Program bayi tabung alias IVF sekarang banyak diminati pasangan nan sedang menanti kelahiran anak. Ya Moms, infertilitas tetap menjadi tantangan bagi banyak pasangan di beragam bagian dunia, termasuk Indonesia.
Menurut WHO, sekitar 1 dari 6 orang di bumi mengalami infertilitas. Angka ini menunjukkan besarnya kebutuhan bakal penanganan infertilitas nan terus berkembang.
Menjawab tantangan tersebut, Blastula IVF Siloam Sriwijaya terus mengembangkan kualitas jasa fertilitas, salah satunya melalui integrasi teknologi berbasis artificial intelligence (AI), kualitas laboratorium, dan pendekatan individual untuk memberikan support nan lebih optimal bagi setiap pasien nan menjalani program IVF.
“Dengan menggunakan AI, kami dapat memprioritaskan embrio mana nan terbaik untuk ditransfer pertama sehingga nantinya dapat meningkatkan nomor keberhasilan,” ujar dr. M. Aerul Chakra Alibasya, SpOG, Subsp. FER, MIGS, Head of Blastula IVF Siloam Sriwijaya, saat menghadiri The First Siloam Robotic Summit 2026.
Komitmen ini juga tercermin dalam capaian klinis Blastula IVF Siloam Sriwijaya, dengan clinical pregnancy rate mencapai 64%, nan secara signifikan melampaui dunia benchmark sebesar 35%. Sejak tahun 2021 hingga saat ini, Klinik Blastula IVF telah membantu proses kelahiran sekitar 600 bayi.
Teknologi AI dan Time-Lapse untuk Mendukung Seleksi Embrio
Salah satu penemuan nan mulai diterapkan adalah pemanfaatan AI untuk membantu proses seleksi embrio. Selama ini, penilaian embrio umumnya dilakukan secara morfologi, ialah dengan mengawasi corak dan tingkat perkembangan, menggunakan sistem grading. Namun, penilaian tersebut tidak selalu cukup untuk menggambarkan secara menyeluruh potensi embrio untuk berkembang menjadi kehamilan.
Melalui teknologi time-lapse incubator, perkembangan embrio dapat dipantau secara live. Data perkembangan embrio, seperti karakter pola dan waktu perubahan perkembangan embrio dari waktu ke waktu (morfokinetik). Data tersebut kemudian dapat menjadi info tambahan nan dianalisis dengan support AI untuk mendukung proses seleksi dan menentukan prioritas embrio nan bakal ditransfer.
“Dengan AI itu bakal muncul scoring system. Jadi bakal muncul suatu prediksi dari AI berasas morfokinetik dan juga morfologi selama perkembangan embrio di di dalam time-lapse incubator, score nan [kemungkinan besar] bakal menjadi implant dan bakal jadi baby," ujar dr. Chakra.
Seleksi Prioritas Embrio Selama Proses IVF
Blastula IVF Siloam Sriwijaya menggunakan sistem electronic witnessing nan membantu proses seleksi embrio selama rangkaian prosedur IVF. Sistem ini menggunakan MIRI Evidence, identifikasi berbasis RFID dan kode info matriks untuk membantu verifikasi identitas serta mendokumentasikan perjalanan embrio sepanjang proses laboratorium.
Sistem juga dapat memberikan peringatan andaikan terdapat ketidaksesuaian identitas, sehingga membantu meminimalkan akibat kesalahan identifikasi alias baby mix-up.
Penerapan sistem electronic witnessing mendukung beragam tahapan dalam alur kerja IVF, termasuk proses fertilisasi, kultur dan seleksi embrio, kriopreservasi, pencairan embrio, hingga transfer embrio.
“Setiap tahapan IVF kudu dapat ditelusuri dengan baik. Dengan sistem ini, proses identifikasi dan pencatatan dapat dilakukan secara lebih terintegrasi. Jika terjadi ketidaksesuaian, sistem dapat memberikan peringatan sehingga akibat kesalahan identifikasi dapat diminimalkan. Tujuan akhirnya adalah memberikan rasa trust kepada pasien bahwa embrio mereka ditangani secara tepat sepanjang proses IVF,” jelas dr. Chakra.
Strategi IVF nan Dipersonalisasi dengan Kondisi Pasien
Selain teknologi, strategi pengelolaan embrio juga menjadi bagian krusial dalam program IVF. Salah satu strategi nan diterapkan adalah menerapkan strategi pengembangan embrio hingga tahap blastokista sebelum transfer. Pendekatan ini memberikan kesempatan bagi embrio untuk berkembang lebih lanjut di laboratorium sebelum dilakukan seleksi untuk transfer dan memerlukan performa serta konsistensi laboratorium nan baik.
“IVF modern bukan hanya tentang mempunyai teknologi terbaru. Pelaksanaan IVF modern adalah gimana kita dapat membantu pasien mendapatkan take-home baby secara efektif, mengurangi beban bentuk dan psikologis, serta menghindari prosedur nan tidak diperlukan,” ujar dr. Chakra.
Meskipun teknologi dapat mendukung proses IVF, setiap pasien tetap mempunyai kondisi nan berbeda. Usia ibu, jumlah dan kualitas sel telur, persediaan ovarium, serta kondisi klinis lainnya perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi terapi.
“Yang paling krusial adalah transparansi. Kita (dokter) kudu dapat menjelaskan kepada pasien sejak awal mengenai kesempatan mereka dan gimana strategi terapi nan dapat dilakukan. Dengan begitu, pasien memahami bahwa perjalanan IVF mungkin tidak selalu selesai dalam satu kali percobaan. Kita mau membantu pasien tetap mempunyai harapan, tetapi dengan ekspektasi nan realistis,” ungkap dr. Chakra.
Pada akhirnya, Blastula IVF Siloam Sriwijaya memandang teknologi sebagai bagian dari ekosistem jasa IVF nan lebih luas. AI dapat mendukung proses seleksi embrio, sistem electronic witnessing membantu memperkuat seleksi prioritas embrio, sementara kualitas laboratorium, quality control, pengalaman tim, serta strategi nan dipersonalisasi menjadi fondasi dalam memberikan jasa kepada pasien.
57 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·