Raul Castro.(Al Jazeera)
MILITER Kuba, nan pada puncak Perang Dingin pernah mengerahkan puluhan ribu tentara terlatih dari Angola hingga Suriah, sekarang hanyalah bayang-bayang dari kejayaan masa lalunya. Di saat Amerika Serikat mengirim kapal induk ke Karibia sebagai bagian dari kampanye tekanan terhadap pemerintahan komunis di pulau tersebut, kekuatan pertahanan Kuba dilaporkan berada dalam kondisi nan memprihatinkan.
Hingga runtuhnya Uni Soviet, Kuba mempunyai angkatan perang dengan lebih dari 200.000 personel. Saat ini, jumlah tentara aktif menyusut drastis menjadi sekitar 40.000 hingga 45.000 prajurit. Angkatan Udara Kuba, nan dulu dianggap salah satu nan terbaik di Amerika Latin dengan jet tempur MiG Soviet, sekarang hanya mempunyai segelintir pesawat nan kemungkinan besar sudah tidak layak terbang.
"Kuba dulu mempunyai militer kelas satu di negara bumi ketiga," ujar Frank Mora, mantan pejabat pertahanan era Barack Obama. "Sekarang, militer itu hanyalah cangkang dari masa lalunya dan tidak mempunyai kesempatan melawan kekuatan militer AS."
Narasi Ancaman dan Sanksi Baru
Meskipun para mahir menilai kekuatan militer Kuba melemah, pemerintahan Donald Trump justru mengambil perspektif pandang berbeda. Pada Januari lalu, Trump menandatangani perintah nan menyatakan Kuba sebagai ancaman luar biasa bagi keamanan nasional AS. Washington menuduh Havana berkawan dengan golongan teroris dan rival dunia seperti Rusia dan Tiongkok.
Bulan ini, ketegangan semakin memuncak setelah AS mendakwa mantan Presiden Raul Castro, 94, atas tuduhan pembunuhan dan menjatuhkan hukuman baru terhadap kepemimpinan militer Kuba. Selain itu, laporan intelijen nan dikutip Axios menyebut Havana mengakuisisi 300 drone nan berpotensi ditargetkan ke pangkalan Teluk Guantanamo alias Key West, Florida, jika terjadi serangan.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menuduh Kuba menjadi tuan rumah bagi pedoman intelijen Tiongkok dan Rusia. "Memiliki negara kandas nan dikelola oleh teman-teman musuh kita hanya berjarak 90 mil dari pantai kita adalah ancaman keamanan nasional," tegas Rubio.
Kondisi Terkini Pertahanan Kuba:
- Personel: Turun dari 200.000 menjadi sekitar 40.000-45.000 tentara aktif.
- Alutsista: Jet tempur MiG dan kapal fregat Soviet sebagian besar tidak beroperasi.
- Logistik: Krisis bahan bakar akut; Kuba hanya memproduksi 40% kebutuhan minyak mentah harian.
- Doktrin: Mengandalkan Perang Seluruh Rakyat (gerilya rakyat sipil).
Doktrin Perang Seluruh Rakyat
Menghadapi kemungkinan invasi, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel memperingatkan bahwa tindakan militer AS bakal memicu pertumpahan darah dengan akibat nan tak terhitung. Kuba mengandalkan doktrin pertahanan nan dikenal sebagai War of All the People (Perang Seluruh Rakyat) nan dicetuskan Fidel Castro pada 1980.
Dalam latihan pertahanan nasional, televisi pemerintah sering menampilkan penduduk lansia nan berlatih menembak dengan senapan AK-47 tua dan penduduk sipil nan memasang ranjau. Bahkan, terdapat rekaman nan menunjukkan gerobak sapi digunakan untuk mengangkut artileri akibat kelangkaan bahan bakar.
Krisis ekonomi nan berkepanjangan dan blokade pengiriman minyak melumpuhkan mobilitas militer Kuba. Pemadaman listrik nasional terjadi setiap hari dan jalan-jalan di Havana tampak kosong lantaran ketiadaan bahan bakar. Para mahir menilai, meski Kuba tidak mempunyai keahlian ofensif, mereka bakal menggunakan strategi gerilya untuk memperkuat hidup jika invasi betul-betul terjadi. (WSJ/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·