Review Buku Tekad Karya Guz Azmi & Wahyudi Pratama

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Tekad – Halo, Grameds! Di tengah banyaknya novel remaja modern, Tekad datang membawa nuansa berbeda lewat kisah tentang selawatan, dakwah, dan perjalanan memperbaiki diri.

Novel karya Gus Azmi dan Wahyudi Pratama ini nggak hanya menawarkan cerita religi, tetapi juga menggambarkan gimana anak muda menghadapi popularitas, tekanan hidup, dan pencarian makna dalam kehidupan.

Buat Grameds nan menyukai referensi dengan nuansa Islam, Tekad bisa menjadi salah satu novel nan menarik untuk dibaca. Berikut adalah resensi novel Tekad nan bisa Anda simak sebelum membaca bukunya!

Sinopsis Buku Tekad

button cek gramedia com

Semua berasal dari hobiku melantunkan ayat-ayat Allah, berselawat kepada Baginda Rasulullah, hingga berasosiasi dalam golongan peselawat tersohor seantero tanah jawa. Baik saya ataupun keluarga, tak ada nan pernah menyangka kehadiranku sebagai santri milenial nan cinta selawat bisa menarik perhatian banyak umat.

Niatku sangat sederhana ketika mulai tertarik untuk lebih mendalami bumi selawatan; mau mendekatkan diri dengan para ulama, serta jiwa dan raga tercium wangi surga.

Namun, seiring berjalannya waktu, saya semakin teguh pendirian dalam menekuni jalan dakwah nan kupilih, berdiri kokoh di atas kehendak hati, bukan atas kehendak orang lain; sebuah tekad bulat untuk berceramah di jalan Allah sampai akhir hayat.

“Aku bukan siapa-siapa. Hanya manusia biasa, nan memuja nama Allah dan mencintai Baginda Rasulullah. Jika ibadahku belum sempurna, paling tidak jalan dakwah nan kutempuh bisa berfaedah bagi seluruh umat.” – Azmi Askandar

Tentang Penulis Buku Tekad

Gus Azmi alias Muhammad Ulul Azmi Askandar Al-Abshor lahir di Probolinggo pada 23 April 2004. Ia dikenal sebagai vokalis grup sholawat Syubbanul Muslimin dari Pondok Pesantren Nurul Qodim Kalikajar, Probolinggo. Di kalangan generasi muda, Gus Azmi cukup terkenal lantaran membawakan musik religi Islami dengan style nan modern dan mudah diterima remaja.

Lewat bunyi merdunya dan langkah membawakan lagu nan penuh penghayatan, Gus Azmi sukses menarik perhatian banyak pendengar, khususnya pecinta musik sholawat dan hadroh. Kehadirannya juga membikin musik religi semakin dekat dengan generasi milenial dan Gen Z.

Sementara itu, Wahyudi Pratama merupakan penulis produktif lulusan Sarjana Hukum dari Universitas Hasanuddin. Selain aktif menulis, dia juga konsentrasi mendirikan pondok pesantren bertaraf internasional berjulukan Akademi Bahasa dan Tahfidz Al-Qur’an di Tulungagung, Jawa Timur.

Beberapa karya lain dari Wahyudi Pratama nan telah terbit antara lain Antara Kita dan Jurnal Rasa.

Popularitas dan Tekanan Menjadi Sorotan

Salah satu perihal menarik dari novel Tekad adalah gimana kitab ini menunjukkan sisi lain dari ketenaran nan sering kali terlihat bagus dari luar. Lewat tokohnya, pembaca diajak memahami bahwa dikenal banyak orang rupanya juga bisa membawa tekanan mental dan rasa capek nan nggak semua orang pahami.

“Jika disuruh memilih antara dikenal banyak orang alias biasa-biasa saja, maka saya pasti bakal memilih jadi orang biasa.”

Kutipan ini menggambarkan emosi seseorang nan sebenarnya nggak pernah betul-betul mengejar popularitas. Tokoh dalam novel merasa bahwa perhatian berlebihan dari banyak orang justru membikin hidupnya terasa diawasi dan kehilangan ketenangan.

Melalui bagian ini, Grameds bisa memandang bahwa bumi selawatan dan dakwah rupanya nggak selalu tentang pujian dan kekaguman. Ada tanggung jawab besar, tekanan batin, hingga rasa takut mengecewakan banyak orang nan juga kudu dihadapi.

Keikhlasan dalam Dunia Selawatan

Grameds, novel Tekad juga memperlihatkan bahwa perjalanan spiritual seseorang sering kali dimulai dari niat sederhana. Tokoh dalam cerita nggak masuk ke bumi selawatan demi terkenal alias dipuji banyak orang, tetapi lantaran mau lebih dekat kepada Allah dan lingkungan nan baik.

“Niatku sangat sederhana ketika saya mulai tertarik untuk lebih mendalami bumi selawatan; mau mendekatkan diri dengan para ulama, serta jiwa dan raga tercium wangi surga.”

Kutipan tersebut menjadi salah satu bagian nan paling menyentuh lantaran menggambarkan ketulusan hati seseorang dalam mencari jalan kebaikan. Dunia selawatan dalam novel ini bukan hanya tentang musik religi alias lantunan pujian kepada Nabi, tetapi juga tentang proses memperbaiki diri dan memperkuat iman.

Lewat cerita ini, pembaca diajak memahami bahwa lingkungan nan baik bisa membawa perubahan besar dalam hidup seseorang.

Kerinduan Spiritual kepada Rasulullah

Salah satu kekuatan utama novel Tekad adalah nuansa spiritualnya nan terasa hangat dan menyentuh hati. Buku ini banyak menghadirkan quote penuh makna tentang cinta kepada Rasulullah SAW dan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

“Wahai tuanku, yaa Rasulullah. Raih tanganku. Hanya engkau nan kumiliki, dan saya tak menoleh kepada siapa pun selain engkau.”

Kutipan tersebut menggambarkan rasa cinta, harapan, dan ketergantungan seorang manusia kepada Rasulullah sebagai teladan hidup. Kalimatnya sederhana, tetapi bisa memberikan nuansa emosional nan kuat bagi pembaca.

Grameds juga bisa merasakan gimana novel ini mencoba menghadirkan ketenangan lewat angan dan selawat. Pembahasan spiritualnya terasa nggak menggurui sehingga membikin pembaca lebih mudah memahami pesan nan mau disampaikan.

Dunia Selawatan nan Dekat dengan Anak Muda

Buku ini menunjukkan bahwa dakwah nggak kudu selalu umum dan terkesan kaku, tetapi bisa disampaikan lewat langkah nan lebih dekat dengan generasi sekarang, seperti hadroh dan musik religi.

Melalui kisah perjuangan tokohnya, pembaca diperlihatkan gimana anak muda tetap bisa mengikuti perkembangan era tanpa meninggalkan nilai-nilai agama. Kehadiran bumi selawatan dalam novel ini juga membikin cerita terasa lebih hangat dan penuh daya positif.

Selain itu, novel ini sukses memperlihatkan bahwa organisasi nan baik dapat membantu seseorang tumbuh menjadi pribadi nan lebih kuat, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah.

Pesan tentang Keteguhan Hati dan Istiqomah

Selain membahas bumi dakwah dan selawatan, novel Tekad juga membawa pesan tentang pentingnya mempunyai tekad kuat dalam menjalani kehidupan. Tokoh dalam cerita digambarkan menghadapi banyak tantangan, keraguan, dan tekanan, tetapi tetap berupaya mempertahankan niat baiknya.

Lewat perjalanan tersebut, pembaca diajak memahami bahwa hidup nggak selalu melangkah mudah. Akan ada banyak ujian nan membikin seseorang mau menyerah. Namun, novel ini mengingatkan bahwa ketulusan, kesabaran, dan kepercayaan kepada Allah menjadi perihal krusial agar seseorang tetap bisa bertahan.

Karena itu, Tekad terasa bukan hanya sebagai novel religi biasa, tetapi juga sebagai referensi motivasi nan bisa memberi semangat dan membikin pembacanya lebih merenungkan tujuan hidup mereka sendiri, Grameds.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Tekad

Pros & Cons

Pros

  • Dunia selawatan terasa hangat dan relate.
  • Banyak quote religi nan menyentuh.
  • Pesan Islami ringan dan nggak menggurui.
  • Memberikan motivasi tentang tekad dan istiqomah.
  • Bahasa mudah dipahami.
  • Cocok untuk remaja pecinta novel religi.

Cons

  • Beberapa pesan terasa berulang.
  • Konflik cerita cukup sederhana.
  • Tempo cerita terasa pelan di beberapa bagian.

Berikut adalah kelebihan dan kekurangan buku:

Kelebihan Novel Tekad

1. Mengangkat Dunia Selawatan dengan Menarik

Novel ini sukses memperlihatkan bumi selawatan dan hadroh dengan langkah nan hangat serta dekat dengan kehidupan anak muda. Pembaca diajak memandang gimana selawat bukan hanya  lantunan lagu religi semata, tetapi juga menjadi jalan seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menemukan lingkungan nan positif.

2. Banyak Kutipan nan Menyentuh

Buku Tekad mempunyai banyak quote penuh makna nan bisa membikin pembaca lebih merenungkan kehidupan. Kutipan-kutipannya nggak hanya bernuansa religi, tetapi juga berisi motivasi tentang perjuangan, ketulusan, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

3. Pesan Islami nan Ringan dan Nggak Menggurui

Salah satu daya tarik novel ini adalah langkah penyampaian pesan dakwahnya nan terasa ringan. Penulis menyampaikan nilai-nilai Islam melalui perjalanan tokoh dan cerita sehari-hari sehingga pembaca bisa memahami pesan moral tanpa merasa sedang diceramahi.

4. Memberikan Motivasi tentang Tekad dan Keikhlasan

Cerita dalam novel ini mengajarkan pentingnya mempunyai tekad kuat, niat nan tulus, dan semangat untuk terus berjuang di jalan kebaikan. Pembaca diajak memahami bahwa proses menjadi pribadi nan lebih baik memerlukan kesabaran dan istiqomah.

5. Bahasa Mudah Dipahami

Gaya bahasa nan digunakan terasa sederhana dan mengalir sehingga nyaman dibaca oleh beragam kalangan, terutama remaja. Hal ini membikin pesan-pesan dalam novel lebih mudah diterima dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kekurangan Novel Tekad

1. Beberapa Pesan Dakwah Terasa Berulang

Karena novel ini cukup konsentrasi pada penyampaian nilai spiritual dan dakwah, ada beberapa bagian nan terasa mengulang pesan nan sama. Hal tersebut mungkin membikin sebagian pembaca merasa pembahasannya sedikit terlalu panjang.

2. Konflik Cerita Cenderung Sederhana

Novel ini lebih menonjolkan perjalanan spiritual dan proses pencarian makna hidup dibanding bentrok besar nan dramatis. Karena itu, pembaca nan menyukai cerita penuh plot twist mungkin bakal merasa alurnya cukup ringan.

3. Tempo Cerita Agak Pelan

Beberapa bagian dalam novel terasa melangkah lambat lantaran banyak berisi renungan, perbincangan spiritual, dan proses perjalanan jiwa tokohnya.

Kesimpulan

Pada akhirnya, Tekad bukan hanya bercerita tentang bumi selawatan, tetapi juga tentang perjalanan hati seseorang dalam menemukan tujuan hidupnya. Novel ini memperlihatkan bahwa ketulusan, lingkungan nan baik, dan kepercayaan kepada Allah dapat membantu seseorang tetap kuat menghadapi beragam ujian hidup.

Kehadiran kutipan-kutipan spiritual serta pembahasan tentang dakwah membikin novel ini terasa lebih emosional dan penuh renungan, Grameds. Meskipun dengan alur nan sederhana, pesan nan dibawa Azmi Askandar dan Wahyudi Pratama bisa meninggalkan kesan hangat bagi pembaca.

