Kasus Kekerasan Taufik Hidayat ke YTR, Psikolog Forensik Jelaskan Peran Alkohol dan 5 Faktor Lain yang Bisa Jadi Penyebab

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Kasus Kekerasan Taufik Hidayat ke YTR, Psikolog Forensik Jelaskan Peran Alkohol dan 5 Faktor Lain nan Bisa Jadi Penyebab

Taufik Hidayat pelaku kekerasan terhadap YTR. (Foto: Instagram)

KASUS kekerasan nan melibatkan pelaku berjulukan Taufik Hidayat kepada kekasihnya berinisial YTR, di Bandung selama 3 tahun memunculkan perdebatan mengenai peran alkohol dalam memicu tindakan brutal. Pelaku berinisial TH itu sendiri mengaku perilaku kejinya terjadi akibat pengaruh alkohol.

Pandangan soal alkohol dapat mengubah kepribadian seseorang hingga melakukan kekerasan pun ramai diperbincangkan. Namun ternyata, tak hanya alkohol nan bisa jadi aspek penyabab. Bisa jadi, perihal itu diungkap Taufik demi menutup tindakan kekerasannya.

 Nakal dari Kecil hingga Pernah Terjerat Kasus Penganiayaan

Menanggapi perihal tersebut, psikolog forensic, Reza Indragiri, dalam aktivitas Morning Zone di Youtube Okezone, menjelaskan hubungan antara konsumsi alkohol dan perilaku kekerasan. Menurutnya, alkohol bukanlah satu-satunya aspek nan menyebabkan seseorang melakukan tindakan kejam.

Alkohol Berkaitan Erat dengan Kekerasan?

Reza Indragiri mengatakan beragam riset menunjukkan adanya hubungan nan kuat antara konsumsi minuman beralkohol dan meningkatnya akibat perilaku garang alias kekerasan. Meski demikian, temuan tersebut tidak dapat langsung dijadikan dasar bahwa setiap pelaku kekerasan pasti dipengaruhi oleh alkohol.

Hubungan itu tetap kudu dibuktikan pada masing-masing kasus melalui pemeriksaan nan menyeluruh. Menurut Reza, perilaku manusia, termasuk tindakan kriminal, umumnya dipengaruhi oleh banyak aspek nan saling berkaitan.

Alkohol mungkin menjadi salah satunya. Tetapi, tindakan itu bisa saja terjadi lantaran aspek lain nan berkontribusi hingga seseorang melakukan kekerasan ekstrem.

“Pertama, sekian banyak riset memang menemukan tadi hubungan nan sangat erat antara konsumsi alkohol dalam kurung miras dengan bertindak kekerasan. Jadi tidak serta-merta saya anggap itu sebagai sebuah klaim nan mengada-ngada,” ujar Reza.

“Tapi, klaim nan boleh jadi terbenarkan oleh riset tinggal lagi dibuktikan seberapa jauh kebenaran teori itu bertindak pada diri si pelaku. Jadi lagi, tali-temali nan sangat kuat antara konsumsi alkohol dengan bertindak kekerasan. Itu poin pertama,” lanjutnya.

Untuk memahami profil pelaku secara menyeluruh, Reza menjelaskan perlunya dilakukan risk assessment alias penilaian risiko. Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi beragam aspek nan dapat meningkatkan akibat seseorang melakukan tindak kekerasan. Apa saja aspek tersebut?

Berikut 5 Faktor Lain nan Bisa Jadi Penyebab Kekerasan:

1. Riwayat Penyalahgunaan Zat dan Gangguan Mental

Dimensi pertama mencakup riwayat penyalahgunaan alkohol alias narkoba, serta kemungkinan adanya gangguan mental tertentu. Dalam konteks kasus ini, konsumsi alkohol masuk dalam aspek nan perlu dievaluasi.

“Apakah alkohol merupakan aspek tunggal nan menyebabkan kenapa pelaku sampai melakukan sedemikian kejam? Saya orang nan membayangkan bahwa perilaku manusia termasuk perilaku jahat manusia itu disebabkan oleh aspek nan majemuk, nan lebih dari satu. Jadi anggaplah ada aspek alkohol di situ,” jelas Reza.

“Tapi, boleh jadi ada faktor-faktor lain nan berkelindang nan turut pada akhirnya membentuk pelaku kekerasan. Nah untuk memastikannya, mengingat si TH ya, jika tidak salah ini adalah pelaku kekerasan, maka saya bakal melakukan risk assessment alias penakaran akibat terhadap orang semacam ini,” lanjutnya.

“Risk assessment alias penakaran akibat itu dilakukan untuk menelaah lima dimensi. Pertama, riwayat ada tidaknya penyalahgunaan narkoba dan gangguan mental. Nah, jika kita bicara miras rupanya ini berada pada dimensi pertama, ialah penyalahgunaan narkoba dan kemungkinan ada tidaknya gangguan mental tertentu. Tapi tidak hanya itu kan, rupanya ada empat dimensi lain,” sambungnya.

2. Fantasi alias Ketertarikan Terhadap Kekerasan

Penilaian juga mencakup kebiasaan pelaku, seperti jenis bacaan, tontonan, topik pembicaraan, hingga khayalan nan sering muncul. Jika seseorang terus-menerus terpapar alias mempunyai khayalan mengenai kekerasan, perihal tersebut dapat menjadi salah satu aspek nan perlu diperhatikan.

“Dimensi nan kedua, fantasi-fantasi kekerasan. Si pelaku ini suka baca kitab seperti apa? Tayangan-tayangan di Youtube seperti apa nan dia tonton? Kalau dia berbincang, konsep katanya seperti apa? Ketika dia berimajinasi, apalagi ketika bermimpi, temanya pun tentang apa? Jangan-jangan kita bakal menemukan adanya fantasi-fantasi kekerasan nan ada pada diri TH jika kita kajian objek-objek tadi itu,” ucap Reza.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com