ilustrasi neraca perdagangan.(dok.IPC)
MENTERI Perdagangan Budi Santoso menanggapi perihal neraca perdagangan Indonesia nan kembali mengalami defisit secara bulanan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Juni 2026, neraca perdagangan peralatan mengalami defisit sebesar US$0,45 miliar. Sebelumnya pada Mei, neraca perdagangan Indonesia defisit US$1,61 miliar nan mana mengakhiri tren surplus bulanan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
"Bulan Juni kita tetap defisit tetapi kita lebih baik. Sekarang mulai tipis di US$0,45 miliar. Harapan kami sih bulan Juli mudah-mudahan sudah surplus," ujar mendag kepada Media Indonesia saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (3/8).
Budi mengungkapkan aspek surplus perdagangan terhenti di bulan Mei lalu. Salah satunya lantaran pada Maret-April 2026 nilai minyak bumi naik sangat tinggi. Menurutnya, di saat volume impor (migas maupun non-migas) mengalami penurunan, neraca perdagangan justru mengalami defisit lantaran nilai minyak mentah bumi mengalami kenaikan hingga di atas US$100 per barel dan hingga saat ini tetap fluktuatif. Sementara nilai normal sekitar US$60-US$65 per barel.
"Sebenarnya impor migas turun dari April 2026 sebanyak 4,9 juta ton menjadi 4,3 juta ton pada Mei. Tapi kan harganya (minyak dunia) naik, tinggi banget. Karena naik makanya defisit. Sebenarnya impor kita dari sisi volume turun, tapi dari sisi nilai naik," ungkapnya.
Di sisi lain, nilai ekspor juga mengalami peningkatan tetapi nilainya tidak bisa besar lantaran rupiahnya sedang melemah. Mendag juga menekankan bahwa tingginya ekspor juga kudu dilihat berasas komoditas.
"Impornya tinggi tapi apa sih nan diimpor? Di semester I 2026, nan kita impor ini 71,37% bahan baku/penolong. Bahan baku/ponolong memang kan bahan baku untuk produksi tetap banyak impor," paparnya.
Kemudian 19,94% impor berupa peralatan modal seperti mesin-mesin untuk produksi. "Barang konsumsi itu 8,69%, gak banyak peralatan jadi nan dipakai langsung oleh konsumen. Nah lainnya itu kan berfaedah 91 koma sekian persen itu peralatan bahan baku dan bahan penolong," kata Budi.
Di sisi lain, pertumbuhan impornya juga sedang meningkat. Pada Semester I 2026, impor peralatan konsumsi naik 17,13% c-to-c, bahan baku/penolong naik 18,38%, dan peralatan modal naik 20,50%. "Artinya bahwa industri kita memang lagi bergerak," kata mendag.
Kalau kita lihat di bulan Juni defisitnya sudah turun dari US$1,6 miliar di Mei sekarang menjadi US$0,45 miliar. Surplus non migas naik dari US$2,15 miliar menjadi US$3,04 miliar.
Mendag pun optimistis tren neraca perdagangan bakal membaik ke depan. Salah satunya lantaran bakal banyak penerapan perjanjian jual beli seperti IEU-CEPA (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement) alias perjanjian jual beli bebas antara Indonesia dan Uni Eropa.
"Apalagi kelak banyak perjanjian jual beli nan tahun ini penerapan terutama tahun depan IEU-CEPA kita targetkan sudah jalan. Kalau sudah jalan mudah-mudahan semakin banyak ekspor kita," ujar mendag.
"Karena sekarang asosiasi seperti Apindo sudah roadshow cari mitra lantaran sudah tahu bakal jalan. Dia cari mitra ke Eropa. Pasar mereka kan besar sekali 27 negara. Ini nan membikin kita optimistis ekspor kita terus meningkat," pungkasnya. (Ifa/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·