
Kekerasan terhadap perempuan. (Foto: Freepik)
JAKARTA – Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan nan dilakukan oleh TH kepada pacarnya YTR di Bandung terus jadi sorotan. Kini, Dosen Psikologi Universitas Islam Bandung, Stephani Raihana Hamdan, turut angkat bicara.
Stephani menyebut korban nan disekap dan dianiaya kemungkinan terjebak siklus abusive relationship. Hal ini nan perlu diwaspadai setiap perempuan.

1. Sita Perhatian
Kasus penyekapan dan penganiayaan YTR menyita perhatian banyak pihak termasuk Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadim nan apalagi membikin sayembara untuk menangkap TH saat tetap menjadi buron. Tetapi kini, TH telah sukses diamankan oleh Polda Jawa Barat di area Majalaya Kabupaten Bandung pada Selasa 23 Juni 2026.
Tindakan TH nan menyekap apalagi menyiksa pacarnya selama tiga tahun hingga mengalami luka bentuk nan cukup berat dinilai tidak wajar. Menanggapi perihal tersebut, Dosen Psikologi Universitas Islam Bandung, Stephani Raihana Hamdan mengatakan bahwa kejadian kasus penyekapan dan penganiayaan selama tiga tahun ini secara psikologis masuk lingkaran abusive relationship.
Abusive relationship terjadi kala salah satu pihak, baik laki-laki maupun perempuan, lebih dominan dan mengendalikan. Mereka apalagi dengan langkah negatif berupa tindak kekerasan.
“Mungkin jika dari kacamata ilmu jiwa kasus ini sebetulnya bisa dilihat sebagai abusive relationship terutama physical abuse. Jadi memang kekerasan bentuk nan memang sudah di titik relationship itu memang abusive, memang hubungannya hubungan nan penuh dengan kekerasan,” kata Stephani saat dihubungi Okezone, Jumat (26/6/2026).
2. Abusive Relationship
Stephani menyebut abusive relationship ini merupakan siklus kondisi psikologis dimana pasangan nan mendapat tindak kekerasan bakal dibawa kembali ke masa-masa kasmaran alias menyenangkan dalam hubungannya. Dalam kondisi itu, pasangan nan mendapat tindak kekerasan bakal merasa untuk memperkuat berbareng pasangannya meskipun dia telah mendapat tindak kekerasan.
“Jadi ada satu dinamika nan biasanya siklus, jadi jika abusive relationship itu biasanya selalu ada fase dimana mereka awalnya mungkin honeymoon misalnya orang kasmaran, lagi jatuh cinta, lagi happy-happy. Tapi kelak misalnya mulai ada tanda-tanda abusive, tapi tetap sifatnya mini sampai kelak di titik dia mengalami tindak kekerasan,” ucap Stephani.
Stephani menuturkan, siklus tersebut sederhananya adalah pola relationship pasangan nan mendapat tindak kekerasan kemudian pasangan lainnya meminta maaf namun kemudian tindak kekerasan itu terulang kembali. Demikian siklus tersebut terus terjadi hingga akhirnya tindak kekerasan terjadi dalam jangka waktu nan cukup lama apalagi bisa sampai bertahun-tahun seperti kasus nan dilakukan oleh TH terhadap YTR.
“Tapi biasanya makanya ini bisa sampai terjadi bertahun-tahun, pasti ada siklus nan kembali rekonsiliasi, kembali minta maaf dan sebagainya. Sampai kelak di titiknya perempuannya bakal kembali ke alias misalnya hubungannya bakal kembali ke fase honeymoon. Akan terus memperkuat di dalam kondisi ini lantaran situasinya tadinya terjebak dalam lingkaran kekerasan.Dalam perihal ini intime relationshipnya tuh nan sifatnya abusive,” tutur Stephani.
Stephani menjelaskan bahwa kondisi kekerasan nan diterima korban dalam abusive relationship ini sendiri biasanya didapat secara bertahap. Dari mulai tindak kekerasan ringan hingga akhirnya kekerasan berat. Tingkat kekerasannya nan didapat semakin lama bakal semakin meningkat di tengah siklus tersebut.
“Dia bakal misalnya awalnya hanya mungkin kena tampar tapi kelak minta maaf, besokannya kena pukul, tapi minta maaf gitu. Jadi semakin lama eskalasinya bakal semakin meningkat, tapi kondisinya pasti ada titik dia bakal kembali lagi dia mengampuni alias kembali tanda kutip mesra dulu lah. Sampai kelak dia bakal terus makin lama makin meningkat. Nah makanya kejadiannya bisa bertahun-tahun itu pasti ada sisi itu,” jelas dia.
Di satu sisi, siklus ini cukup rawan bagi korban. Alasan kenapa akhirnya korban memperkuat lantaran adanya fase kesenangan dalam hubungan nan diberikan kepada korban. Seperti pasangan nan meminta maaf atas kesalahan kemudian korban diajak untuk berlibur, bersenang-senang menghabiskan waktu berdua.
Di titik itu, korban bakal merasa bisa mengampuni pasangannya kembali. Padahal, secara tidak sadar dia telah terjebak dalam lingkaran abusive relationship .
“Tapi kenapa ini bisa memperkuat bertahun-tahun lantaran pasti sifatnya siklus nan tadi ada fase kembali honeymoon lagi, ada fase dia bakal kembali cinta lagi, kembali sayang lagi, mengampuni sama pelaku dan sebagainya. Ketika ada masalah dan sebagainya bakal kembali ada kondisi dia disiksa lagi,” ungkap Stephani.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·