Di Forum Anggota BRICS, Menteri LH Tegaskan Isu Iklim Bukan Agenda Pinggiran

Sedang Trending 46 menit yang lalu

Jakarta -

Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat mengatakan pemerintah Indonesia menempatkan masalah lingkungan sebagai rumor penting. Jumhur menegaskan persoalan mengenai perubahan lingkungan bukan sebatas agenda pinggiran.

Hal itu disampaikan Jumhur saat menghadiri forum pertemuan menteri lingkungan negara-negara personil BRICS di New Delhi, India, Selasa (18/8/2026). Pertemuan ini diikuti 10 dari 11 negara personil BRICS.

Kegiatan aktivitas diawali dengan pernyataan dari Menteri Lingkungan, Kehutanan, dan Perubahan Iklim India Shri Bhupender Yadav. Pernyataan selanjutnya kemudian dilakukan oleh Jumhur Hidayat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam paparannya, Jumhur menengarai sekaligus prihatin ada negara maju dengan kekuatan ekonomi besar memilih mundur dari tanggung jawab kolektif mengatasi polusi dan perubahan iklim. Sementara di saat nan sama berat ekonomi mereka terus menyumbang sebagian besar emisi global.

Jumhur mengatakan Indonesia berada di garis depan penanganan perubahan iklim. Kondisi pengetahuan permukaan bumi Indonesia nan rentan terhadap perubahan iklim, kata Jumhur, membikin pemerintah tidak memandang remeh rumor tersebut.

"Oleh lantaran itu, bagi Indonesia, penyesuaian suasana bukanlah agenda pinggiran," kata Jumhur.

Menurut Jumhur, langkah kita mengelola sumber daya alam, membentuk lanskap, mencegah degradasi lingkungan, dan membangun ketahanan pada akhirnya bakal membentuk keberlanjutan pembangunan kita.

"Ini adalah pilar utama pembangunan berkepanjangan dan pengaman bagi kemakmuran nasional kita. Kita telah memberlakukan Rencana Adaptasi Nasional 2026-2030 sebagai peta jalan menuju Indonesia nan handal terhadap suasana dan sebagai support terhadap Visi Indonesia Emas 2045," ujar Jumhur.

Indonesia juga menggarisbawahi pentingnya melindungi keanekaragaman hayati, baik darat maupun laut, sebagai fondasi bagi ekosistem nan sehat, ketahanan iklim, dan pertumbuhan berkepanjangan jangka panjang.

Jumhur menjelaskan Indonesia merupakan rumah bagi salah satu keanekaragaman hayati terkaya di dunia, dengan lebih dari 300 ribu jenis nan diketahui, termasuk 9,7% tumbuhan berbunga di dunia, 14% mamalia, 18,6% burung, dan ekosistem laut Indonesia, nan terletak di jantung Segitiga Karang.

Letak Indonesia juga menjadi rumah bagi 23% rimba mangrove, 16% jenis ikan laut global, 10% jenis karang dunia, dan beberapa konsentrasi reptil dan mamalia laut tertinggi. Keanekaragaman hayati nan luar biasa ini mendukung jasa ekosistem nan krusial untuk mitigasi iklim, adaptasi, dan ketahanan jutaan mata pencaharian.

Dalam kesempatan itu, Jumhur memperkenalkan tiga model tradisional nan sukses dari Indonesia, ialah sistem irigasi Subak di Bali nan mengintegrasikan pengelolaan air, kerja sama masyarakat, dan praktik spiritual. Juga Sasi Lompa di Maluku, sistem tradisional untuk pengelolaan perikanan berkelanjutan, serta Awig-awig, sistem norma budaya nan digerakkan oleh masyarakat di Bali.

"Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa hidup selaras dengan alam bukan hanya warisan budaya, tetapi juga perangkat nan efektif untuk penyesuaian dan ketahanan iklim, khususnya dengan memperkuat pendekatan berbasis masyarakat untuk mengelola air, ekosistem, dan sumber daya alam dalam menghadapi akibat iklim," pungkas Jumhur.

(ygs/ygs)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News