ilustrasi(Magnific)
Hipertensi dan obesitas tetap menjadi dua masalah kesehatan utama nan menghantui masyarakat Indonesia. Kedua kondisi ini tidak hanya menurunkan kualitas hidup, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi beragam penyakit kronis mematikan seperti penyakit jantung, stroke, hingga glukosuria melitus.
Para mahir kesehatan menekankan bahwa penerapan pola hidup sehat sejak awal adalah kunci utama. Hal ini menjadi krusial mengingat adanya pergeseran pola penyakit di masyarakat, dari penyakit menular sekarang didominasi oleh Penyakit Tidak Menular (PTM).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Heri Purnomo, mengungkapkan bahwa peningkatan kasus PTM sangat dipengaruhi oleh kebiasaan hidup nan tidak sehat. Faktor akibat seperti merokok, kurangnya aktivitas fisik, rendahnya konsumsi serat, hingga stres nan tidak terkelola menjadi pemicu utama.
“Obesitas dan hipertensi itu saat ini banyak terjadi di masyarakat kita. Dan ini menunjukkan sekarang ada pergeseran pola penyakit dari menular ke tidak menular,” ujar Heri sebagaimana dikutip dari laman Pemkab Jateng.
Pentingnya Keseimbangan Energi
Heri menjelaskan bahwa obesitas dan hipertensi mempunyai keterkaitan nan sangat erat. Obesitas secara signifikan meningkatkan akibat tekanan darah tinggi. Salah satu pemicunya adalah style hidup sedenter alias kurang bergerak.
Untuk mengatasinya, keseimbangan antara asupan kalori dan daya nan dikeluarkan kudu dijaga. “Makan boleh banyak, tetapi diimbangi dengan aktivitas alias olahraga. Bisa jalan kaki, lari, alias senam. nan krusial ada mobilitas sehingga tidak terjadi obesitas,” tambahnya.
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUP Dr. Kariadi Semarang, Andreas Arie Setiawan, mengingatkan bahwa hipertensi sering kali tidak menunjukkan indikasi (silent killer). Seseorang dikategorikan hipertensi jika tekanan darahnya mencapai 140 mmHg alias lebih.
Andreas menekankan bahwa perubahan style hidup dapat memberikan akibat signifikan terhadap penurunan tekanan darah:
- Pola makan sehat: Menurunkan tekanan darah 8–14 mmHg.
- Olahraga rutin (30-45 menit/hari): Menurunkan tekanan darah 4–9 mmHg.
- Penurunan berat badan (tiap 10 kg): Berpotensi menurunkan tekanan darah 5–20 mmHg.
“Perilaku hidup sehat menjadi fondasi pengendalian hipertensi, mulai dari membatasi garam, tidak merokok, hingga mengelola stres,” terang Andreas.
Risiko Komplikasi Akibat Obesitas
Senada dengan perihal tersebut, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUP Dr. Kariadi, Tania Tejo Minulyo, menjelaskan bahwa obesitas berangkaian erat dengan akibat kanker, jantung koroner, hingga gangguan metabolik. Ia juga meminta masyarakat waspada terhadap indikasi awal glukosuria nan sering menyertai obesitas, seperti sering haus, mudah lelah, dan gangguan penglihatan.
Tips Pencegahan Obesitas & Diabetes:
- Terapkan pola makan seimbang dan hindari kalori berlebih.
- Lakukan aktivitas bentuk minimal 150 menit per minggu.
- Biasakan pola hidup sehat pada anak sejak awal untuk mencegah akibat jangka panjang.
“Mulai dari diri sendiri dan keluarga. Jika ada personil family nan masuk kategori obesitas, kita wajib membiasakan pola hidup sehat sejak awal,” tegas Tania. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·