Penulis: Yulian Dwi Nugroho

Rekomendasi Buku Terkait

Laiqa: Runway to Heaven – Hengki Kumayandi

Runway to Heaven

button cek gramedia com

Dari waktu ke waktu, saya tak pernah menemukan makna kebahagiaan. Selalu berlari secepat angin dari masalah satu ke masalah lainnya. Namaku Tama Janowitz. Karena bentrok di tanah kelahiran, saya dan adikku Alicia kudu pergi ke sebuah negeri nan tak pernah kami tahu sebelumnya. Petualangan demi petualangan kami dapatkan. Bahkan, saya sampai masuk ke penjara dan terpisah dari adikku tersayang, Alicia. Semua nan kulakukan hanya satu. Menemukan Alicia, meyakinkannya bahwa saya kakaknya, dan menjaganya seumur hidup. Sehingga, suatu saat nanti, aku, Alicia, dan Mama bisa berkumpul di surga-Nya.

Laiqa: Hijrah Kayra – Fiatuzzahro

Hijrah Kayra

button cek gramedia com

“Karena cinta nan sebenarnya cinta, hanya nan mendekatkan kita kepada nan Mahacinta.”

Menurutku, hidup tak lebih dari melakukan apa nan kita suka tanpa kudu memikirkan omongan nyinyir orang di luar sana. Tetapi, sebuah kasih sayang lembut bisa mengeluarkanku dari prinsip itu. Tadinya hanya berupa hal-hal pahit nan menyakitkan. Hal-hal rumit nan menyesakkan. Dan baru kusadari, kasih sayang tak selalu tentang perihal manis. Inilah perjalanan hijrahku nan tak mudah…. Kupersembahkan kepada kalian nan sedang mencoba istiqomah….

Laiqa: Kresek Hitam – Honey Dee

Kresek Hitam

button cek gramedia com

Maera pikir, masuk pondok rehabilitasi merupakan balasan terbaik atas pelunasan dosa-dosa masa lalunya. Ternyata, balasan nan sesungguhnya didapat setelah dia keluar dari sana. Dia kehilangan kerabat dan teman, di-DO dari kampus, dan nan jauh lebih buruk, tak lagi dipercaya kedua orangtuanya. Ketika Maera berupaya menata ulang kehidupannya, orang-orang nan dia minta bisa menolong malah berbalik menghancurkannya. Apakah beban nan terlampau berat ini bisa dihadapi Maera di usianya nan baru sembilan belas? Haruskah hidupnya berhujung ibaratkan kresek hitam nan bakal disingkirkan oleh keluarganya?

Laiqa: The Special Boy – Husain Suitaatmadja

The Special Boy

button cek gramedia com

Terlahir sebagai anak spesial, Aubin berupaya maksimal terhadap semua potensi nan dia punya. Berbisnis sedari muda, hingga dia menemukan passion-nya; berkarier sebagai pekerja sosial. Bagaimana Aubin meyakinkan lingkungan sekitarnya bahwa ketidaknormalannya justru membikin dia spesial?

Laiqa: Lari Dari Pesantren – Andri Saptono

Lari dari Pesantren

button cek gramedia com

Apa kalian tidak jenuh terus-terusan dikurung di Pondok Al-Ikhlas ini? Mau begini tidak boleh! Mau begitu tidak boleh! Ustaznya galak! Pelajarannya bikin ngantuk. Sudah begitu makanannya itu-itu saja! Menunya membosankan semua! Kalian kudu cari pengalaman di luar. Lihat kehidupan di luar tembok pondok! Kalian tetap muda! Lihat tuh di luar anak-anak bermain sebebas-bebasnya. Pergi ke mana mereka suka. Apa kalian tidak iri? Albar dan Ilyas lari dari tempat mereka menimba ilmu. Rencananya hanya satu hari. Tapi, tak disangka menjadi nyaris satu bulan! Banyak peristiwa di luar dugaan nan mereka temukan. Seperti apa Albar dan Ilyas menghadapi realita di luar sana?

Selengkapnya
Sumber Gramedia
Gramedia