Rakernas XXV HKI Rumuskan Solusi Atasi Bottleneck Investasi

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Rakernas XXV HKI Rumuskan Solusi Atasi Bottleneck Investasi Ketua Umum HKI, Akhmad Ma’ruf Maulana(Dok Istimewa )

RAPAT Kerja Nasional (Rakernas) XXV Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) nan diselenggarakan di Jakarta pada 30–31 Juli 2026 menghasilkan serangkaian rekomendasi strategis untuk mempercepat realisasi investasi nasional. Berangkat dari pengalaman para pengelola area industri di seluruh Indonesia, Rakernas menyimpulkan bahwa tantangan terbesar investasi Indonesia saat ini bukan lagi menarik minat investor, melainkan memastikan investasi nan telah berkomitmen betul-betul terwujud dalam pembangunan pabrik, aktivitas produksi, pembuatan lapangan kerja, peningkatan ekspor, serta penguatan struktur industri nasional.

Rakernas XXV HKI dibuka oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita serta dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Kehadiran para pengambil kebijakan tersebut menegaskan bahwa pengembangan area industri merupakan agenda strategis nasional nan memerlukan sinergi lintas sektor.

Dalam arahannya, Agus menegaskan bahwa area industri kudu menjadi motor transformasi industri nasional melalui percepatan hilirisasi, peningkatan nilai tambah, penguatan daya saing, serta pembuatan lapangan kerja. HKI menilai arah kebijakan tersebut sudah tepat. Tantangan berikutnya adalah memastikan implementasinya berjalan lebih sigap melalui penyelesaian beragam bottleneck nan selama ini tetap menghalang daya saing investasi Indonesia.

Sebagai tindak lanjut atas hasil Rakernas tersebut, HKI telah menyampaikan surat kepada Presiden Prabowo Subianto untuk memohon kesempatan memaparkan secara langsung beragam rekomendasi nan telah dirumuskan. HKI meyakini bahwa pengalaman praktis para pengelola area industri nan setiap hari berinteraksi dengan penanammodal dapat menjadi masukan nan implementatif untuk mempercepat industrialisasi nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tengah persaingan investasi dunia nan semakin kompetitif.

Ketua Umum HKI, Akhmad Ma’ruf Maulana, mengatakan Indonesia sesungguhnya mempunyai nyaris seluruh modal untuk menjadi salah satu tujuan investasi paling kompetitif di area Asia. Pasar domestik nan besar, bingkisan demografi, kekayaan sumber daya alam, posisi strategis dalam rantai pasok global, serta komitmen pemerintah terhadap agenda hilirisasi merupakan kekuatan nan sangat besar. 

Namun, seluruh kelebihan tersebut hanya bakal menghasilkan pertumbuhan ekonomi andaikan ditopang oleh kepastian regulasi, kecepatan pelayanan, dan keahlian untuk secara konsisten mengatasi beragam halangan investasi.

“Indonesia tidak kekurangan investor. Kami memandang langsung gimana penanammodal datang, memilih lokasi, memulai proses investasi, apalagi banyak di antaranya menjadi bagian dari ekosistem industri nan tumbuh di kawasan-kawasan nan kami kelola. nan tetap menjadi pekerjaan rumah adalah gimana minat investasi itu dapat segera berubah menjadi pembangunan pabrik, aktivitas produksi, ekspor, dan pembuatan lapangan kerja. Karena itu, kami berambisi dapat menyampaikan langsung kepada Presiden beragam rekomendasi nan lahir dari pengalaman nyata para pengelola area industri di seluruh Indonesia,” ujar Ma’ruf dikutip dari keterangan tertulis nan diterima, Senin (3/8).

Menurut Ma’ruf, pola pengambilan keputusan penanammodal dunia telah mengalami perubahan nan sangat cepat. Investor tidak lagi hanya membandingkan ukuran pasar alias melimpahnya sumber daya alam suatu negara. Mereka juga menilai kecepatan memperoleh kepastian berusaha, kesiapan lahan, keandalan pasokan listrik dan gas, kualitas prasarana logistik, konsistensi regulasi, serta keahlian pemerintah dalam menyelesaikan persoalan ketika investasi mulai berjalan.

“Investor tidak memandang persoalan berasas kewenangan masing-masing kementerian alias lembaga. Investor memandang Indonesia sebagai tujuan investasi. Karena itu, penyelesaiannya juga kudu dilakukan secara terpadu sebagai satu sistem nan memberikan kepastian, kecepatan, dan konsistensi,” katanya.

HKI menilai pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Indonesia Incorporated nan menjadi salah satu arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Dalam perspektif bumi usaha, Indonesia Incorporated bukan sekadar memperkuat koordinasi antarkementerian, tetapi juga memastikan seluruh lembaga pemerintah bekerja sebagai satu kesatuan nan bisa memberikan kepastian kepada penanammodal sejak tahap perencanaan hingga proyek memasuki masa produksi.

Bagi investor, lanjut dia, keberhasilan suatu negara tidak diukur dari banyaknya lembaga nan terlibat dalam proses perizinan, melainkan dari seberapa sigap sebuah proyek dapat dibangun dan mulai beroperasi. Investor tidak membedakan apakah halangan berasal dari persoalan tata ruang, lingkungan hidup, energi, pertanahan, alias infrastruktur.

Berdasarkan hasil pembahasan Rakernas, sejumlah persoalan nan paling sering dihadapi penanammodal meliputi sinkronisasi tata ruang dan pertanahan, proses perizinan nan tetap memerlukan koordinasi lintas instansi, kepastian penyediaan listrik dan gas industri, proses persetujuan lingkungan hidup, pembangunan konektivitas menuju pelabuhan, jalan tol, dan jaringan kereta api, hingga efektivitas koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Pengalaman para personil HKI sebagai pengelola area sekaligus pelaku industri memberikan perspektif nan lebih utuh terhadap persoalan tersebut. Rekomendasi nan dihasilkan tidak hanya berorientasi pada pengembangan area industri, tetapi juga pada peningkatan produktivitas industri manufaktur, efisiensi rantai pasok, daya saing ekspor, dan kemudahan berupaya secara menyeluruh.

“Setiap investasi nan tertunda bukan hanya berfaedah tertundanya pembangunan pabrik. nan ikut tertunda adalah lapangan kerja, ekspor, transfer teknologi, pertumbuhan upaya lokal, serta penerimaan negara. Karena itu, persoalan investasi kudu dipandang sebagai persoalan strategis nasional nan memerlukan penyelesaian secara terpadu,” tegas Ma’ruf.

HKI mengingatkan bahwa persaingan untuk menarik investasi dunia sekarang semakin ketat. Berbagai negara berkompetisi memangkas waktu perizinan, meningkatkan kepastian regulasi, menyediakan daya nan kompetitif, serta memperkuat support infrastruktur. Dalam situasi tersebut, setiap keterlambatan dalam penyelesaian halangan investasi berpotensi meningkatkan akibat proyek beranjak ke negara lain.

Karena itu, rekomendasi hasil Rakernas XXV HKI tidak disusun sebagai daftar persoalan maupun sebagai kritik terhadap pemerintah. Seluruh rekomendasi dirancang sebagai paket solusi nan dapat segera ditindaklanjuti, meliputi pengharmonisan regulasi, percepatan penyelesaian perizinan, penguatan kepastian tata ruang dan pertanahan, peningkatan keandalan pasokan listrik dan gas industri, penyederhanaan koordinasi lintas kementerian, peningkatan konektivitas area industri, serta penguatan kelembagaan nan bisa mengatasi halangan investasi secara cepat, terpadu, dan berorientasi pada penyelesaian.

“Kami tidak datang membawa keluhan. Kami datang dengan pemeriksaan berasas pengalaman di lapangan, sekaligus membawa rekomendasi dan langkah-langkah penyelesaian nan dapat segera dilaksanakan. HKI mau menjadi mitra strategis pemerintah dalam memastikan investasi nan sudah masuk betul-betul terealisasi dan memberikan faedah sebesar-besarnya bagi masyarakat,” ujar Ma’ruf.

HKI juga menegaskan bahwa percepatan investasi kudu melangkah beriringan dengan penguatan tata kelola lingkungan hidup. Kepastian prosedur, konsistensi regulasi, dan koordinasi antarlembaga bakal memperkuat perlindungan lingkungan sekaligus memberikan kepastian norma bagi bumi usaha. Dengan demikian, pembangunan prasarana konektivitas, penyediaan daya nan andal, serta pengembangan area industri nan berkepanjangan kudu menjadi satu kesatuan strategi untuk meningkatkan daya saing Indonesia.

“Rakernas ini tidak boleh berakhir menjadi forum organisasi. Hasilnya kudu menjadi kontribusi nyata bagi negara. Indonesia mempunyai kesempatan besar untuk menjadi tujuan investasi dunia. nan dibutuhkan sekarang adalah keberanian berbareng untuk menuntaskan beragam bottleneck agar kesempatan tersebut betul-betul terwujud menjadi pabrik nan beroperasi, tenaga kerja nan terserap, ekspor nan meningkat, dan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Ma’ruf. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia