Kaitan Konsumsi Makanan Instan (UPF) dengan Risiko Penurunan Fungsi Ginjal

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Kaitan Konsumsi Makanan Instan (UPF) dengan Risiko Penurunan Fungsi Ginjal Ilustrasi makanan instan.(Dok. Magnific)

MAKANAN instan kerap menjadi pilihan praktis dalam pola makan sehari-hari lantaran kemudahan penyajiannya. Namun, di kembali kepraktisan tersebut, konsumsi makanan ultra-proses (Ultra-Processed Food/UPF) nan terlalu sering dan berlebihan dapat berakibat pada kesehatan jangka panjang, termasuk akibat penurunan kegunaan ginjal.

Mengenal Makanan Ultra-Proses (UPF)

UPF merupakan produk pangan nan dihasilkan melalui serangkaian proses industri. Berbeda dengan makanan olahan sederhana nan hanya bermaksud memperpanjang masa simpan, UPF umumnya menggunakan beragam bahan tambahan seperti perasa, pewarna, pengemulsi, dan unsur aditif lainnya.

Berdasarkan sistem pengelompokkan makanan NOVA, golongan UPF mencakup beragam produk populer, antara lain:

  • Mi instan dan sup instan.
  • Makanan ringan bungkusan (camilan).
  • Minuman manis dan bersoda.
  • Sereal tertentu dan es krim.
  • Biskuit, kue, dan daging olahan.
  • Makanan siap saji (fast food).

Produk jenis ini condong mempunyai kandungan gula, lemak, dan natrium nan tinggi, namun sangat rendah serat serta nutrisi krusial lainnya nan dibutuhkan tubuh.

Kaitan dengan Penurunan Fungsi Ginjal

Sebuah kajian nan dilakukan oleh Kermani dkk. meninjau 33 studi nan melibatkan total 786.216 peserta untuk memandang hubungan antara konsumsi UPF dengan kesehatan ginjal. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa konsumsi UPF nan lebih tinggi berkorelasi dengan akibat penurunan kegunaan ginjal nan lebih besar.

Data penelitian mencatat bahwa setiap tambahan satu porsi UPF per hari berangkaian dengan peningkatan akibat penurunan kegunaan ginjal sebesar 5 persen. Salah satu aspek pemicu utamanya adalah kandungan natrium nan tinggi. Konsumsi natrium berlebih diketahui dapat memicu stres oksidatif dan meningkatkan pengeluaran protein melalui urine (proteinuria), nan merupakan parameter gangguan pada ginjal.

Sebagai contoh spesifik, satu balut mi instan dapat mengandung sekitar 60–80 persen dari pemisah harian garam nan dianjurkan. Tingginya kadar natrium ini menjadi peringatan serius jika mi instan dikonsumsi secara rutin dalam jangka waktu lama.

Kermani dkk. menegaskan bahwa temuan ini menunjukkan adanya hubungan (korelasi), bukan bukti bahwa UPF secara langsung menyebabkan gangguan ginjal (sebab-akibat). Karena penelitian ini berkarakter observasional, hasilnya perlu dipahami secara hati-hati sebagai corak kewaspadaan dalam mengatur pola makan.

Meskipun belum dapat disimpulkan sebagai penyebab langsung, membatasi konsumsi makanan ultra-proses dan beranjak ke bahan pangan segar tetap menjadi langkah preventif nan sangat dianjurkan untuk menjaga kesehatan ginjal dan kegunaan organ tubuh lainnya.

(National Library of Medicine, Halodoc/H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia