Membentuk Pekerja Sejak dari Bangku Sekolah

Sedang Trending 12 jam yang lalu

Pendidikan sering dipahami sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sekolah dipandang sebagai tempat siswa memperoleh pengetahuan pengetahuan, mengembangkan potensi, dan mempersiapkan masa depan nan lebih baik. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Dalam kajian sosiologi pendidikan, sekolah juga dipahami sebagai lembaga nan membentuk kebiasaan, sikap, dan pola perilaku nan dianggap krusial dalam kehidupan sosial.

Siswa dibiasakan datang tepat waktu, mengikuti aturan, menyelesaikan tugas sesuai tenggat waktu, serta menghormati struktur otoritas di dalam kelas. Aktivitas tersebut tampak sebagai bagian normal dari proses belajar. Namun, pola nan sama juga ditemukan dalam bumi kerja modern.

Pola tersebut menarik perhatian sosiolog pendidikan Amerika, Samuel Bowles dan Herbert Gintis. Melalui teori correspondence principle, keduanya beranggapan bahwa struktur sekolah mempunyai kesamaan dengan struktur bumi kerja. Hubungan pembimbing dan siswa mencerminkan hubungan pemimpin dan bawahan. Jadwal pelajaran menyerupai jam kerja. Sistem nilai berfaedah seperti pertimbangan kinerja. Kepatuhan terhadap patokan menjadi kualitas nan terus dilatih sejak usia sekolah.

Dalam perspektif ini, sekolah tidak hanya mempersiapkan siswa untuk melanjutkan pendidikan, tetapi juga untuk memasuki pasar kerja.

Jejak Dunia Kerja di Ruang Kelas

Fenomena tersebut cukup mudah ditemukan dalam praktik sehari-hari. Kehadiran sering menjadi syarat krusial dalam penilaian meskipun pemahaman siswa terhadap materi sudah baik. Tugas kudu dikumpulkan sesuai agenda nan ditentukan. Kedisiplinan administratif kerap memperoleh perhatian nan sama besar dengan capaian akademik. Nilai nan diajarkan bukan tentang pengetahuan saja , tetapi juga tentang gimana seseorang berfaedah dalam sebuah organisasi.

Kondisi ini menjadi relevan ketika memandang perubahan pasar tenaga kerja modern. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Februari 2024 jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai lebih dari 149 juta orang. Setiap tahun, jutaan lulusan baru memasuki pasar kerja nan semakin kompetitif. Sekolah kemudian berada dalam posisi sebagai lembaga nan menyiapkan tenaga kerja agar bisa beradaptasi dengan kebutuhan tersebut.

Ilustrasi Sekolah nan mencetak pekerja Foto: Generate By AI

Pandangan kritis terhadap kondisi ini dikembangkan lebih lanjut oleh Michael Apple. Menurut Apple, kurikulum tidak pernah sepenuhnya netral lantaran selalu berangkaian dengan kepentingan sosial dan ekonomi nan lebih luas. Pengetahuan nan dianggap krusial untuk diajarkan sering kali selaras dengan kebutuhan golongan nan mempunyai pengaruh dalam masyarakat.

Kritik tersebut tidak berfaedah sekolah hanya berfaedah melayani kepentingan ekonomi. Pendidikan tetap mempunyai peran krusial dalam membentuk keahlian berpikir, kreativitas, dan partisipasi sosial. Namun, pertanyaan mengenai siapa nan paling diuntungkan dari sistem pendidikan tetap relevan untuk dibahas.

Menyiapkan Masa Depan alias Mengulang Pola?

Perkembangan teknologi dalam beberapa tahun terakhir juga memperlihatkan tantangan baru. Banyak pekerjaan rutin mulai tergantikan oleh otomatisasi dan kepintaran buatan. Dunia kerja semakin memerlukan keahlian berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kreativitas. Ironisnya, sebagian sekolah tetap berfokus pada hafalan, kepatuhan prosedural, dan pencapaian nilai akademik semata.

Situasi tersebut memunculkan jarak antara kebutuhan masyarakat masa depan dan pola pendidikan nan tetap memperkuat hingga sekarang. Sekolah sering mengeklaim mempersiapkan siswa untuk menghadapi perubahan, tetapi sebagian praktik pembelajarannya tetap berorientasi pada model kerja nan lahir dari kebutuhan industri masa lalu.

Pembahasan mengenai pendidikan akhirnya tidak hanya berangkaian dengan kurikulum alias metode mengajar. Sekolah memang berfaedah menyalurkan pengetahuan, tetapi juga membentuk langkah siswa beradaptasi dengan struktur sosial dan ekonomi nan ada. Dari ruang kelas hingga bumi kerja, terdapat pola-pola nan tidak selalu tertulis dalam kurikulum, tetapi terus dipelajari dan dijalankan oleh siswa setiap hari.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan