Pernah merasa hidup orang lain terlihat lebih rapi daripada hidup sendiri? Teman sudah mulai magang, ikut organisasi, menang lomba, punya upaya kecil, alias terlihat punya banyak relasi. Sementara itu, diri sendiri tetap merasa jalan di tempat, bingung mau mulai dari mana, dan diam-diam bertanya, “Kok saya belum jadi apa-apa, ya?”
Perasaan seperti ini cukup sering muncul pada mahasiswa. Masa kuliah memang bukan hanya soal kelas, tugas, dan ujian. Di fase ini, seseorang mulai memandang banyak jenis kehidupan orang lain. Ada nan terlihat sigap berkembang, ada nan terlihat sudah punya arah jelas, dan ada juga nan tampak selalu produktif. Dari luar, semua tampak meyakinkan.
Masalahnya, ketika terlalu sering memandang pencapaian orang lain, seseorang bisa lupa memandang prosesnya sendiri. Hidup kawan terlihat seperti garis lurus nan rapi, sedangkan hidup sendiri terasa penuh jeda, belokan, dan kebingungan. Padahal, nan terlihat dari luar tidak selalu menunjukkan keseluruhan cerita.
Saat Hidup Orang Lain Terlihat Lebih Rapi
Media sosial membikin emosi tertinggal semakin mudah muncul. Di layar ponsel, orang biasanya menampilkan bagian hidup nan paling siap dilihat: sertifikat, aktivitas organisasi, foto magang, liburan, alias momen bahagia. Jarang ada nan menunjukkan proses panjang, rasa gagal, alias hari-hari ketika mereka juga merasa bingung.
Akhirnya, kita sering membandingkan bagian paling acak-acakan dari hidup sendiri dengan bagian paling rapi dari hidup orang lain. Dari situ, pikiran mulai membikin konklusi nan belum tentu benar. “Aku kalah jauh.” “Aku kurang usaha.” “Aku tidak seberkembang teman-teman.” Padahal, konklusi seperti itu sering muncul dari potongan info nan sangat terbatas.
Dalam Psikologi, Ini Disebut Perbandingan Sosial
Dalam psikologi, kecenderungan menilai diri dengan memandang orang lain dikenal sebagai komparasi sosial. Sederhananya, manusia memang sering memakai orang lain sebagai patokan untuk memahami posisi dirinya. Hal ini wajar, lantaran manusia hidup di lingkungan sosial dan tidak bisa betul-betul lepas dari penilaian sekitar.
Perbandingan sosial tidak selalu buruk. Kadang, memandang pencapaian orang lain bisa membikin seseorang termotivasi. Misalnya, memandang kawan mulai magang lampau ikut terdorong untuk memperbaiki CV. Namun, komparasi ini bisa menjadi melelahkan ketika berubah menjadi kebiasaan merendahkan diri sendiri. Bukan lagi “aku bisa belajar dari dia”, tetapi berubah menjadi “aku tidak ada apa-apanya dibanding dia”.
Kenapa Mahasiswa Mudah Merasa Tertinggal?
Mahasiswa sering berada di fase nan serba belum pasti. Ada nan tetap mencari minat, ada nan belum menemukan lingkungan nan cocok, ada nan sedang mencoba banyak perihal tetapi belum terlihat hasilnya. Di saat nan sama, tuntutan untuk sigap sukses terasa datang dari beragam arah: keluarga, kawan sebaya, media sosial, apalagi dari diri sendiri.
Perasaan tertinggal juga bisa muncul lantaran seseorang terlalu konsentrasi pada hasil akhir. Padahal, proses setiap orang tidak dimulai dari titik nan sama. Ada nan punya support family kuat, ada nan kudu berjuang lebih sendiri. Ada nan sejak awal sudah tahu mau ke mana, ada juga nan perlu waktu lebih lama untuk mengenali dirinya. Perbedaan ini sering tidak terlihat ketika seseorang hanya memandang pencapaian dari permukaan.
Karena itu, merasa tertinggal tidak selalu berfaedah seseorang betul-betul gagal. Bisa jadi, dia sedang berada di tahap mencari arah. Bisa jadi, prosesnya belum terlihat. Bisa juga, dia sedang terlalu keras menilai dirinya sendiri.
Psikodiagnostik Tidak Bekerja dengan Tebakan Cepat
Kalau dilihat dari perspektif psikodiagnostik, emosi “aku tertinggal” tidak langsung berfaedah seseorang mempunyai masalah psikologis tertentu. Psikolog tidak menyimpulkan kondisi seseorang hanya dari satu perasaan, satu unggahan media sosial, alias satu cerita singkat. Dalam asesmen psikologi, kondisi seseorang perlu dipahami dari beragam sisi, seperti riwayat kehidupan, kondisi emosi, pola pikir, perilaku sehari-hari, dan dampaknya terhadap aktivitas.
Hal ini krusial lantaran banyak orang mudah memberi label pada dirinya sendiri. Merasa sedih sedikit langsung menganggap diri depresi. Cemas menghadapi masa depan langsung merasa punya gangguan kecemasan. Merasa tertinggal dari kawan langsung menganggap dirinya kandas total. Padahal, pengalaman emosional manusia jauh lebih kompleks daripada satu label nan diambil dari internet.
Mengenali diri sendiri berbeda dengan mendiagnosis diri sendiri. Mengenali diri berfaedah sadar bahwa ada emosi tidak nyaman nan perlu diperhatikan. Sementara itu, mendiagnosis diri berfaedah langsung memberi nama pada kondisi psikologis tanpa pemeriksaan nan tepat. Informasi ilmu jiwa boleh menjadi pintu awal untuk memahami diri, tetapi bukan pengganti support profesional.
Jangan Mengukur Hidup dari Kecepatan Orang Lain
Yang sering dilupakan, hidup tidak selalu bergerak dengan kecepatan nan sama. Ada orang nan terlihat sigap berhasil, tetapi bukan berfaedah semua orang kudu punya ritme nan sama. Sebagian orang butuh waktu lebih lama untuk membangun keberanian, mengenali kemampuan, alias menemukan lingkungan nan cocok.
Langkah mini juga tetap termasuk perkembangan. Mulai berani bertanya di kelas, menyusun CV, mencoba daftar kepanitiaan, belajar mengatur waktu, alias berani meminta support ketika kewalahan, semuanya tetap bagian dari proses. Mungkin tidak selalu terlihat besar di mata orang lain, tetapi tetap berfaedah untuk diri sendiri.
Apa nan Bisa Dilakukan Saat Merasa Tertinggal?
Ketika emosi tertinggal mulai muncul, langkah pertama nan bisa dilakukan adalah memberi jarak dari pikiran sendiri. Tidak semua pikiran kudu langsung dipercaya. Pikiran seperti “aku gagal” alias “aku tidak sebaik teman-teman” mungkin terasa kuat, tetapi belum tentu benar. Kadang, pikiran itu muncul lantaran tubuh sedang lelah, tekanan sedang tinggi, alias media sosial terlalu banyak memberi perbandingan.
Menulis isi pikiran bisa membantu memandang masalah dengan lebih jelas. Misalnya, menuliskan perihal apa nan membikin merasa tertinggal, apa nan sebenarnya sedang dibutuhkan, dan langkah mini apa nan tetap mungkin dilakukan. Cara ini tidak membikin semuanya langsung selesai, tetapi bisa membantu pikiran tidak terlalu penuh.
Berbicara dengan orang nan dipercaya juga bisa menjadi langkah nan sehat. Tidak semua perihal kudu dipendam sendiri. Jika rasa rendah diri, cemas, alias tidak berbobot mulai mengganggu tidur, kuliah, hubungan sosial, alias aktivitas harian, berkonsultasi dengan psikolog alias konselor bisa menjadi pilihan nan lebih aman.
Pelan-Pelan, Hidup Tidak Harus Sama Cepatnya
Pada akhirnya, merasa tertinggal dari kawan sendiri adalah pengalaman nan manusiawi, terutama saat berada di fase mencari arah hidup. Namun, emosi itu tidak kudu selalu dipercaya sebagai kebenaran penuh. Kadang, nan perlu diperbaiki bukan hidupnya, tetapi langkah seseorang menilai dirinya sendiri.
Pencapaian orang lain tidak otomatis mengurangi nilai diri sendiri. Hidup bukan perlombaan nan semua orang mulai dari garis nan sama. Setiap orang punya waktu, beban, dukungan, dan proses nan berbeda. Jadi, tidak apa-apa jika hari ini belum sejauh orang lain. nan penting, tetap bergerak, meski pelan, dan tetap memberi ruang untuk memahami diri sendiri tanpa terus-menerus merasa kalah.
Referensi
American Psychological Association. (2013). Understanding psychological testing and assessment. https://www.apa.org/topics/testing-assessment-measurement/understanding
American Psychological Association. (2020). Guidelines for psychological assessment and evaluation. https://www.apa.org/about/policy/guidelines-psychological-assessment-evaluation.pdf
Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117-140. https://doi.org/10.1177/001872675400700202
Nguyen, J. (2023). Social media and self-diagnosis. Johns Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/news/articles/2023/08/social-media-and-self-diagnosis
Oleh Dharwina Baliah, Dr. Rachmat Mulyono M.si, Psikolog.
16 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·