Jakarta, CNN Indonesia --
Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Ivan Yustiavandana mengatakan pihaknya bakal memperkuat kegunaan lembaganya sebagai pusat intelijen finansial dalam mencegah dan memberantas beragam kejahatan nan merugikan negara serta masyarakat.
Hal ini sejurus dengan support dari Presiden Prabowo Subianto nan meningkatkan anggaran lembaga tersebut hingga lebih dari 100 persen.
"Dukungan ini memperkuat kapabilitas PPATK untuk menjalankan kegunaan intelijen finansial serta mendukung upaya pencegahan dan pemberantasan beragam tindak pidana nan merugikan negara dan masyarakat," kata Ivan dalam keterangannya, Rabu (26/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam Rincian Anggaran dan Usulan Terbaru Pagu Indikatif 2027, pemerintah menetapkan pagu sugestif PPATK sebesar Rp253,3 miliar.
Sementara itu, PPATK mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp516,4 miliar sehingga kebutuhan anggaran lembaga tersebut pada 2027 mencapai Rp769,8 miliar.
Ivan mengungkapkan salah satu perhatian utama PPATK adalah pemberantasan gambling online. Perputaran biaya gambling online pada 2024 sekitar Rp359,81 triliun, tahun 2025 turun menjadi sekitar Rp286,84 triliun alias 20,3 persen.
Selanjutnya, jumlah deposit tercatat sekitar Rp34 triliun pada 2024 dan Rp51,3 triliun pada 2025. Memasuki Semester I 2026, jumlah deposit tercatat sekitar Rp22 triliun.
"Upaya tersebut juga diikuti dengan penghentian transaksi terhadap 5.762 rekening bandar gambling online," ucap dia.
Selain itu, lanjut Ivan, biaya gambling online sebesar Rp588,62 miliar juga telah disita untuk negara berasas putusan pengadilan nan telah berkekuatan norma tetap.
"Angka tersebut belum termasuk biaya nan tetap diblokir penyidik, ataupun proses hukumnya belum memperoleh putusan pengadilan," ujarnya.
Ivan mengatakan kerja intelijen finansial PPATK juga mendukung proses penegakan hukum. Sepanjang 2025 hingga Semester I 2026, PPATK telah menyampaikan sebanyak 1.479 Hasil Analisis (HA) kepada abdi negara penegak hukum.
"Pada periode nan sama, PPATK menghasilkan 17 Hasil Pemeriksaan (HP) sebagai bagian dari support terhadap penanganan beragam tindak pidana," kata dia.
Disampaikan Ivan, kontribusi kerja PPATK tidak berakhir pada pengungkapan aliran biaya kejahatan. Output PPATK turut menghasilkan penerimaan negara sebesar Rp20,27 triliun sepanjang 2020 hingga Juni 2026.
"Capaian tersebut menunjukkan gimana intelijen finansial dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung kepentingan negara," ucap dia.
Atas dasar itu, Ivan menekankan PPATK bakal terus memperkuat kapabilitas intelijen finansial dengan bekerja-sama lembaga dan kementerian, abdi negara penegak norma dan industri keuangan, serta kontribusinya dalam menjaga kepentingan negara dan masyarakat.
"Tantangan kejahatan finansial terus berkembang, dan PPATK bakal terus bekerja untuk menjaga Indonesia. Penguatan kapabilitas PPATK juga semakin mendapat pengakuan di tingkat internasional," ujarnya.
(dis/dal)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·