Jakarta, CNBC Indonesia - Perseteruan antara dua lembaga intelijen utama Amerika Serikat (AS) mulai berakibat pada pengawasan bentrok Iran. Badan Intelijen Pusat AS alias CIA dilaporkan menghentikan kontribusinya terhadap sejumlah penilaian intelijen nan disusun Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI), sehingga memicu kekhawatiran mengenai kualitas kajian keamanan nasional di tengah memanasnya situasi geopolitik.
Konflik internal tersebut telah berjalan lebih dari setahun dan sekarang mengganggu koordinasi nan selama ini menjadi fondasi penyusunan laporan intelijen bagi Presiden Donald Trump dan para kreator kebijakan AS.
"ODNI semestinya menjadi minyak dalam sistem nan menjaga aliran arteri organisasi intelijen dan menghilangkan hambatan. Ketika itu tidak terjadi, lembaga-lembaga bisa kembali bekerja sendiri-sendiri dan meningkatkan akibat kegagalan intelijen," kata Beth Sanner, mantan Wakil Direktur Intelijen Nasional pada masa pemerintahan Trump, seperti dikutip Reuters, Rabu (3/6/2026).
Menurut sejumlah sumber nan mengetahui persoalan tersebut, Iran menjadi salah satu rumor nan paling terdampak. CIA tidak lagi berkontribusi secara penuh pada sejumlah penilaian intelijen nan disusun National Intelligence Council (NIC), badan kajian utama nan berada di bawah koordinasi ODNI dan selama ini menjadi rujukan krusial pemerintah AS, terutama saat terjadi bentrok alias perang.
Retaknya hubungan kedua lembaga terjadi ketika Washington tengah menghadapi sejumlah tantangan keamanan besar sekaligus, mulai dari bentrok Iran, perang Rusia-Ukraina, hingga meningkatnya aktivitas militer China. Dalam kondisi seperti itu, kerjasama antar-lembaga intelijen menjadi krusial untuk memastikan para pengambil keputusan memperoleh gambaran ancaman nan utuh.
Sumber Reuters menyebut akar masalah bermulai dari pembentukan Director's Initiatives Group oleh Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard pada April 2025. Gugus tugas tersebut dibentuk untuk menyelidiki dugaan politisasi organisasi intelijen sekaligus menangani sejumlah rumor sensitif, termasuk asal-usul Covid-19, keamanan mesin pemungutan suara, dan deklasifikasi arsip pembunuhan Presiden John F. Kennedy.
CIA nan dipimpin Direktur John Ratcliffe menilai golongan tersebut kerap mengabaikan prosedur standar dalam pembagian info intelijen dan proses deklasifikasi dokumen. Sebaliknya, pejabat ODNI menuduh CIA secara konsisten menghalangi akses gugus tugas tersebut terhadap info intelijen nan dibutuhkan.
Meski menghentikan kontribusi terhadap sebagian penilaian intelijen ODNI, CIA tetap mempunyai jalur lain untuk menyampaikan info kepada Gedung Putih. Salah satunya melalui Presidential Daily Brief, laporan intelijen rahasia nan setiap hari diberikan kepada presiden.
Juru bicara ODNI Olivia Coleman membantah adanya gangguan serius terhadap arus info intelijen. Menurut dia, Presiden Trump dan para kreator kebijakan tetap menerima kajian terbaik dari organisasi intelijen AS.
"ODNI dan lembaga-lembaga nan diawasinya berkomunikasi dan bekerja-sama setiap hari dengan rekan-rekan CIA di seluruh spektrum produk dan operasi intelijen," ujar Coleman.
Sementara itu, Direktur Urusan Publik CIA Liz Lyons mengatakan badan tersebut tetap konsentrasi menghadapi ancaman terhadap kepentingan nasional AS.
"Di bawah Direktur Ratcliffe, CIA dengan sigap mengambil akibat nan terukur untuk mengalahkan musuh-musuh Amerika dan memberikan kelebihan strategis bagi Amerika Serikat," katanya.
Hubungan kedua lembaga semakin memburuk setelah Gabbard mencopot dua pejabat senior CIA nan memimpin NIC pada Mei 2025. ODNI menuduh keduanya menciptakan lingkungan kerja nan jelek dan mempunyai rekam jejak politisasi intelijen, meski tidak menyertakan bukti publik untuk mendukung tuduhan tersebut.
Ketegangan bersambung ketika Gabbard mencabut izin keamanan 37 pejabat aktif dan mantan pejabat intelijen pada Agustus 2025. Langkah itu memicu kontroversi lantaran turut mengungkap identitas seorang pemasok CIA nan sedang bekerja secara rahasia di luar negeri.
Perselisihan tersebut sekarang apalagi menjadi objek penyelidikan oleh instansi pengawas jenderal organisasi intelijen AS. Di tengah bentrok Iran nan tetap berlangsung, keretakan hubungan CIA dan ODNI memunculkan kekhawatiran bahwa Washington tidak lagi memperoleh gambaran intelijen nan sepenuhnya terpadu, meningkatkan akibat kesalahan kalkulasi dalam menghadapi salah satu bentrok paling sensitif nan sedang dihadapi AS.
(tfa/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
5 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·