Wali Kota Yogya Kecam Perusakan Makam Mertua Mendiang Djaduk

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo di Kepatihan Pemda DIY, Kamis (30/4/2026). Foto: Panji/kumparan

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengecam perusakan makam mertua mendiang seniman Djaduk Ferianto di pemakaman umum di wilayah Pakuncen, Kota Yogyakarta. Diduga pelaku merupakan ahli kunci makam tersebut.

"Sekali lagi saya membenci perusakan-perusakan nan dilakukan di makam, ya siapa pun nan melakukan (perusakan itu)," kata Hasto ditemui di Balai Kota Yogyakarta, Rabu (12/8).

Hasto mengaku belum mendapatkan info soal perusakan ini. Hasto pun langsung memerintahkan Sekda dan Asekda Kota Yogyakarta untuk menelusuri kasus ini.

"Saya cek jika seandainya sampai ada kejadian seperti itu (perusakan dan pemerasan), pemerintah wajiblah untuk datang di sana. Dan bakal segera hari ini. Nanti segera turun tangan lah Pak Sekda," katanya.

Kasus perusakan makam ini bukan nan pertama kalinya terjadi di Yogya. Dahulu, ada kasus perusakan makam di Kotagede nan dilakukan orang dengan gangguan kejiwaan. Hasto mengatakan dia membenci kasus perusakan makam seperti ini.

"Jangan terjadi lagi. Itu kan beberapa waktu lampau terjadi di Kotagede, ya. Saya sangat apa ya, membenci lah, kejadian-kejadian nan sangat sensitif tapi selalu terjadi berulang. Maka Jogja kudu kita tegakkan sebagai City of Tolerance nan terus-menerus kita jaga bersama," katanya.

"Saya kira itu. Komitmen kita bakal secepatnya kita selesaikan, ya," ujarnya.

Menurut Hasto, retribusi makam umum hanya saat bedah bumi alias pemakaman saja. Menurutnya, tidak boleh ahli kunci serta merta meminta uang.

"Ada bedah bumi aja. Ada aturannya kan, ada aturannya. Jadi tidak bisa serta-merta begitu. Kalau paling pas bedah buminya aja tapi. Nanti kita cek. Kalau memang ada laporan nan meminta alias pungutan nan tidak sesuai, bakal segera kita tindak," pungkasnya.

Cerita Perusakan

Makam mertua seniman mendiang Djaduk Ferianto di sebuah makam umum di wilayah Pakuncen, Kota Yogyakarta dirusak. Diduga pelaku merupakan ahli kunci makam tersebut. Foto: Dok. Petra

Istri Djaduk, Petra Ferianto, mengatakan ayahnya dimakamkan di Kuncen sejak 1971. Baru kali ini peristiwa perusakan terjadi.

Perusakan ini diketahui Petra saat dia datang untuk nyekar. Saat itu, Petra kesusahan mencari makam ayahnya. Ternyata nisan makam sudah dipotong.

"Terus ada orang saya tanya, ahli kuncinya mana? 'Bentar lagi otw' katanya gitu. Kok otw?," kata Petra melalui sambungan telepon, Selasa (11/8).

Saat itu, Petra juga bertanya ke orang nan biasa bersih-bersih di makam. Orang tersebut mengatakan ahli kuncinya sedang tidak ke makam.

"Saya minta nomor Hp-nya juga dia bilang nggak bisa, gitu kan. Terus saya ke kelurahan, rupanya itu bukan bagiannya kelurahan," katanya.

Petra lampau ke instansi polisi melaporkan kejadian ini. Petugas kemudian mendatangi lokasi. Selang beberapa saat Petra diminta kembali ke letak lantaran ahli kuncinya sudah ketemu.

Juru kunci tersebut, menurut Petra, berbicara nisan sengaja dipotong alasannya agar Petra mencari dirinya. Diduga perihal itu lantaran masalah uang.

Petra bilang selama ini dia kerap nyekar di makam. Ketika ada sejumlah tukang bersih-bersih makam, dia selalu memberikan duit masing-masing Rp 10 ribu.

Namun, beberapa waktu terakhir dia tak menjumpai orang di makam tersebut, sehingga bingung kudu memberikan duit ke mana.

"Saya selalu meninggalkan bunga, sebagai langkah memberi tahu bahwa ada nan miliki loh makam ini. Dengan ada bunga. Nah, rupanya itu tadi dia mancing, 'Iki pancen tak saya pegel, nek orang ini kan tentu ora nggoleki aku' (kalau tidak dipotong, tidak mencariku) gitu loh ahli kuncinya itu gitu," katanya.

"Jadi singkat kata saya bilang, 'Ya wis jika itu dianggap saya tetap punya utang, utangku piro (berapa)?' Kayak gitu, selama saya datang ke situ tidak ada orang," katanya.

Kedua, Petra minta agar makam ini dikembalikan seperti semula. Petra apalagi menawarkan untuk berlangganan saja, sehingga ketemu alias tidak, ahli kunci tetap dapat uang.

"Padahal di situ ada 5 alias 6 polisi di situ. Terus, dia (juru kunci) menyetujui itu," katanya.

Bahkan ahli kunci disebut sempat menakut-nakuti makam bakal dibongkar jika ada jenazah lain nan hendak pakai lantaran Petra tidak memberikan uang.

Dugaan Pemerasan

Makam mertua seniman mendiang Djaduk Ferianto di sebuah makam umum di wilayah Pakuncen, Kota Yogyakarta dirusak. Diduga pelaku merupakan ahli kunci makam tersebut. Foto: Dok. Petra

Petra mengeluarkan duit Rp 500 ribu untuk ahli kunci tersebut.

"Yang saya anggap utang itu tak transfer ke dia. Saya ngasihnya Rp 500 ribu. Harusnya sudah terlalu banyak sebetulnya. Kalau ngasih bayaran kan paling ya Rp 5.000 sampai Rp 20 ribuan, kan," katanya.

Soal perbaikan makam, ahli kunci itu apalagi disebut sempat minta duit Rp 50 ribu ke Petra.

"Kok saya jadi keluar biaya untuk (yang) Anda rusak," katanya.

"Jadi kaya memeras gitu ya, pemerasan," katanya.

Selain itu juga ada duit bulanan Rp 100 ribu per bulan.

"Dia sempat bilang sesasi (sebulan) Rp 100 ribu, sehari berapa gitu," ujarnya.

Terkait kasus ini, Petra sudah melapor ke kepolisian lantaran ada perusakan. Namun, lantaran pelaku mengakui, disarankan untuk diselesaikan secara kekeluargaan.

"Cuma angan saya kan tidak bukan dengan kasus saya toh, tidak berakhir di sini. Harus ada pengaruh jera," katanya.

Petra cemas kasus serupa justru menimpa makam-makam lainnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan