini ada penandatanganan 50 eVTOL Vela nan ada di belakang ini, nan kelak bakal di-sandbox trial, diuji coba sama DKPU," ujar Denon dalam Indonesia International Transport Summit 2026 Hexia di area Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat (21/8/2026).
Selain 50 unit produksi Indonesia, Whitesky menargetkan pengembangan 200 eVTOL dalam 10 tahun ke depan. Proyek tersebut mencakup 120 unit dari China, 30 unit dari Jepang, dan 50 unit dari Indonesia.
Pengembangan dilakukan secara berjenjang dengan mempertimbangkan kesiapan teknologi, regulasi, infrastruktur, serta pertumbuhan pasar.
Whitesky memproyeksikan ekosistem tersebut berpotensi mencapai valuasi US$ 1,2 miliar pada 2036.
"Jadi ke depannya, Indonesia bisa jadi pusat perkembangan transportasi udara di Asia Tenggara," kata Denon.
Menurut Denon, eVTOL dapat digunakan untuk beragam kebutuhan, mulai dari konektivitas bandara, mobilitas perkotaan, penerbangan bisnis, area industri, pariwisata, hingga konektivitas antarkawasan dan antarpulau.
Ia menilai potensi upaya eVTOL tidak hanya berasal dari produksi pesawat, tetapi juga dari pengembangan ekosistem pendukung, seperti pembiayaan, infrastruktur, operasional, pemeliharaan, dan sumber daya manusia.
“Kalau kita hanya memandang eVTOL sebagai aircraft, opportunity-nya bakal terbatas. Tetapi ketika kita membangun seluruh value chain, dari financing, infrastructure, operation, maintenance sampai human capital, economic value nan tercipta bakal jauh lebih besar,” ujarnya.
20 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·