Angka Kelahiran di Jepang Naik Pertama Kali dalam 11 Tahun

Sedang Trending 53 menit yang lalu
Angka Kelahiran di Jepang Naik Pertama Kali dalam 11 Tahun ilustrasi bayi di Jepang(Magnific)

JEPANG untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun terakhir mencatat kenaikan jumlah nomor kelahiran bayi enam bulan pertama tahun 2026 mengalami peningkatan sebesar 0,8 persen dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan info nan dirilis pada Jumat (28/8), total kelahiran pada periode Januari-Juni 2026 mencapai 342.068 bayi. Angka ini menandai kenaikan pertama untuk periode paruh pertama tahunan dalam 11 tahun terakhir. Jumlah tersebut mencakup kelahiran dari penduduk negara asing, dengan total peningkatan sebanyak 2.788 kelahiran dibandingkan semester pertama 2025.

Kenaikan nomor kelahiran ini dinilai berangkaian erat dengan pemulihan jumlah pernikahan di Negeri Sakura pada tahun 2024 dan 2025. Data menunjukkan jumlah pernikahan pada 2025 meningkat 1,1 persen menjadi sekitar 505.000 pasangan, nan merupakan kenaikan tahunan kedua berturut-turut.

Tren positif ini bersambung pada paruh pertama 2026, di mana jumlah pasangan nan menikah meningkat 0,2 persen menjadi 238.979 pasangan. Para analis memandang peningkatan minat menikah sebagai aspek krusial nan mendorong nomor kelahiran, mengingat struktur sosial Jepang nan sangat mengaitkan kelahiran anak dengan lembaga pernikahan.

Peningkatan kelahiran tercatat terjadi di 26 prefektur. Tokyo menjadi wilayah dengan kenaikan tertinggi, ialah sebanyak 2.278 kelahiran, disusul oleh Prefektur Aichi (517) dan Fukuoka (438). Sebaliknya, 21 prefektur lainnya tetap mengalami penurunan, dengan Prefektur Ishikawa mencatat kontraksi terdalam sebesar 360 kelahiran.

Di sisi lain, nomor kematian di Jepang pada enam bulan pertama 2026 turun 6,9 persen menjadi 778.982 orang. Meski demikian, secara keseluruhan Jepang tetap mengalami penurunan alami jumlah masyarakat sebesar 436.914 orang dalam periode tersebut.

Catatan Historis: Jepang telah mengalami tren penurunan kelahiran nan konsisten sejak tahun 1973, saat negara tersebut mencatat ledakan kelahiran bayi kedua dengan 2,09 juta kelahiran. Pada 2025, jumlah kelahiran tahunan sempat menyentuh rekor terendah di nomor 705.000.

Meskipun terdapat kenaikan tipis, para mahir memperingatkan bahwa tren penurunan jangka panjang tetap membayangi. Hal ini disebabkan oleh menyusutnya populasi usia reproduktif serta meningkatnya kejadian masyarakat nan menunda alias memilih untuk tidak menikah sama sekali.

Pemerintah Jepang terus didesak untuk memperluas support bagi family dan pasangan muda. Penurunan populasi nan berkepanjangan dikhawatirkan bakal menakut-nakuti keberlangsungan bumi usaha, jasa publik, serta membebani sistem agunan sosial seperti jasa kesehatan dan biaya pensiun akibat menyusutnya jumlah tenaga kerja dan pedoman konsumen. (Ant/H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia