Sekutu Rusia "Pecah", Negara Ini Tolak Permintaan Putin

Sedang Trending 18 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan antara Rusia dan Armenia kembali memasuki fase tegang. Ini setelah Perdana Menteri (PM) Armenia menolak dorongan dari Moskow untuk segera menggelar referendum mengenai keanggotaan negaranya di Uni Eropa (UE).

Penolakan tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan politik dan ekonomi dari Kremlin terhadap sekutu tradisionalnya itu. Armenia sekarang makin aktif mendekat ke Barat.

Dilansir Al Jazeera, PM Nikol Pashinyan dilaporkan "secara terbuka menolak seruan nan didukung Presiden Rusia Vladimir Putin agar Armenia segera menentukan pilihan antara tetap berada dalam blok ekonomi ketua Rusia alias berasosiasi dengan UE". Penolakan itu disampaikan pada Senin, bertepatan dengan percakapan telepon antara Putin dan Pashinyan saat mengucapkan selamat ulang tahun kepada pemimpin Armenia tersebut.

Sebenarnya, perselisihan terbaru kedua negata bermulai setelah pertemuan puncak Eurasian Economic Union (EAEU) di Kazakhstan pada 29 Mei lalu. Dalam pertemuan tersebut, Putin berbareng para pemimpin Belarusia, Kazakhstan, dan Kirgizstan mengeluarkan pernyataan berbareng nan mendesak Armenia agar segera menggelar referendum mengenai rencana berasosiasi dengan Uni Eropa.

Menurut posisi Rusia, Armenia tidak mungkin menjadi personil UE sekaligus tetap berada di dalam EAEU. Putin juga memberikan peringatan nan dinilai banyak pihak sebagai ancaman terselubung terhadap ambisi Barat Armenia.

Pemimpin Kremlin itu mengingatkan bahwa "skenario Ukraina" bermulai dari aspirasi Kyiv untuk berasosiasi dengan UE. Pernyataan tersebut muncul di tengah memburuknya hubungan Rusia dengan Barat dan tetap berlangsungnya perang di Ukraina.

Menanggapi tekanan tersebut, Pashinyan menegaskan pemerintah Armenia belum memandang argumen untuk menggelar referendum dalam waktu dekat. Dalam pidato video nan disiarkan melalui media sosial, dia mengatakan pemerintah di Yerevan bakal tetap bekerja di dalam EAEU sampai pilihan antara dua blok tersebut betul-betul tidak dapat dihindari lagi.

Ia juga menilai referendum saat ini tetap berkarakter teoritis lantaran Armenia apalagi belum mengusulkan status resmi sebagai kandidat personil UE. "Menempatkan pilihan nan tetap berkarakter teoritis ke dalam referendum tentu bukan sesuatu nan sangat masuk logika maupun dapat dibenarkan," kata Pashinyan.

Ia juga menggambarkan hubungan Armenia dengan Rusia saat ini berada dalam "fase transformasi". Baik Kremlin maupun pemerintah Armenia menyatakan bahwa pembicaraan telepon antara Putin dan Pashinyan membahas hasil pertemuan puncak EAEU sekaligus ucapan selamat ulang tahun dari pemimpin Rusia tersebut.


Pemilu

Adapun ketegangan politik itu berkembang menjelang pemilihan parlemen Armenia nan dijadwalkan berjalan pada 7 Juni. Dalam beberapa hari terakhir, Rusia meningkatkan tekanan terhadap Armenia melalui beragam langkah diplomatik dan ekonomi.

Akhir pekan lalu, Moskow menarik pulang duta besarnya di Armenia untuk konsultasi. Tidak berakhir di situ, pada Senin otoritas pengawas pertanian Rusia menghentikan impor ikan dan produk makanan laut dari Armenia dengan argumen pelanggaran standar kesehatan.

Kebijakan tersebut berakibat signifikan lantaran sektor perikanan Armenia mengirim sekitar 30% ekspornya ke pasar Rusia. Larangan itu menyusul pembatasan perdagangan sebelumnya terhadap beragam produk Armenia, termasuk hasil pertanian, bunga, air mineral, dan minuman beralkohol.

Langkah serupa selama ini dikenal sebagai salah satu instrumen tekanan ekonomi nan kerap digunakan Moskow terhadap negara-negara jejak wilayah pengaruh Soviet nan dinilai mengambil kebijakan tidak sejalan dengan Kremlin.

UE pun ikut bereaksi terhadap langkah Rusia tersebut. Pada Senin, blok tersebut menuduh Moskow berupaya melumpuhkan perekonomian Armenia guna memengaruhi hasil pemilu mendatang.

Tuduhan itu menambah dimensi baru dalam persaingan pengaruh antara Rusia dan Eropa di area Kaukasus Selatan.


Sekutu Rusia

Armenia selama puluhan tahun dikenal sebagai sekutu dekat Rusia. Namun arah kebijakan luar negeri Yerevan mulai berubah setelah bentrok dengan Azerbaijan mengenai wilayah Nagorno-Karabakh.

Perubahan orientasi Armenia semakin terlihat setelah bentrok pada 2023 ketika Azerbaijan melancarkan ofensif militer ke wilayah Nagorno-Karabakh. Dalam bentrok tersebut, Armenia kehilangan kendali atas wilayah nan selama puluhan tahun menjadi sumber sengketa dengan Azerbaijan.

Banyak pihak di Armenia menilai Rusia kandas memberikan support nan diharapkan kepada sekutunya saat krisis terjadi. Kekecewaan tersebut mendorong Yerevan untuk mulai mendiversifikasi hubungan internasionalnya.

Proses itu makin sigap sejak Rusia melancarkan invasi penuh ke Ukraina pada Februari 2022. Dalam beberapa bulan terakhir, Armenia secara signifikan memperdalam hubungan dengan Eropa.

Bulan lalu, negara itu menjadi tuan rumah pertemuan puncak resmi pertamanya dengan UE dalam rangkaian pertemuan regional nan juga dihadiri Presiden Ukraina Volodymyr Zelinsky. Armenia juga menerima kunjungan kenegaraan Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam sebuah lawatan nan mendapat perhatian luas.  

(luc/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News