Bagaimana aroma rumah manusia 2.000 tahun lalu? Pertanyaan tersebut mungkin terdengar mustahil dijawab. Namun, para peneliti sekarang sukses mengungkap kembali seperti apa aroma nan mungkin memenuhi rumah orang kaya di Pompeii, Italia, sebelum kota tersebut terkubur akibat letusan Gunung Vesuvius pada 79 Masehi.
Diterbitkan di jurnal Antiquity, melalui pendekatan nan disebut arkeologi sensorik (sensory archaeology), para peneliti merekonstruksi lanskap aroma alias smellscape masyarakat masa lalu. Hasilnya menunjukkan bahwa bagian dalam rumah orang kaya di Pompeii kemungkinan mempunyai aroma kayu dan tanah, dengan sedikit sentuhan aroma citrus.
Dilansir Science Alert, temuan tersebut diperoleh tim peneliti Eropa setelah menganalisis dua tempat pembakaran dupa (censer) berbahan terakota berumur sekitar 2.000 tahun. Kedua barang itu ditemukan beberapa dasawarsa lampau di Pompeii dan kota terdekat, Boscoreale.
Salah satu tempat pembakaran dupa ditemukan di sebuah gedung nan sedang diubah menjadi penginapan ketika Gunung Vesuvius meletus pada 79 Masehi. Sementara itu, barang lainnya ditemukan tetap berada di dalam tempat pemujaan di sebuah vila pedesaan, berbareng sejumlah barang ritual lainnya.
Bentuk, hiasan, serta konteks arkeologis kedua wadah tersebut menunjukkan bahwa barang itu digunakan untuk membakar bahan-bahan beraroma dalam ritual keagamaan nan dilakukan di rumah.
Praktik tersebut sebenarnya telah diketahui dari catatan para penulis Romawi kuno. Masyarakat saat itu diketahui memberikan persembahan berupa dupa, anggur, bunga, buah, dan biji-bijian kepada dewa pelindung rumah nan disebut Lares dan Penates.
Salah satu contohnya tercatat dalam kitab keempat The Elegies karya penyair Romawi Propertius. Ia menuliskan permintaan untuk memberikan costmary alias tanaman beraroma nan juga kerap digunakan sebagai obat, serta persembahan dupa nan harum.
Namun, hingga sekarang para arkeolog hanya mempunyai sedikit bukti bentuk nan dapat memastikan bahan apa nan sebenarnya dibakar dalam ritual tersebut.
Peneliti Bongkar Sisa Pembakaran Dupa
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para peneliti melakukan serangkaian kajian kimia terhadap kedua tempat pembakaran dupa. Mereka mengambil sampel berukuran sangat mini dari bagian tengah dan tepi masing-masing wadah. Bagian permukaan barang sengaja dihindari untuk mengurangi kemungkinan kontaminasi dari era modern.
Sampel tersebut kemudian dianalisis menggunakan tiga metode berbeda. Metode pertama digunakan untuk mencari jejak mineral mikroskopis nan tertinggal setelah tanaman terbakar. Metode kedua mencari phytolith, ialah struktur silika berukuran sangat mini nan dihasilkan tanaman dan dapat memperkuat jauh setelah tumbuhan aslinya membusuk.
Sementara itu, metode ketiga menggunakan kromatografi gas dan spektrometri massa untuk mengidentifikasi jejak molekuler resin, minyak, serta senyawa organik lainnya nan tersisa dari masa lalu.
Hasilnya, para peneliti tidak menemukan bukti bahwa kotoran hewan kering digunakan sebagai bahan bakar pada kedua tempat pembakaran dupa tersebut. Padahal, praktik itu cukup umum di sejumlah wilayah bumi kuno.
Sebaliknya, kedua wadah justru mempunyai banyak jejak mikroskopis nan menunjukkan adanya pembakaran tanaman berkayu. Analisis phytolith menunjukkan bahwa masyarakat Pompeii kemungkinan membakar campuran beragam jenis tanaman, termasuk pohon ek, laurel, serta tanaman dari family buah berbiji seperti persik dan ceri, berbareng beragam jenis rumput.
Tanaman-tanaman tersebut mungkin digunakan sebagai bahan bakar untuk membakar dupa. Namun, sebagian di antaranya juga kemungkinan sengaja diberikan sebagai persembahan.
Sebagian besar tanaman tersebut tersedia secara lokal di sekitar Pompeii. Temuan ini sejalan dengan penemuan sebelumnya mengenai buah ara nan terbakar, kacang pinus, dan beragam persembahan tumbuhan lainnya di tempat-tempat pemujaan di Pompeii.
Hal itu semakin memperkuat dugaan bahwa tumbuh-tumbuhan nan ditemui sehari-hari mempunyai peran krusial dalam praktik keagamaan masyarakat di dalam rumah. Salah satu dari dua tempat pembakaran dupa juga menyimpan temuan nan jauh lebih menarik. Para peneliti menemukan jejak kimia dari resin unik nan kemungkinan berasal dari wilayah nan sangat jauh dari Pompeii.
Resin tersebut berasal dari family tumbuhan nan sama dengan frankincense alias kemenyan. Namun, berasas analisis, bahan nan digunakan kemungkinan adalah elemi, resin aromatik nan berasal dari jaringan perdagangan luas nan terhubung dengan Kekaisaran Romawi. Temuan ini memberikan gambaran mengenai posisi Pompeii dalam jaringan perdagangan dunia pada era kuno.
Para peneliti memperkirakan resin aromatik dari Arabia, Afrika tropis, dan Asia dibawa ke utara melalui Laut Merah. Bahan tersebut kemudian melewati Alexandria di Mesir sebelum dikirim menuju Italia dan akhirnya sampai ke rumah-rumah masyarakat Pompeii.
Meski penggunaan resin aromatik dari wilayah tersebut telah banyak disebut dalam sumber tertulis kuno, temuan ini menjadi bukti arkeologis langsung pertama bahwa resin aromatik impor dibakar dalam praktik keagamaan rumah tangga di Pompeii.
Penggunaan bahan impor untuk menghasilkan aroma tertentu juga menunjukkan sungguh pentingnya wewangian dalam ritual masyarakat saat itu.
Aroma Anggur Juga Mungkin Tercium
Tempat pembakaran dupa nan sama juga mengandung jejak kimia nan kemungkinan berasal dari produk anggur, seperti wine alias cuka. Namun, peneliti mengingatkan bahwa temuan ini kudu ditafsirkan dengan hati-hati lantaran kemungkinan kontaminasi modern belum dapat sepenuhnya dikesampingkan.
Jika jejak tersebut memang berasal dari masa Romawi, temuan itu sangat sesuai dengan praktik keagamaan masyarakat saat itu.
Sejumlah teks antik menggambarkan adanya ritual pengorbanan awal ketika para pemuja menuangkan anggur sembari membakar dupa. Artinya, sisa abu sederhana nan ditemukan di tempat pembakaran dupa tersebut mungkin menyimpan jejak kimia dari ritual nan dilakukan nyaris 2.000 tahun lalu.
Penelitian ini sekaligus menunjukkan gimana sesuatu nan begitu sementara seperti aroma asap dapat meninggalkan jejak nan tetap bisa dibaca ribuan tahun kemudian. Dengan menganalisis sisa-sisa pembakaran tersebut, para intelektual sekarang dapat membayangkan kembali seperti apa aroma nan mungkin tercium oleh masyarakat Pompeii ketika mereka menjalankan ritual keagamaan di rumah.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·