Populer: Teddy Sebut Investasi Masuk Rp 2.430 T; SBY Minta RI Bijak Pakai Uang

Sedang Trending 10 jam yang lalu
Seskab Letkol Teddy Indra Wijaya. Foto: Instagram/ @sekretariat.kabinet

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya nan menyebut investasi masuk ke Indonesia Rp 2.430 triliun saat menanggapi kritik dari Dino Patti Djalal menjadi salah satu buletin terkenal kumparanBISNIS sepanjang Selasa (2/6).

Selain itu, ucapan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) nan menyebut Indonesia kudu bijak dalam menggunakan uang juga menjadi sorotan. Berikut rangkumannya, Rabu (2/6).

Seskab Teddy soal Prabowo Sering ke Luar Negeri: Investasi Masuk Rp 2.430 T

Seskab Teddy mengungkapkan kunjungan Presiden ke luar negeri selama 1,5 tahun menjabat telah menghasilkan komitmen investasi senilai Rp 2.430 triliun. Angka dahsyat ini, nan disebut berasal dari info Kementerian Investasi dan Hilirisasi (BKPM), membantah kritik mengenai gelombang lawatan nan dianggap terlalu sering. Teddy menekankan bahwa perjalanan tersebut adalah upaya strategis untuk menarik modal dan memperkuat posisi ekonomi Indonesia di kancah global.

Hasil konkret dari lawatan tersebut termasuk masuknya Indonesia dalam keanggotaan BRICS, nan berimplikasi pada keamanan stok daya dan pangan. Selain itu, Indonesia sukses meneken perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa, memungkinkan peralatan ekspor Indonesia tidak dikenakan tarif impor alias 0 persen oleh 25 negara anggota. Hal ini secara signifikan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Eropa.

Kunjungan ke Korea Selatan dan Jepang bulan lampau apalagi disebut membawa investasi langsung sekitar Rp 575 triliun, menunjukkan potensi besar dari diplomasi ekonomi.

Founder FPCI sekaligus Eks Dubes RI untuk AS, Dino Patti Djalal di Sekretariat FPCI, Jakarta, Selasa (26/11/2024). Foto: Tiara Hasna/kumparan

Teddy menjelaskan lawatan ini krusial mengingat Presiden mulai menjabat saat bumi dihadapkan pada beragam krisis geopolitik dan ekonomi. Membangun hubungan baik dengan pemimpin bumi menjadi krusial untuk memanen support dan support saat krisis. Hal ini menegaskan diplomasi bukan sekadar seremonial, tetapi instrumen vital dalam menjaga stabilitas ekonomi dan politik Indonesia di tengah ketidakpastian dunia nan dinamis.

SBY: Banyak Negara Berkembang Habiskan Uang untuk Bayar Utang, RI Harus Bijak

Presiden ke-6 RI, SBY, menyoroti fragmentasi perekonomian dunia nan menyebabkan banyak negara berkembang sekarang lebih banyak menghabiskan anggaran untuk pembayaran utang. Situasi ini terjadi di tengah peningkatan kebutuhan pembiayaan vital, seperti untuk sektor kesehatan, pendidikan, infrastruktur, transisi energi, dan penyesuaian iklim. Geopolitik sekarang menjadi pendorong utama perdagangan, bukan lagi hanya efisiensi, sementara teknologi berkembang menjadi arena persaingan nan ketat, memperparah tekanan pada finansial publik.

Mantan Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam aktivitas Proficient di Perbanas Institute, Jakarta pada Selasa (2/6). Foto: Argya Maheswara/kumparan

Dalam menghadapi tantangan ekonomi dunia ini, SBY menekankan pentingnya bagi Indonesia untuk bersikap bijak dan merancang strategi pembangunannya sendiri. Menurutnya, Indonesia tidak bisa sekadar meniru jalur nan ditempuh negara maju. Strategi pembangunan kudu berakar pada kepentingan nasional, meskipun tetap terbuka terhadap dunia, untuk memastikan keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Lebih lanjut, SBY menggarisbawahi perlunya Indonesia untuk tetap berorientasi pada pasar tetapi dengan tanggung jawab sosial nan kuat. Pertumbuhan ekonomi kudu berkepanjangan secara lingkungan, dan kemajuan digital kudu tetap berpusat pada manusia. Pendekatan ini merupakan prinsip dari pembangunan berkepanjangan nan bakal memungkinkan Indonesia untuk tumbuh secara stabil dan merata di tengah kondisi dunia nan penuh tantangan.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan