Kepemimpinan Membumi: Pelajaran Jawa Kuno untuk Menjawab Krisis Pemimpin Modern

Sedang Trending 10 jam yang lalu
Dok: AI

Di era ketika politik semakin ramai oleh pencitraan, kepemimpinan sering kali diukur dari seberapa sering seseorang tampil di layar, seberapa tinggi elektabilitasnya, alias seberapa banyak pengikutnya di media sosial. Kita hidup dalam situasi ketika penampilan sering lebih dihargai daripada keteladanan, dan ketenaran kerap dianggap lebih krusial daripada integritas.

Padahal, dalam tradisi Jawa, kepemimpinan tidak pernah dimulai dari luar diri. Ia berasal dari keahlian seseorang mengelola dirinya sendiri. Sebab seseorang nan belum bisa memimpin hawa nafsunya bakal susah dipercaya untuk memimpin orang lain.

Kearifan ini terasa semakin relevan ketika kita menyaksikan beragam persoalan di sekitar kita. Korupsi terus berulang meski patokan semakin banyak. Konflik muncul meski ruang perbincangan terbuka lebar. Kepercayaan publik menurun bukan lantaran kurangnya program, tetapi lantaran masyarakat semakin susah menemukan keteladanan.

Tradisi Jawa sejak lama mengingatkan bahwa kualitas sebuah komunitas, organisasi, apalagi negara, sangat dipengaruhi oleh kualitas pemimpinnya. Ketika pemimpinnya jujur, budaya kejujuran tumbuh. Ketika pemimpinnya sederhana, kesederhanaan menjadi teladan. Sebaliknya, ketika pemimpin mempertontonkan keserakahan, masyarakat perlahan menganggap keserakahan sebagai sesuatu nan wajar.

Karena itu, kepemimpinan bukan pertama-tama soal keahlian memerintah, melainkan keahlian memberi contoh.

Salah satu pelajaran menarik dari falsafah Jawa adalah rayuan belajar dari alam. Alam mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu datang dalam corak nan keras dan mencolok.

Angin, misalnya, memberi kehidupan tanpa pernah meminta pujian. Kita baru menyadari pentingnya udara ketika kehilangannya. Begitu pula pemimpin nan baik. Ia tidak sibuk mencari sorotan, tetapi bekerja memastikan sistem melangkah dan masyarakat merasakan manfaatnya. Banyak kepala desa, guru, relawan sosial, alias pemimpin organisasi bekerja seperti angin: tidak viral, tetapi dampaknya nyata.

Bumi mengajarkan kerendahan hati. Ia berada di bawah, menanggung beban siapa pun nan berdiri di atasnya, tetapi tetap memberi kehidupan. Pemimpin nan mempunyai watak bumi tidak merasa dirinya lebih tinggi lantaran jabatan. Semakin besar tanggung jawabnya, semakin besar pula kesediaannya untuk melayani. Ia tidak alergi kritik dan tidak merasa nilai dirinya turun ketika kudu mendengar keluhan rakyat secara langsung.

Samudra mengajarkan keluasan hati. Dalam kehidupan publik hari ini, kritik sering dianggap serangan dan perbedaan pendapat diperlakukan sebagai permusuhan. Padahal pemimpin nan matang kudu bisa menampung beragam aspirasi tanpa kehilangan kejernihan berpikir. Seperti samudra nan menerima banyak aliran sungai, pemimpin perlu mempunyai ruang nan cukup luas untuk mendengar, memahami, dan merangkul perbedaan.

Sementara rembulan mengajarkan keteduhan. Masyarakat tidak selalu memerlukan pemimpin nan paling keras suaranya. Dalam situasi sulit, rakyat justru memerlukan sosok nan bisa menghadirkan ketenangan dan harapan. Ketika nilai kebutuhan pokok naik, lapangan pekerjaan sulit, alias musibah datang bertubi-tubi, nan dicari masyarakat bukan sekadar pidato panjang, tetapi kepastian bahwa ada pemimpin nan memahami kegelisahan mereka.

Falsafah Jawa juga mengenalkan perumpamaan menarik tentang pemimpin sumur dan pemimpin sungai.

Pemimpin sumur mempunyai banyak pengetahuan, tetapi menunggu orang datang kepadanya. Sebaliknya, pemimpin sungai aktif mengalirkan faedah ke mana-mana. Ia tidak menunggu laporan menumpuk di meja kerja sebelum bergerak. Ia turun memandang persoalan, mendengar langsung bunyi masyarakat, dan mencari solusi sebelum masalah membesar.

Di sinilah letak tantangan kepemimpinan Indonesia hari ini. Banyak lembaga tetap bekerja seperti sumur: menunggu aduan, menunggu perintah, menunggu masalah datang. Padahal masyarakat memerlukan pemimpin nan bekerja seperti sungai: hadir, bergerak, dan menjangkau mereka nan paling membutuhkan.

Untuk menjaga kualitas kepemimpinan itu, tradisi Jawa mewariskan tiga nasihat sederhana tetapi sangat penting.

Pertama, ojo gumunan—jangan mudah terpukau. Tidak semua perihal nan terlihat baru pasti lebih baik. Pemimpin kudu bisa membedakan antara penemuan nan memang dibutuhkan dan tren sesaat nan hanya mengikuti arus.

Kedua, ojo kagetan—jangan mudah panik. Banyak keputusan jelek lahir bukan lantaran kurangnya informasi, tetapi lantaran pemimpin bereaksi terlalu sigap tanpa pertimbangan nan matang. Dalam situasi krisis, ketenangan sering kali lebih berbobot daripada keberanian nan terburu-buru.

Ketiga, ojo dumeh—jangan mentang-mentang. Jabatan, kekayaan, pendidikan, maupun kekuasaan hanyalah titipan. Ketika seseorang merasa dirinya lebih krusial daripada orang lain lantaran posisi nan dimiliki, saat itulah kepemimpinannya mulai kehilangan makna.

Pada akhirnya, inti kepemimpinan Jawa sangat sederhana: menjadi manusia nan berfaedah bagi sesama. Bukan manusia nan paling dipuji, bukan nan paling terkenal, dan bukan pula nan paling berkuasa.

Di tengah bumi nan semakin gaduh oleh perebutan pengaruh, masyarakat sesungguhnya merindukan pemimpin nan membumi. Pemimpin nan tidak hanya pandai berbincang tentang rakyat, tetapi juga datang di tengah rakyat. Pemimpin nan tidak menjadikan kedudukan sebagai perangkat untuk dilayani, melainkan sebagai kesempatan untuk mengabdi.

Karena sejarah menunjukkan bahwa nan paling lama dikenang bukanlah mereka nan paling besar kekuasaannya, melainkan mereka nan paling besar manfaatnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan