Bumi di Ujung Tanduk, Warga Dunia Mulai Tak Subur-Ekonomi Terancam

Sedang Trending 52 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Tingkat kesuburan dunia diperkirakan telah jatuh di bawah tingkat penggantian untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia. Kondisi kritis ini menempatkan populasi bumi pada jalur penurunan drastis hanya dalam kurun waktu satu generasi mendatang.

Mengutip Russia Today (RT), Jumat (28/8/2026), peringatan ini diungkapkan dalam sebuah studi baru berjudul "Terra Incognita: The Economics of a Shrinking World". Makalah nan diterbitkan awal bulan ini ditulis oleh guru besar ekonomi Jesus Fernandez-Villaverde dari University of Pennsylvania dan peneliti Patrick Norrick dari Northwestern University.

Jesus dan Patrick memperingatkan bahwa tingkat kesuburan rendah nan berkepanjangan dapat menyusutkan jumlah tenaga kerja, menuakan masyarakat dengan cepat, serta membebani ekonomi dan sistem kesejahteraan secara masif.

Para peneliti memperkirakan umat manusia kemungkinan sudah berada di bawah tingkat kesuburan penggantian, ialah rata-rata jumlah anak per wanita nan dibutuhkan agar setiap generasi dapat menggantikan dirinya sendiri. Ambang pemisah dunia berada di nomor sekitar 2,2, sementara studi tersebut menempatkan tingkat saat ini tidak lebih tinggi dari 2,19.

"Mulai tahun 2026, umat manusia kemungkinan berada di bawah tingkat penggantian: kita mempunyai lebih sedikit kelahiran daripada nan kita butuhkan untuk menjaga populasi tetap konstan dalam jangka panjang... perihal ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kita sebagai spesies, apalagi selama perang alias pandemi," papar-nya.

Analisis ini mencakup 236 negara dan wilayah dari tahun 1950 hingga 2023, di mana tingkat kesuburan tercatat menurun secara signifikan di 219 negara. Secara rata-rata, beragam negara telah kehilangan sekitar 0,062 kelahiran per wanita setiap tahunnya, dan sama sekali tidak ada bukti nan menunjukkan bahwa tren ini bakal mulai merata.

Populasi dunia memang belum menyusut saat ini lantaran generasi besar nan lahir dalam beberapa dasawarsa sebelumnya tetap mempunyai anak. Namun, para peneliti memperkirakan pengaruh tersebut hanya bisa mempertahankan pertumbuhan selama tiga dasawarsa lagi, di mana populasi bakal mencapai puncaknya di nomor sekitar 9 miliar pada tahun 2056 sebelum akhirnya menurun.

Tren mengerikan ini juga telah menyebar jauh melampaui negara-negara kaya. Tingkat kesuburan pada tahun 2025 diperkirakan hanya mencapai 0,87 di Thailand, 1,01 di Kolombia, 1,35 di Iran, dan 1,52 di Brasil. Tidak ada sistem otomatis nan dapat mendorong kesuburan kembali ke tingkat penggantian lantaran pemicunya sangat beragam dan tidak mempunyai penjelasan tunggal, mulai dari aspek biaya perumahan dan perawatan anak, ketidakamanan ekonomi, penggunaan kontrasepsi, hingga perubahan norma sosial.

Studi tersebut menegaskan bahwa akibat ekonomi dari penyusutan populasi ini bakal berakibat sangat luas. Generasi nan lebih mini berfaedah lebih sedikit pekerja nan kudu mendukung populasi lansia nan terus bertambah, sehingga sangat membebani biaya pensiun, perawatan kesehatan, dan finansial publik sekaligus memperlambat laju pertumbuhan.

Di Amerika Serikat, peneliti memproyeksikan bahwa pertumbuhan produktivitas tahunan 2% nan dikombinasikan dengan kontraksi tenaga kerja 0,5% bakal memangkas pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) jangka panjang menjadi hanya sekitar 1,5%.

(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News