Mengolah Limbah Sapi Bali Menjadi Pupuk Organik Bernilai Ekonomi

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Mengolah Limbah Sapi Bali Menjadi Pupuk Organik Bernilai Ekonomi Peternak di Tabanan, Bali, Garap Fermentasi Kotoran Sapi Jadi Pupuk Organik Berkualitas(Dok. Istimewa)

Usaha peternakan sapi rakyat di Bali sekarang tengah memasuki babak baru. Selama ini, sistem pemeliharaan tradisional berskala mini sering kali menyisakan persoalan lingkungan akibat penumpukan limbah kotoran ternak. Namun, melalui sentuhan teknologi tepat guna, limbah nan semula menjadi sumber aroma tak sedap sekarang disulap menjadi pupuk organik padat berbobot nan menjanjikan untung ekonomi.

Inisiatif ini digerakkan oleh tim akademisi dari Universitas Warmadewa melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) di Banjar Jebaud, Desa Beringkit, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Fokus utamanya adalah mengubah paradigma peternak agar bisa mengelola limbah secara berdikari dan berkelanjutan.

Potensi Masif Limbah Sapi di Tabanan

Data menunjukkan bahwa potensi limbah ternak di wilayah ini sangat besar. Berdasarkan penjelasan Ketua PKM dari Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa, Nyoman Pande Aryanti, seekor sapi Bali rata-rata menghasilkan kotoran sebanyak 8 hingga 10 kilogram per hari. Dalam setahun, nomor ini mencapai 2,6 hingga 3,6 ton per ekor.

Dengan populasi sapi di Kabupaten Tabanan nan telah menembus 26.000 ekor, penumpukan limbah tanpa pengolahan berisiko menyebabkan:

  • Pencemaran lingkungan dan sumber air.
  • Peningkatan populasi lalat nan membawa penyakit.
  • Pelepasan gas amonia nan mengganggu kesehatan pernapasan.

"Jika difermentasi dengan baik, volume kotoran tahunan dari satu ekor sapi itu bisa dikonversi menjadi 1,5 sampai 2 ton pupuk organik berbobot jual," ujar Pande Aryanti di Denpasar, Senin (1/6).

Penerapan Teknologi Fermentasi Aerob Sesuai SNI

Melalui training teknis nan diberikan kepada Kelompok Tani Ternak Wahyu Kesiti, para peternak sekarang menerapkan metode fermentasi aerob. Proses pengolahan ini merujuk pada SNI 7763:2018 tentang pupuk organik padat untuk memastikan produk nan dihasilkan mempunyai daya saing di pasar luas.

Beberapa parameter keberhasilan fermentasi nan diajarkan kepada peternak meliputi:

  • Perubahan Visual: Warna kotoran berubah menjadi coklat kehitaman.
  • Tekstur: Menjadi remah dan bahan terdekomposisi sempurna.
  • Aroma: Tidak lagi mengeluarkan aroma menyengat.
  • Kandungan Hara: Penggunaan bioaktivator unik untuk meningkatkan unsur nitrogen, fosfor, dan kalium.

Intervensi Teknologi: Tim Universitas Warmadewa memberikan support berupa mesin pencacah, penghalus, tong fermentasi, hingga penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk menjaga konsistensi kualitas produksi.

Membangun Kemandirian dan Ekonomi Hijau

Ketua Kelompok Ternak Wahyu Kesiti, Wayan Suardika, menyatakan bahwa teknologi ini sangat mudah diterapkan lantaran memanfaatkan bahan baku nan melimpah di sekitar kandang. Dengan 21 personil peternak, golongan ini diharapkan tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan pupuk untuk lahan pertanian mereka sendiri, tetapi juga menciptakan sumber pendapatan baru melalui penjualan pupuk kemasan.

Langkah ini menjadi bagian krusial dalam mendukung pertanian organik di Desa Beringkit sekaligus memotong ketergantungan peternak pada pupuk kimia (anorganik). Transformasi ini membuktikan bahwa dengan edukasi dan teknologi, limbah peternakan bukan lagi beban, melainkan aset berbobot dalam ekosistem ekonomi hijau di Bali. (RS/I-1)

FAQ Pengolahan Pupuk Organik Sapi

1. Berapa lama proses fermentasi kotoran sapi?
Dengan support bioaktivator, proses dekomposisi biasanya berjalan selama 3 hingga 4 minggu tergantung pada kondisi lingkungan dan kelembapan.

2. Apa untung utama pupuk organik dibanding kimia?
Pupuk organik memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya serap air, dan menyediakan nutrisi jangka panjang tanpa merusak ekosistem tanah.

3. Mengapa kudu sesuai SNI 7763:2018?
Standar ini menjamin bahwa pupuk kondusif dari patogen berbahaya, mempunyai kadar air nan tepat, dan kandungan unsur hara nan memenuhi syarat minimal untuk pertumbuhan tanaman.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia