Jakarta -
Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian seorang anak nan dilaporkan terjatuh di area kandang gajah Taman Margasatwa Ragunan. Peristiwa tersebut dinilai kudu menjadi perhatian serius dan momentum pertimbangan menyeluruh terhadap sistem keamanan serta keselamatan visitor di area wisata tersebut.
"Saya sangat prihatin atas terjadinya kejadian ini. Keselamatan dan kondisi kesehatan anak nan berkepentingan kudu menjadi prioritas utama," ujar Kenneth dalam keterangannya, Senin (1/6/2026).
Pria nan berkawan disapa Bang Kent itu mengatakan, kejadian tersebut tidak boleh dipandang sebagai kejadian biasa. Menurutnya, peristiwa itu kudu menjadi momentum bagi seluruh pengelola akomodasi publik untuk berbenah dan kudu memperkuat standar keselamatan, terutama di letak wisata nan setiap harinya dikunjungi ribuan masyarakat, termasuk anak-anak dan keluarga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kent menegaskan, bahwa keselamatan visitor kudu menjadi prioritas utama dalam setiap standar operasional pengelolaan area wisata. Karena itu, manajemen Taman Margasatwa Ragunan diminta melakukan investigasi internal secara transparan guna mengetahui secara pasti kronologi kejadian, aspek penyebab, serta kemungkinan adanya celah dalam sistem pengamanan.
"Kami meminta pertimbangan dilakukan secara objektif dan menyeluruh. Fokusnya bukan mencari pihak nan kudu disalahkan, melainkan menemukan akar persoalan dan memastikan langkah-langkah perbaikan dapat segera dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang kembali," kata Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta tersebut.
Menurut Kent, pemeriksaan terhadap aspek pengamanan bentuk kudu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pagar pembatas, pagar pengaman berlapis, jalur pengunjung, titik observasi satwa, hingga area-area nan mempunyai tingkat akibat tinggi.
"Apabila ditemukan adanya pagar nan tidak memenuhi standar keamanan, celah pengamanan, alias titik nan memungkinkan visitor mendekati area satwa secara berbahaya, maka perbaikan kudu segera dilakukan tanpa menunggu terjadinya kejadian berikutnya," tegas Ketua IKAL PPRA Angkatan LXII Lemhannas RI itu.
Selain itu, penguatan sistem pengawasan di lapangan juga dinilai sangat penting. Jumlah petugas keamanan dan petugas pengawas kudu disesuaikan dengan tingkat kunjungan, terutama saat akhir pekan, hari libur nasional, maupun masa liburan sekolah nan biasanya mengalami lonjakan pengunjung.
"Kehadiran petugas nan aktif melakukan patroli dan memberikan imbauan secara langsung kepada visitor merupakan langkah preventif nan sangat krusial untuk meminimalkan akibat kecelakaan," ujarnya.
Di sisi lain, Kent juga menyoroti kejadian masyarakat nan kerap mengabaikan keselamatan demi mendapatkan foto alias video nan menarik untuk diunggah ke media sosial. Menurutnya, tren tersebut perlu menjadi perhatian berbareng lantaran dapat memicu tindakan berisiko, terutama di area wisata nan mempunyai potensi bahaya.
"Terlepas dari apa pun motif nan melatarbelakangi kejadian tersebut, keselamatan visitor kudu menjadi prioritas utama. Di era media sosial saat ini, masyarakat perlu semakin bijak dalam membikin maupun mengejar konten. Jangan sampai kemauan mendapatkan foto, video, alias konten nan menarik justru mengabaikan aspek keselamatan, terlebih jika melibatkan anak-anak. Tidak ada konten nan sebanding dengan akibat keselamatan jiwa," tegasnya.
Kent menjelaskan, bahwa area konservasi satwa mempunyai protokol patokan dan batas nan wajib dipatuhi oleh seluruh pengunjung. Pagar pengaman, garis pembatas, serta beragam rambu keselamatan dibuat bukan untuk membatasi aktivitas masyarakat, melainkan untuk melindungi manusia maupun satwa dari potensi bahaya.
Karena itu, Kent mengimbau para orang tua untuk memberikan pengawasan maksimal terhadap anak-anak saat berjamu ke tempat wisata, khususnya di area nan berdekatan dengan satwa berukuran besar dan berpotensi membahayakan.
"Anak-anak sering kali belum memahami akibat nan ada sehingga pendampingan orang dewasa menjadi sangat penting. Keamanan di ruang publik merupakan tanggung jawab bersama. Orang tua dan pendamping mempunyai peran nan krusial dalam memastikan anak-anak tetap berada dalam pengawasan," katanya.
Meski demikian, Kent menegaskan, bahwa pengelola tetap kudu memastikan sistem keamanan nan kuat dan berlapis guna meminimalkan beragam potensi risiko, termasuk dalam situasi nan tidak terduga.
Ia juga mendorong agar pengelola Taman Margasatwa Ragunan meningkatkan sosialisasi mengenai patokan keselamatan kepada para visitor melalui pemasangan papan peringatan nan lebih jelas, pengumuman berkala melalui pengeras suara, hingga edukasi langsung oleh petugas di lapangan.
"Jika memang terdapat kecenderungan visitor mendekati area terlarang demi mengambil foto alias membikin konten media sosial, maka perlu ada langkah antisipatif nan lebih tegas, baik melalui penambahan petugas, penguatan pagar pengaman, pemasangan kamera pengawas, maupun sosialisasi nan lebih masif," ujar Kent.
Untuk ke depan, Kent mendorong dilakukannya audit keselamatan secara berkala terhadap seluruh akomodasi di Taman Margasatwa Ragunan, termasuk simulasi penanganan keadaan darurat, peningkatan kapabilitas petugas, pemasangan CCTV di titik rawan, serta penyusunan standar mitigasi akibat nan lebih komprehensif.
"Kejadian ini kudu menjadi pelajaran bagi semua pihak. Budaya mengejar konten tidak boleh mengalahkan kesadaran bakal keselamatan. Tempat wisata adalah ruang rekreasi dan edukasi, bukan letak untuk mengambil akibat nan dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain," tutupnya.
Sebelumnya, sebuah video viral di media sosial memperlihatkan seorang anak jatuh ke dalam kandang gajah di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan. Dalam video itu terlihat sang anak jatuh ke area parit kandang gajah lampau dibantu orang sekitar untuk naik.
Dalam video nan dilihat pada, Minggu (31/5/2026), anak nan mengenakan busana merah itu tampak sudah berada di area parit. Sedangkan beberapa orang dewasa mencoba melewati pembatas lampau mengulurkan tangan agar anak tersebut bisa diangkat dan kembali.
(ega/anl)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·